Maghrib

Minggu, 18 Maret 2012


Maghrib,
penghulu matahari menarik diri
Mengawinkannya dengan senja ..
Dalam mega terpekur seorang-seorang saja

Suara-suara kereta dalam barisan hari ini terhenti
Segera sajak-sajak berkejar-kejar dengan angin
Gelombangnya memotong sejumlah potongan garis kota lalu mengaburkannya

Lalu dalam haru dan resahnya
musola kecil dalam kota besar
Bertubi-tubi memanggil-manggil
Sang kelana yang tak jua rehat dari perjalanannya

Jauh nian dalam pandangannya
Sebuah telaga dalam peta ..
Padahal telaga tengah pasang
Saat maghrib dimusola kecil kota besar

Pontianak,maghrib mengikat senja
Singgahlah dan raup air dalam telaga

Aku Jemu

bukan ia yang berdiri dengan setangkai bunga mawar disudut kota
Ia hanya penggoda buku-buku cinta
Yang tertumpu dibahunya kata-kata dan bayangan hidup penuh romansa

Aromamu polusi diselubung hunian
Terkontaminasi racun tercampur dalam pendek nafasku
Mau tak mau bukan tak mau tapi tak bisa tak mau
Aku menghirupmu
Seperti candu pada pil setan ..

Aku jemu
Tak dapat selesaikan pertarungan denganmu
Hah !! Ku katakan pertarungan tapi candu dibatinku
Seperti dendam canduku menggelora mengaduk-ngaduk seluruh bola-bola dalam hunianku
Ingin kurampas seluruh aromamu
Biar aku mati oleh racunmu

Aku jemu
Melihatmu dari bilik sepi seperti kedua bola matamu yang memenjarakanku
aku jemu
Menghirup aromamu saja di tempat kuletakkan kedua tanganku
Aku jemu
Kau lalu lalang kadang tak bergeming didepan mataku

Aku jemu
Serumpun daun hanya bicara dalam sepoi tentangmu
Tak ada lainkah ..
Mauku kau tinggal saja atau kau pergi saja
Tapi mauku tak bisa tidak

Maka aku jemu
Pada aromamu
Mencekikku tapi tak mati
Kau diselubung hunianku tak masuk tak juga pergi

Bidadari Bersayap Kupu-kupu

Selasa, 06 Maret 2012



jariku kaku tak dapat menggenggammu
lidahku kelu tak bisa bicara denganmu
mataku terlalu berat untuk dapat memandangmu
tapi fikiranku terpenjara olehmu ...

Lihatlah ...
Laut sedang pasang sayang
tidakkah kau sadari itu ...

Lihatlah ...
Pantaimu menghilang ...

Kau lihat seorang bidadari kecil disana
ia kepayahan karena hanya bersayap kupu-kupu
ia tak dapat pergi dari pasangnya lautmu
ia sadar sayapnya tak sanggup menopangnya untuk dapat pergi ...
air matanya yang menenggelamkan pantai ...
air matanya yang membuat lautmu pasang ...


tapi tahukah ...
bidadari kecil itu justru ingin tenggelam sedalam-dalamnya di lautmu
biarlah tak dapat lagi menyentuh awan
asal ia dapat sembunyi di kedalamanmu ...


Ia bidadari kecil bersayap kupu-kupu
ia bahkan menanggalkan sayapnya
dengan luka berdarah-darah
kulihat di wajahnya terkulum senyum kecil
yang tak dapat kumaknai ...

Esok tak ada lagi pantai
tak ada lagi bidadari kecil itu
bidadari bersayap kupu-kupu
hanya sepenggal cerita usang tak bernyawa

Maghrib

·


Maghrib,
penghulu matahari menarik diri
Mengawinkannya dengan senja ..
Dalam mega terpekur seorang-seorang saja

Suara-suara kereta dalam barisan hari ini terhenti
Segera sajak-sajak berkejar-kejar dengan angin
Gelombangnya memotong sejumlah potongan garis kota lalu mengaburkannya

Lalu dalam haru dan resahnya
musola kecil dalam kota besar
Bertubi-tubi memanggil-manggil
Sang kelana yang tak jua rehat dari perjalanannya

Jauh nian dalam pandangannya
Sebuah telaga dalam peta ..
Padahal telaga tengah pasang
Saat maghrib dimusola kecil kota besar

Pontianak,maghrib mengikat senja
Singgahlah dan raup air dalam telaga

Aku Jemu

·

bukan ia yang berdiri dengan setangkai bunga mawar disudut kota
Ia hanya penggoda buku-buku cinta
Yang tertumpu dibahunya kata-kata dan bayangan hidup penuh romansa

Aromamu polusi diselubung hunian
Terkontaminasi racun tercampur dalam pendek nafasku
Mau tak mau bukan tak mau tapi tak bisa tak mau
Aku menghirupmu
Seperti candu pada pil setan ..

Aku jemu
Tak dapat selesaikan pertarungan denganmu
Hah !! Ku katakan pertarungan tapi candu dibatinku
Seperti dendam canduku menggelora mengaduk-ngaduk seluruh bola-bola dalam hunianku
Ingin kurampas seluruh aromamu
Biar aku mati oleh racunmu

Aku jemu
Melihatmu dari bilik sepi seperti kedua bola matamu yang memenjarakanku
aku jemu
Menghirup aromamu saja di tempat kuletakkan kedua tanganku
Aku jemu
Kau lalu lalang kadang tak bergeming didepan mataku

Aku jemu
Serumpun daun hanya bicara dalam sepoi tentangmu
Tak ada lainkah ..
Mauku kau tinggal saja atau kau pergi saja
Tapi mauku tak bisa tidak

Maka aku jemu
Pada aromamu
Mencekikku tapi tak mati
Kau diselubung hunianku tak masuk tak juga pergi

Bidadari Bersayap Kupu-kupu

·



jariku kaku tak dapat menggenggammu
lidahku kelu tak bisa bicara denganmu
mataku terlalu berat untuk dapat memandangmu
tapi fikiranku terpenjara olehmu ...

Lihatlah ...
Laut sedang pasang sayang
tidakkah kau sadari itu ...

Lihatlah ...
Pantaimu menghilang ...

Kau lihat seorang bidadari kecil disana
ia kepayahan karena hanya bersayap kupu-kupu
ia tak dapat pergi dari pasangnya lautmu
ia sadar sayapnya tak sanggup menopangnya untuk dapat pergi ...
air matanya yang menenggelamkan pantai ...
air matanya yang membuat lautmu pasang ...


tapi tahukah ...
bidadari kecil itu justru ingin tenggelam sedalam-dalamnya di lautmu
biarlah tak dapat lagi menyentuh awan
asal ia dapat sembunyi di kedalamanmu ...


Ia bidadari kecil bersayap kupu-kupu
ia bahkan menanggalkan sayapnya
dengan luka berdarah-darah
kulihat di wajahnya terkulum senyum kecil
yang tak dapat kumaknai ...

Esok tak ada lagi pantai
tak ada lagi bidadari kecil itu
bidadari bersayap kupu-kupu
hanya sepenggal cerita usang tak bernyawa

Minggu, 18 Maret 2012

Maghrib



Maghrib,
penghulu matahari menarik diri
Mengawinkannya dengan senja ..
Dalam mega terpekur seorang-seorang saja

Suara-suara kereta dalam barisan hari ini terhenti
Segera sajak-sajak berkejar-kejar dengan angin
Gelombangnya memotong sejumlah potongan garis kota lalu mengaburkannya

Lalu dalam haru dan resahnya
musola kecil dalam kota besar
Bertubi-tubi memanggil-manggil
Sang kelana yang tak jua rehat dari perjalanannya

Jauh nian dalam pandangannya
Sebuah telaga dalam peta ..
Padahal telaga tengah pasang
Saat maghrib dimusola kecil kota besar

Pontianak,maghrib mengikat senja
Singgahlah dan raup air dalam telaga

Aku Jemu


bukan ia yang berdiri dengan setangkai bunga mawar disudut kota
Ia hanya penggoda buku-buku cinta
Yang tertumpu dibahunya kata-kata dan bayangan hidup penuh romansa

Aromamu polusi diselubung hunian
Terkontaminasi racun tercampur dalam pendek nafasku
Mau tak mau bukan tak mau tapi tak bisa tak mau
Aku menghirupmu
Seperti candu pada pil setan ..

Aku jemu
Tak dapat selesaikan pertarungan denganmu
Hah !! Ku katakan pertarungan tapi candu dibatinku
Seperti dendam canduku menggelora mengaduk-ngaduk seluruh bola-bola dalam hunianku
Ingin kurampas seluruh aromamu
Biar aku mati oleh racunmu

Aku jemu
Melihatmu dari bilik sepi seperti kedua bola matamu yang memenjarakanku
aku jemu
Menghirup aromamu saja di tempat kuletakkan kedua tanganku
Aku jemu
Kau lalu lalang kadang tak bergeming didepan mataku

Aku jemu
Serumpun daun hanya bicara dalam sepoi tentangmu
Tak ada lainkah ..
Mauku kau tinggal saja atau kau pergi saja
Tapi mauku tak bisa tidak

Maka aku jemu
Pada aromamu
Mencekikku tapi tak mati
Kau diselubung hunianku tak masuk tak juga pergi

Selasa, 06 Maret 2012

Bidadari Bersayap Kupu-kupu




jariku kaku tak dapat menggenggammu
lidahku kelu tak bisa bicara denganmu
mataku terlalu berat untuk dapat memandangmu
tapi fikiranku terpenjara olehmu ...

Lihatlah ...
Laut sedang pasang sayang
tidakkah kau sadari itu ...

Lihatlah ...
Pantaimu menghilang ...

Kau lihat seorang bidadari kecil disana
ia kepayahan karena hanya bersayap kupu-kupu
ia tak dapat pergi dari pasangnya lautmu
ia sadar sayapnya tak sanggup menopangnya untuk dapat pergi ...
air matanya yang menenggelamkan pantai ...
air matanya yang membuat lautmu pasang ...


tapi tahukah ...
bidadari kecil itu justru ingin tenggelam sedalam-dalamnya di lautmu
biarlah tak dapat lagi menyentuh awan
asal ia dapat sembunyi di kedalamanmu ...


Ia bidadari kecil bersayap kupu-kupu
ia bahkan menanggalkan sayapnya
dengan luka berdarah-darah
kulihat di wajahnya terkulum senyum kecil
yang tak dapat kumaknai ...

Esok tak ada lagi pantai
tak ada lagi bidadari kecil itu
bidadari bersayap kupu-kupu
hanya sepenggal cerita usang tak bernyawa