Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Sekeping Cinta Yang Tertinggal

Rabu, 05 Juni 2013




Andai dapat aku menangkap angin
Akan kutanamkan untukmu
Andai dapat kusapu awan
Akan kukantongkan untukmu
            Aku melihat engkau bersanding pelangi
            Ternyata aku memilihmu
Aku melihat engkau mengiring matahari
            Ternyata aku memilihmu
Aku menatap matamu dan aku hidup
Aku memeluk kesetiaanmu dan aku berjiwa
Kita berdua t`lah mengarungi kekasih langit
Sambil membimbing senja menemui malam
            Apakah kau mendengar saat aku bertanya
            Kekasih, apakah engkau adalah tuan mantra-mantra
            Karena aku melihat mawar-mawar t`lah mekar
            Engkau hanya menatapku dan menggandeng kisahku
Tetapi malam membawamu pergi dariku
Ku titipkan engkau pada angin yang ku tanamkan untukmu
Ku titipkan engkau pada awan yang ku kantongkan untukmu
Ku titipkan engkau pada mawar-mawar yang t`lah mekar untukmu
            Malam t`lah membunuh semua kisahku
            Aku tercekik hidup dalam malam-malam panjang
            Sesak nafas aku terseok-seok mencari dirimu
            Kekasih, kemanakah malam t`lah menghalang
Angin t`lah megkhianati kita
Awan t`lah membawamu pergi bersama malam
Dan mawar tak lagi mekar untukmu
Hanya sekeping cinta yang tertinggal
            Kekasihku, maukah kau menjemputku
            Mengarungi jendela-jendela yang belum kita temui
            Ataukah ku temui perapian
            Dan ku persembahkan sekeping cinta yang tertinggal

Akulah Sang Rembulan




Aku adalah sang rembulan
Yang jatuh cinta pada matahari
Tek pernah mengerti akan kenyataan
Bahwa rembulan dan matahari adalah bukan harapan
Dimanakah siang dan malam dapat bertemu
Tak pernah dan mungkinkah?
Aku adalah rembulan yang terkungkung rindu
Bermimpi berkasih dengan matahari, mungkinkah?
Aku adalah rembulan yang datang saat matahari berpulang
Tak ada sisa bagiku selain kenyataan dan kepedihan
Andai rembulan adalah tanah bermusim
Maka aku tlah tandus menanti
Andai bintang dan langit bertanya
Mengapa aku mencintai matahari
Adalah jawabku dengan kekosongan
Aku tlah tertakdir menggulung hati merindu-rindu matahari
Aku menjawab tetapi hening
Aku adalah rembulan yang sendiri
Takdir telah meninggalkanku
Membenamku dalam tanah asing
Andai aku mampu menyebrangi malam
Menemui siang dan senja
Berdua menggandeng matahari berpulang
Mengiringinya menembus lautan
Maka biarlah aku menjadi rembulan yang sendiri
Biarkanlah aku tak berjodoh dengan matahari
Karena aku rembulan yang telah mati
Mati dikubur oleh cinta dan hidup
Aku tlah memutuskan mati dalam hidup dan hidup dalam kematian
Karena akulah rembulan yang terbakar matahari tetapi tenggelam
Akulah rembulan yang pucat pasi
Mencintai matahari yang tak dapat ku tatap sendiri
Mana aku mengerti jika semua bertanya mengapa
Tentang cinta sang rembulan pada matahari
Karena akulah sang rembulan yang sendiri
Hanya mencintai, rindu dan mati

Catatan Kekosongan

Sabtu, 25 Mei 2013


Lama siang dan malam bergulir
sementara setiap detik tengah menguliti jiwaku
aku adalah kertas yang terbakar
sekejap menjadi bara lalu sekejap menjadi abu

Ini bukan puisi
hanya sisa-sisa kekosongan yang merongrong
aku tak tahu kemana semua menghilang
lagipula tak lagi seorangpun disini
dan lagi tentu siapa yang begitu rela perduli

aku bermimpi aku adalah sepotong puzzle
tapi tak bertemu siapapun untuk dipadu
nyatalah kemanapun aku adalah kekosongan
mimpi pun mengaku

aku hanyalah kekosongan
tak berkawan terus ditinggalkan
aku adalah kekosongan
kebahagiaan melirik padaku pun tidak
terus ditinggalkan
aku adalah kekosongan
dimana tak seorangpun menginginkannya
aku adalah kekosongan yang menyerahkan diri pada hidup dan kematian

Aku, Kau dan Waktu

Rabu, 08 Mei 2013

Aku tidak pernah tahu bagaimana waktu menjadikanku manusia
aku tidak pernah mengerti bagaimana waktu menghantarkanku padamu 
waktu sepertinya selalu adil pada setiap kakinya ...
tidak pernah jatuh dan terjerembab ...

aku mengasihimu seperti waktu mengajariku ...
lalu waktu tidak mengizinkanku lupa tentang ajarannya ...
aku ingin membelinya dan ku kirimkan untukmu ...
ternyata ia ajarkan padaku keabadian yang tiada ...

aku termangu lalu meraung-raung ...
waktu telah merenggut warasku ...
aku menangis tak dapat membelinya ...
tak tahukah ia aku membutuhkannya untukmu ...

dentangnya menggelisahkanku ...
tentang pertanyaan-pertanyaanku padamu ...
aku tlah mencintaimu bersama waktu ...
tidak pernah sadar aku sudah jauh di tempatmu ...

dan waktu sekali lagi tidak mengizinkan aku kembali ...
tak mengertikah ia aku ingin menggenggam tanganmu ...
betapa keras waktu mengajariku tentang kesabaran ...
bagaimana engkau menghadapinya?

aku tlah lelah dengan tingkahnya ...
tapi aku teramat rindu pada iramamu ...
bagaimana aku menolaknya ...
aku tak tahu ...

aku tanpa sadar mencintai kalian berdua ...
kau dan waktu ...
teramat banyak kau dan waktu mengambilku ...
tak tersisa aku ...

aku tak dapat memilih antara kau dan waktu ...
aku mencintai kau dan waktu seperti bunga pada air dan matahari
aku merindukan kau dan waktu seperti mencekik diri sendiri ...
tapi tak mati dan tersakit-sakit sendiri ...

aku akan memberikan waktu untukmu ...
aku lelah mencintainya ...
aku ingin denganmu lebih lama ...
maukah kah bernegosiasi padanya?

aku ingin seutuhnya memandangmu tanpa lensa yang menyiksa ...
aku ingin menggenggam tanganmu tanpa takut gelap tiba ...
aku ingin bertemu denganmu lebih lama ...
hidup denganmu bersama waktu lebih lama ... 

Selamat Malam Gelap

Sabtu, 02 Februari 2013


Selamat malam gelap ...
aku belum tertidur, dan pangkuanmu demikian kosong, menawarkan malam-malam sunyi
melumuri memar-memar di lubuk rahasiaku, bahkan gelap menjamahnya
aku lupa kau yang meracuniku dengan bisikanmu...
Oh oh ...
aku seperti tengah menggendong kelabunya dirimu ...
belantara pun seakan menggigitku, mengusirku dari rumah mereka ...
Aku tidak menangis, jangan kau harap demikian ...

Selamat malam gelap ...
aku belum tertidur, berjaga di atas kelam menyertaimu ...
langit sudah menutup pintu-pintunya, sampai aku menyingkir dari penjagaan itu ...
aku terengah-engah habis terkuras takut, beraniku terlempar ke semak-semak ...
dimakan akar-akar kenistaan ...
Aku bernyawa, belum mau mati ...
mendendangkan nyanyian tentang terang yang tersisa dan bersembunyi ...

Selamat malam gelap ...
aku belum tertidur, menunggu terang ...
karena malam mengikatku di tubir-tubir terakhir dunia itu ...
melarangku mencari terang ...
selamat malam gelap ...
segera aku sadar, terang tidak menjadi berani melawanmu ...
dan aku ...
aku belum tertidur ...
Suka · · · Promosikan ·

Omong Kosong


Peduli apa kau pada tanah yang mengering???
bukan kemudian kau menyiraminya dengan halusmu!
sama sekali omong kosong!
Lalu apa yang kau tahu tentang daratan yang sesak nafas?
apa kau menanami kebun-kebun buah di atasnya?
Muak aku kau bicara begini begitu
sama saja
Aku tidak pernah melihat engkau kering kerontang karena tanah telah meretak!
tidak sama sebagaimana penderitaan meretakkan pijakan
Tidak akan pernah sama kurasa,
membual saja kau tentang sajak-sajak penuh kebohongan itu
bernyanyi-nyanyi sedu sedan di hadapanku meneteskan air mata
Hah!
tertawa aku, enggan tapi mau, bagaimanakah?
mana pula aku mengerti, sudah kubuang semua jenis pengertian dalam otakku
aku tak mau mengerti lagi, lagipula perlukah?
Omong kosong!
Puih!
ingin kuludahi saja kekosongan itu kalau saja aku bisa
tidak berguna pun ku lakukan sebagaimana omong kosong
kau yang dirajai omong kosong biar kutebas lehermu darinya, bisakah kau bayangkan?
Sajak macam apa yang sudah kau buat, sama buruknya dengan sajak-sajakku yang menggelegak penuh benci
seperti kedalaman tanah yang membara tanpa pernah kau lihat
Sudah kuputuskan,
semua hanya omong kosong...

Maka Biarlah Cinta Menjadi Cinta

Rabu, 02 Januari 2013


Aku menjadi saksi atas senja yang merunduk …
Membiarkan lembayung menggodaku untuk bersandar …
Di bahumu yang tangguh menopangku …
Dan senja perlahan takluk pada harummu …

Sederet angan kita yang saling mengembara …
Melukis siluet di jeda kedipan matamu …
Atau masih ingatkah sedetik lalu ceritamu tentang sekotak rahasia?
Ada bara di dalamnya dan hujan tak berkesudahan …

Siapa dapat mengerti …
Hanya fahami Tuhan adalah Tuhan …
Terpekur kita berdua …
Dalam cinta yang Tuhan ajarkan …

Dan saat hujan menenggelamkan senja…
Dua bola matamu masih tergugah …
Dan aku meneriaki gerimis …
Meminta diri hanyut dikedalamanmu …

Aku benar tentang sekotak rahasia …
Hanya fahami Tuhan adalah Tuhan …
Maka biarlah cinta menjadi cinta …
Tetaplah menjadi ajaran Tuhan …

Maka lambayung sebelum hujan kembali …
Telah pergi mengawinkan senja dengan siluet di matamu …
Kau dan aku saling menukar gersang …
Lalu senja bernyanyi tentang cinta …

Harmoni senja yang meliuk-liuk …
Meneropong langit kala siluet bersembunyi
Sebelum dan sesudahnya …
Tetaplah senja bernyanyi tentang kita …

Bukan hujan tak berkesudahan …
Tapi menyerahkan lirik pada Tuhan …
Biar di tangannya lirik senja tergubah …
Lalu kau dan aku terpekur …
Hanya fahami Tuhan adalah Tuhan …
Maka biarlah cinta menjadi cinta…

Maghrib

Jumat, 02 November 2012

maghrib,
penghulu matahari menarik diri
Mengawinkannya dengan senja ..
Dalam mega terpekur seorang-seorang saja

Suara-suara kereta dalam barisan hari ini terhenti
Segera sajak-sajak berkejar-kejar dengan angin
Gelombangnya memotong sejumlah potongan garis kota lalu mengaburkannya

Lalu dalam haru dan resahnya
musola kecil dalam kota besar
Bertubi-tubi memanggil-manggil
Sang kelana yang tak jua rehat dari perjalanannya

Jauh nian dalam pandangannya
Sebuah telaga dalam peta ..
Padahal telaga tengah pasang
Saat maghrib dimusola kecil kota besar

Pontianak,maghrib mengikat senja
Singgahlah dan raup air dalam telaga

Tak mudah menjadi aku

Selasa, 30 Oktober 2012

Kau ...
dengarlah sedikit suaraku yang patah-patah ini ...
sambil tersenyum harapku tapi tidak kemudian ...
karena tiba-tiba di penghujung ucapanku ...
aku merasa terhuyung ...

aku belum bertanya pada Tuhan ...
apakah telah ia mengajarimu ...
arti siapapun dalam masa hidupmu

tiba-tiba merasa aku terlempar di lautan ...
tergulung ombak...
kau tinggalkan ...

Oh ...
tak mudah menjadi aku ini ...
kau, tak dengarkah?
tak bisa binasa semua catatan usangku
sakit mengarungi lautan besar ini sendiri ...
setelah dulu setengah kau yang ajari aku lautan ...

tak mudah menjadi aku ...
coba saja gantikan dudukmu disini ...
tidak, tidak kau juga akan bilang ...
tak mudah menjadi aku ...

sempurna ...
indahmu sempurna ...
sampai kini pun segala telah sempurna ...
dan aku lunglai karena sakit itu pun terasa sempurna ...
demikian ku kata tak mudah menjadi aku ...

Jendela Kunang-kunang

Senin, 17 September 2012

Kunang-kunang
Ku sambangi jendelamu
sambil kuraba dinding yang kusam di hadapku
ku letakkan satu-satu kunang-kunang di jendelamu
biar kau tak gelap saat duduk memandangku

Aku merana saat pagi
Kunang-kunang terbang pergi atau bersembunyi
dan kau tak ada di jendelamu
rindu ...

Aku ingin menembus dinding istanamu yang tinggi
Biar setiap hari kutaruh kunang-kunang di tanganmu
Tidak untuk apapun ...
Hanya untuk binar matamu ..

masih ku ingat mata pertamamu ...
pertama kali jeda mempertemukan kita berdua
dan kunang-kunang hinggap di jendelamu
Kau jatuh cinta dan aku pula ...
pada kunang-kunang mungkin atau pada kita berdua

Kunang-kunang tak datang bersama matahari
atau kau tak tahu
dan ku ajari engkau persahabatan dengannya
agar malam ini ia datang kembali padamu
dan mengulang kembali jeda pertama kita bertemu ...

Setangkai Mawar Merah

Minggu, 16 September 2012

Aku mau jadi setangkai mawar merah
biar bisa kau simpan dikamarmu hingga layu
Aku mau jadi setangkai mawar merah ...
biar membusuk di tong sampahmu ...

Aku mau jadi setangkai mawar merah ...
yang saat kau petik aku sakit tapi lalu mati
aku mau jadi setangkai mawar merah ...
yang bila layu kau buang tapi aku mati ...

Aku mau jadi setangkai mawar merah
tidak menangis saat kau petik
tidak menangis saat kau buang
tidak menangis saat kelopakku layu
tidak menangis saat membusuk ...
karena sebelum aku bersiap aku telah mati

Biar saja taman kini gersang menjadi gurun
mungkin pun mawarmu telah terkubur dalam-dalam
pilu dan membusuk
tapi biarlah mawarmu sudah mati
dalam mimpi pun tidak lagi ia harum
dalam khayal pun tidak lagi ia dalam vas di meja kamarmu ...

malam-malam yang kau tunjuk
kemarin dan saat ini ...
tidak seorang pun merenggutnya ...
hanya aku menggigit bibir
dengan batin amat sesak
kembali lagi di batu-batu ...
menunggu ...
menunggu ...
setangkai mawar merah sekali lagi di taman itu

PURNAMA TERAKHIR

Jumat, 14 September 2012


Wahai purnama …
Yang lalu lalang kemarin bersama desing peluru malam pusaka
Wahai purnama …
Sepikah rumah-rumah yang koyak malam itu?
Wahai purnama …
Adakah kau saksikan kelahiran putra pertiwi dalam selimutmu?

Sudah ku tunggu …
Puluhan purnama dalam tahun-tahun yang muram …
Hingga esok purnama berakhir aku menunggu …
Saat aku bersaksi tentang Negeri para petani yang miskin …
Tentang Negeri para buruh yang nestapa …
Tentang anak-anak yang kehilangan suka dalam buku-buku masa depannya

Sudahkah kau berbincang dengan pungguk yang seakan mati …
Pura-pura ingin padahal tak ingin ..
Katanya bernyanyi tentang Indonesia ....
Dalam panggung-panggung yang digotong terpincang-pincang …
Katanya pula seperti Purnama terakhir baginya Indonesia

Hey Engkau!
Sudahkah kau saksikan puisi malam itu
Oleh angin dan hujan yang menghujam
Atau api yang membakar kamar-kamar tuanmu …

Hey engkau !
Kubaca tulisan-tulisan usang dibalik kacamatamu
Jangan berteriak!
Jangan teriakkan kemerdekaan itu!
Waktu anak menangis di kakimu
Menjerit dalam rumah-rumah tanpa jendela

Sudah ku simpan seikat pusaka
Merah putih namanya …
Biar aku ajarkan padamu tentang kemuliaan
Tentang Merah dan Putih
Tentang tanah ini …

Tapi kaukah itu?
Yang memeluk anak-anak tanpa Ayah dan Ibu dengan tanganmu?
Tapi kaukah itu?
Yang menyirami tanah petani dengan tanganmu?

Ahhhhhhhhhhh
Aku menunggu sampai mati!
Sampai tak ada lagi api!
Sampai purnama kemarau menanti

Tak ada sesiapa yang suka membuka pintu untuk kami
Kaupun pemuda dari Negeriku bergeming, atau mati!
Mana ku tahu!
Mana aku mengerti!

Esok purnama terakhir…
Kau saksikan sendiri penderitaan Negerimu
Mati atau hapus air mata pertiwi

Lalu teriakkanlah tentang masa depan bangsamu
Teriakkan jeritan anak-anak jalanan didadamu
Bawa serta perjuanganmu!
Biar ku berikan lilin ini untuk kau sambut kawanmu nanti
Nyalakan lilinmu!
Nyalakan lilinmu!
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Sekeping Cinta Yang Tertinggal

·




Andai dapat aku menangkap angin
Akan kutanamkan untukmu
Andai dapat kusapu awan
Akan kukantongkan untukmu
            Aku melihat engkau bersanding pelangi
            Ternyata aku memilihmu
Aku melihat engkau mengiring matahari
            Ternyata aku memilihmu
Aku menatap matamu dan aku hidup
Aku memeluk kesetiaanmu dan aku berjiwa
Kita berdua t`lah mengarungi kekasih langit
Sambil membimbing senja menemui malam
            Apakah kau mendengar saat aku bertanya
            Kekasih, apakah engkau adalah tuan mantra-mantra
            Karena aku melihat mawar-mawar t`lah mekar
            Engkau hanya menatapku dan menggandeng kisahku
Tetapi malam membawamu pergi dariku
Ku titipkan engkau pada angin yang ku tanamkan untukmu
Ku titipkan engkau pada awan yang ku kantongkan untukmu
Ku titipkan engkau pada mawar-mawar yang t`lah mekar untukmu
            Malam t`lah membunuh semua kisahku
            Aku tercekik hidup dalam malam-malam panjang
            Sesak nafas aku terseok-seok mencari dirimu
            Kekasih, kemanakah malam t`lah menghalang
Angin t`lah megkhianati kita
Awan t`lah membawamu pergi bersama malam
Dan mawar tak lagi mekar untukmu
Hanya sekeping cinta yang tertinggal
            Kekasihku, maukah kau menjemputku
            Mengarungi jendela-jendela yang belum kita temui
            Ataukah ku temui perapian
            Dan ku persembahkan sekeping cinta yang tertinggal

Akulah Sang Rembulan

·




Aku adalah sang rembulan
Yang jatuh cinta pada matahari
Tek pernah mengerti akan kenyataan
Bahwa rembulan dan matahari adalah bukan harapan
Dimanakah siang dan malam dapat bertemu
Tak pernah dan mungkinkah?
Aku adalah rembulan yang terkungkung rindu
Bermimpi berkasih dengan matahari, mungkinkah?
Aku adalah rembulan yang datang saat matahari berpulang
Tak ada sisa bagiku selain kenyataan dan kepedihan
Andai rembulan adalah tanah bermusim
Maka aku tlah tandus menanti
Andai bintang dan langit bertanya
Mengapa aku mencintai matahari
Adalah jawabku dengan kekosongan
Aku tlah tertakdir menggulung hati merindu-rindu matahari
Aku menjawab tetapi hening
Aku adalah rembulan yang sendiri
Takdir telah meninggalkanku
Membenamku dalam tanah asing
Andai aku mampu menyebrangi malam
Menemui siang dan senja
Berdua menggandeng matahari berpulang
Mengiringinya menembus lautan
Maka biarlah aku menjadi rembulan yang sendiri
Biarkanlah aku tak berjodoh dengan matahari
Karena aku rembulan yang telah mati
Mati dikubur oleh cinta dan hidup
Aku tlah memutuskan mati dalam hidup dan hidup dalam kematian
Karena akulah rembulan yang terbakar matahari tetapi tenggelam
Akulah rembulan yang pucat pasi
Mencintai matahari yang tak dapat ku tatap sendiri
Mana aku mengerti jika semua bertanya mengapa
Tentang cinta sang rembulan pada matahari
Karena akulah sang rembulan yang sendiri
Hanya mencintai, rindu dan mati

Catatan Kekosongan

·


Lama siang dan malam bergulir
sementara setiap detik tengah menguliti jiwaku
aku adalah kertas yang terbakar
sekejap menjadi bara lalu sekejap menjadi abu

Ini bukan puisi
hanya sisa-sisa kekosongan yang merongrong
aku tak tahu kemana semua menghilang
lagipula tak lagi seorangpun disini
dan lagi tentu siapa yang begitu rela perduli

aku bermimpi aku adalah sepotong puzzle
tapi tak bertemu siapapun untuk dipadu
nyatalah kemanapun aku adalah kekosongan
mimpi pun mengaku

aku hanyalah kekosongan
tak berkawan terus ditinggalkan
aku adalah kekosongan
kebahagiaan melirik padaku pun tidak
terus ditinggalkan
aku adalah kekosongan
dimana tak seorangpun menginginkannya
aku adalah kekosongan yang menyerahkan diri pada hidup dan kematian

Aku, Kau dan Waktu

·

Aku tidak pernah tahu bagaimana waktu menjadikanku manusia
aku tidak pernah mengerti bagaimana waktu menghantarkanku padamu 
waktu sepertinya selalu adil pada setiap kakinya ...
tidak pernah jatuh dan terjerembab ...

aku mengasihimu seperti waktu mengajariku ...
lalu waktu tidak mengizinkanku lupa tentang ajarannya ...
aku ingin membelinya dan ku kirimkan untukmu ...
ternyata ia ajarkan padaku keabadian yang tiada ...

aku termangu lalu meraung-raung ...
waktu telah merenggut warasku ...
aku menangis tak dapat membelinya ...
tak tahukah ia aku membutuhkannya untukmu ...

dentangnya menggelisahkanku ...
tentang pertanyaan-pertanyaanku padamu ...
aku tlah mencintaimu bersama waktu ...
tidak pernah sadar aku sudah jauh di tempatmu ...

dan waktu sekali lagi tidak mengizinkan aku kembali ...
tak mengertikah ia aku ingin menggenggam tanganmu ...
betapa keras waktu mengajariku tentang kesabaran ...
bagaimana engkau menghadapinya?

aku tlah lelah dengan tingkahnya ...
tapi aku teramat rindu pada iramamu ...
bagaimana aku menolaknya ...
aku tak tahu ...

aku tanpa sadar mencintai kalian berdua ...
kau dan waktu ...
teramat banyak kau dan waktu mengambilku ...
tak tersisa aku ...

aku tak dapat memilih antara kau dan waktu ...
aku mencintai kau dan waktu seperti bunga pada air dan matahari
aku merindukan kau dan waktu seperti mencekik diri sendiri ...
tapi tak mati dan tersakit-sakit sendiri ...

aku akan memberikan waktu untukmu ...
aku lelah mencintainya ...
aku ingin denganmu lebih lama ...
maukah kah bernegosiasi padanya?

aku ingin seutuhnya memandangmu tanpa lensa yang menyiksa ...
aku ingin menggenggam tanganmu tanpa takut gelap tiba ...
aku ingin bertemu denganmu lebih lama ...
hidup denganmu bersama waktu lebih lama ... 

Selamat Malam Gelap

·


Selamat malam gelap ...
aku belum tertidur, dan pangkuanmu demikian kosong, menawarkan malam-malam sunyi
melumuri memar-memar di lubuk rahasiaku, bahkan gelap menjamahnya
aku lupa kau yang meracuniku dengan bisikanmu...
Oh oh ...
aku seperti tengah menggendong kelabunya dirimu ...
belantara pun seakan menggigitku, mengusirku dari rumah mereka ...
Aku tidak menangis, jangan kau harap demikian ...

Selamat malam gelap ...
aku belum tertidur, berjaga di atas kelam menyertaimu ...
langit sudah menutup pintu-pintunya, sampai aku menyingkir dari penjagaan itu ...
aku terengah-engah habis terkuras takut, beraniku terlempar ke semak-semak ...
dimakan akar-akar kenistaan ...
Aku bernyawa, belum mau mati ...
mendendangkan nyanyian tentang terang yang tersisa dan bersembunyi ...

Selamat malam gelap ...
aku belum tertidur, menunggu terang ...
karena malam mengikatku di tubir-tubir terakhir dunia itu ...
melarangku mencari terang ...
selamat malam gelap ...
segera aku sadar, terang tidak menjadi berani melawanmu ...
dan aku ...
aku belum tertidur ...
Suka · · · Promosikan ·

Omong Kosong

·


Peduli apa kau pada tanah yang mengering???
bukan kemudian kau menyiraminya dengan halusmu!
sama sekali omong kosong!
Lalu apa yang kau tahu tentang daratan yang sesak nafas?
apa kau menanami kebun-kebun buah di atasnya?
Muak aku kau bicara begini begitu
sama saja
Aku tidak pernah melihat engkau kering kerontang karena tanah telah meretak!
tidak sama sebagaimana penderitaan meretakkan pijakan
Tidak akan pernah sama kurasa,
membual saja kau tentang sajak-sajak penuh kebohongan itu
bernyanyi-nyanyi sedu sedan di hadapanku meneteskan air mata
Hah!
tertawa aku, enggan tapi mau, bagaimanakah?
mana pula aku mengerti, sudah kubuang semua jenis pengertian dalam otakku
aku tak mau mengerti lagi, lagipula perlukah?
Omong kosong!
Puih!
ingin kuludahi saja kekosongan itu kalau saja aku bisa
tidak berguna pun ku lakukan sebagaimana omong kosong
kau yang dirajai omong kosong biar kutebas lehermu darinya, bisakah kau bayangkan?
Sajak macam apa yang sudah kau buat, sama buruknya dengan sajak-sajakku yang menggelegak penuh benci
seperti kedalaman tanah yang membara tanpa pernah kau lihat
Sudah kuputuskan,
semua hanya omong kosong...

Maka Biarlah Cinta Menjadi Cinta

·


Aku menjadi saksi atas senja yang merunduk …
Membiarkan lembayung menggodaku untuk bersandar …
Di bahumu yang tangguh menopangku …
Dan senja perlahan takluk pada harummu …

Sederet angan kita yang saling mengembara …
Melukis siluet di jeda kedipan matamu …
Atau masih ingatkah sedetik lalu ceritamu tentang sekotak rahasia?
Ada bara di dalamnya dan hujan tak berkesudahan …

Siapa dapat mengerti …
Hanya fahami Tuhan adalah Tuhan …
Terpekur kita berdua …
Dalam cinta yang Tuhan ajarkan …

Dan saat hujan menenggelamkan senja…
Dua bola matamu masih tergugah …
Dan aku meneriaki gerimis …
Meminta diri hanyut dikedalamanmu …

Aku benar tentang sekotak rahasia …
Hanya fahami Tuhan adalah Tuhan …
Maka biarlah cinta menjadi cinta …
Tetaplah menjadi ajaran Tuhan …

Maka lambayung sebelum hujan kembali …
Telah pergi mengawinkan senja dengan siluet di matamu …
Kau dan aku saling menukar gersang …
Lalu senja bernyanyi tentang cinta …

Harmoni senja yang meliuk-liuk …
Meneropong langit kala siluet bersembunyi
Sebelum dan sesudahnya …
Tetaplah senja bernyanyi tentang kita …

Bukan hujan tak berkesudahan …
Tapi menyerahkan lirik pada Tuhan …
Biar di tangannya lirik senja tergubah …
Lalu kau dan aku terpekur …
Hanya fahami Tuhan adalah Tuhan …
Maka biarlah cinta menjadi cinta…

Maghrib

·

maghrib,
penghulu matahari menarik diri
Mengawinkannya dengan senja ..
Dalam mega terpekur seorang-seorang saja

Suara-suara kereta dalam barisan hari ini terhenti
Segera sajak-sajak berkejar-kejar dengan angin
Gelombangnya memotong sejumlah potongan garis kota lalu mengaburkannya

Lalu dalam haru dan resahnya
musola kecil dalam kota besar
Bertubi-tubi memanggil-manggil
Sang kelana yang tak jua rehat dari perjalanannya

Jauh nian dalam pandangannya
Sebuah telaga dalam peta ..
Padahal telaga tengah pasang
Saat maghrib dimusola kecil kota besar

Pontianak,maghrib mengikat senja
Singgahlah dan raup air dalam telaga

Tak mudah menjadi aku

·

Kau ...
dengarlah sedikit suaraku yang patah-patah ini ...
sambil tersenyum harapku tapi tidak kemudian ...
karena tiba-tiba di penghujung ucapanku ...
aku merasa terhuyung ...

aku belum bertanya pada Tuhan ...
apakah telah ia mengajarimu ...
arti siapapun dalam masa hidupmu

tiba-tiba merasa aku terlempar di lautan ...
tergulung ombak...
kau tinggalkan ...

Oh ...
tak mudah menjadi aku ini ...
kau, tak dengarkah?
tak bisa binasa semua catatan usangku
sakit mengarungi lautan besar ini sendiri ...
setelah dulu setengah kau yang ajari aku lautan ...

tak mudah menjadi aku ...
coba saja gantikan dudukmu disini ...
tidak, tidak kau juga akan bilang ...
tak mudah menjadi aku ...

sempurna ...
indahmu sempurna ...
sampai kini pun segala telah sempurna ...
dan aku lunglai karena sakit itu pun terasa sempurna ...
demikian ku kata tak mudah menjadi aku ...

Jendela Kunang-kunang

·

Kunang-kunang
Ku sambangi jendelamu
sambil kuraba dinding yang kusam di hadapku
ku letakkan satu-satu kunang-kunang di jendelamu
biar kau tak gelap saat duduk memandangku

Aku merana saat pagi
Kunang-kunang terbang pergi atau bersembunyi
dan kau tak ada di jendelamu
rindu ...

Aku ingin menembus dinding istanamu yang tinggi
Biar setiap hari kutaruh kunang-kunang di tanganmu
Tidak untuk apapun ...
Hanya untuk binar matamu ..

masih ku ingat mata pertamamu ...
pertama kali jeda mempertemukan kita berdua
dan kunang-kunang hinggap di jendelamu
Kau jatuh cinta dan aku pula ...
pada kunang-kunang mungkin atau pada kita berdua

Kunang-kunang tak datang bersama matahari
atau kau tak tahu
dan ku ajari engkau persahabatan dengannya
agar malam ini ia datang kembali padamu
dan mengulang kembali jeda pertama kita bertemu ...

Setangkai Mawar Merah

·

Aku mau jadi setangkai mawar merah
biar bisa kau simpan dikamarmu hingga layu
Aku mau jadi setangkai mawar merah ...
biar membusuk di tong sampahmu ...

Aku mau jadi setangkai mawar merah ...
yang saat kau petik aku sakit tapi lalu mati
aku mau jadi setangkai mawar merah ...
yang bila layu kau buang tapi aku mati ...

Aku mau jadi setangkai mawar merah
tidak menangis saat kau petik
tidak menangis saat kau buang
tidak menangis saat kelopakku layu
tidak menangis saat membusuk ...
karena sebelum aku bersiap aku telah mati

Biar saja taman kini gersang menjadi gurun
mungkin pun mawarmu telah terkubur dalam-dalam
pilu dan membusuk
tapi biarlah mawarmu sudah mati
dalam mimpi pun tidak lagi ia harum
dalam khayal pun tidak lagi ia dalam vas di meja kamarmu ...

malam-malam yang kau tunjuk
kemarin dan saat ini ...
tidak seorang pun merenggutnya ...
hanya aku menggigit bibir
dengan batin amat sesak
kembali lagi di batu-batu ...
menunggu ...
menunggu ...
setangkai mawar merah sekali lagi di taman itu

PURNAMA TERAKHIR

·


Wahai purnama …
Yang lalu lalang kemarin bersama desing peluru malam pusaka
Wahai purnama …
Sepikah rumah-rumah yang koyak malam itu?
Wahai purnama …
Adakah kau saksikan kelahiran putra pertiwi dalam selimutmu?

Sudah ku tunggu …
Puluhan purnama dalam tahun-tahun yang muram …
Hingga esok purnama berakhir aku menunggu …
Saat aku bersaksi tentang Negeri para petani yang miskin …
Tentang Negeri para buruh yang nestapa …
Tentang anak-anak yang kehilangan suka dalam buku-buku masa depannya

Sudahkah kau berbincang dengan pungguk yang seakan mati …
Pura-pura ingin padahal tak ingin ..
Katanya bernyanyi tentang Indonesia ....
Dalam panggung-panggung yang digotong terpincang-pincang …
Katanya pula seperti Purnama terakhir baginya Indonesia

Hey Engkau!
Sudahkah kau saksikan puisi malam itu
Oleh angin dan hujan yang menghujam
Atau api yang membakar kamar-kamar tuanmu …

Hey engkau !
Kubaca tulisan-tulisan usang dibalik kacamatamu
Jangan berteriak!
Jangan teriakkan kemerdekaan itu!
Waktu anak menangis di kakimu
Menjerit dalam rumah-rumah tanpa jendela

Sudah ku simpan seikat pusaka
Merah putih namanya …
Biar aku ajarkan padamu tentang kemuliaan
Tentang Merah dan Putih
Tentang tanah ini …

Tapi kaukah itu?
Yang memeluk anak-anak tanpa Ayah dan Ibu dengan tanganmu?
Tapi kaukah itu?
Yang menyirami tanah petani dengan tanganmu?

Ahhhhhhhhhhh
Aku menunggu sampai mati!
Sampai tak ada lagi api!
Sampai purnama kemarau menanti

Tak ada sesiapa yang suka membuka pintu untuk kami
Kaupun pemuda dari Negeriku bergeming, atau mati!
Mana ku tahu!
Mana aku mengerti!

Esok purnama terakhir…
Kau saksikan sendiri penderitaan Negerimu
Mati atau hapus air mata pertiwi

Lalu teriakkanlah tentang masa depan bangsamu
Teriakkan jeritan anak-anak jalanan didadamu
Bawa serta perjuanganmu!
Biar ku berikan lilin ini untuk kau sambut kawanmu nanti
Nyalakan lilinmu!
Nyalakan lilinmu!

Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

Sekeping Cinta Yang Tertinggal





Andai dapat aku menangkap angin
Akan kutanamkan untukmu
Andai dapat kusapu awan
Akan kukantongkan untukmu
            Aku melihat engkau bersanding pelangi
            Ternyata aku memilihmu
Aku melihat engkau mengiring matahari
            Ternyata aku memilihmu
Aku menatap matamu dan aku hidup
Aku memeluk kesetiaanmu dan aku berjiwa
Kita berdua t`lah mengarungi kekasih langit
Sambil membimbing senja menemui malam
            Apakah kau mendengar saat aku bertanya
            Kekasih, apakah engkau adalah tuan mantra-mantra
            Karena aku melihat mawar-mawar t`lah mekar
            Engkau hanya menatapku dan menggandeng kisahku
Tetapi malam membawamu pergi dariku
Ku titipkan engkau pada angin yang ku tanamkan untukmu
Ku titipkan engkau pada awan yang ku kantongkan untukmu
Ku titipkan engkau pada mawar-mawar yang t`lah mekar untukmu
            Malam t`lah membunuh semua kisahku
            Aku tercekik hidup dalam malam-malam panjang
            Sesak nafas aku terseok-seok mencari dirimu
            Kekasih, kemanakah malam t`lah menghalang
Angin t`lah megkhianati kita
Awan t`lah membawamu pergi bersama malam
Dan mawar tak lagi mekar untukmu
Hanya sekeping cinta yang tertinggal
            Kekasihku, maukah kau menjemputku
            Mengarungi jendela-jendela yang belum kita temui
            Ataukah ku temui perapian
            Dan ku persembahkan sekeping cinta yang tertinggal

Akulah Sang Rembulan





Aku adalah sang rembulan
Yang jatuh cinta pada matahari
Tek pernah mengerti akan kenyataan
Bahwa rembulan dan matahari adalah bukan harapan
Dimanakah siang dan malam dapat bertemu
Tak pernah dan mungkinkah?
Aku adalah rembulan yang terkungkung rindu
Bermimpi berkasih dengan matahari, mungkinkah?
Aku adalah rembulan yang datang saat matahari berpulang
Tak ada sisa bagiku selain kenyataan dan kepedihan
Andai rembulan adalah tanah bermusim
Maka aku tlah tandus menanti
Andai bintang dan langit bertanya
Mengapa aku mencintai matahari
Adalah jawabku dengan kekosongan
Aku tlah tertakdir menggulung hati merindu-rindu matahari
Aku menjawab tetapi hening
Aku adalah rembulan yang sendiri
Takdir telah meninggalkanku
Membenamku dalam tanah asing
Andai aku mampu menyebrangi malam
Menemui siang dan senja
Berdua menggandeng matahari berpulang
Mengiringinya menembus lautan
Maka biarlah aku menjadi rembulan yang sendiri
Biarkanlah aku tak berjodoh dengan matahari
Karena aku rembulan yang telah mati
Mati dikubur oleh cinta dan hidup
Aku tlah memutuskan mati dalam hidup dan hidup dalam kematian
Karena akulah rembulan yang terbakar matahari tetapi tenggelam
Akulah rembulan yang pucat pasi
Mencintai matahari yang tak dapat ku tatap sendiri
Mana aku mengerti jika semua bertanya mengapa
Tentang cinta sang rembulan pada matahari
Karena akulah sang rembulan yang sendiri
Hanya mencintai, rindu dan mati

Sabtu, 25 Mei 2013

Catatan Kekosongan



Lama siang dan malam bergulir
sementara setiap detik tengah menguliti jiwaku
aku adalah kertas yang terbakar
sekejap menjadi bara lalu sekejap menjadi abu

Ini bukan puisi
hanya sisa-sisa kekosongan yang merongrong
aku tak tahu kemana semua menghilang
lagipula tak lagi seorangpun disini
dan lagi tentu siapa yang begitu rela perduli

aku bermimpi aku adalah sepotong puzzle
tapi tak bertemu siapapun untuk dipadu
nyatalah kemanapun aku adalah kekosongan
mimpi pun mengaku

aku hanyalah kekosongan
tak berkawan terus ditinggalkan
aku adalah kekosongan
kebahagiaan melirik padaku pun tidak
terus ditinggalkan
aku adalah kekosongan
dimana tak seorangpun menginginkannya
aku adalah kekosongan yang menyerahkan diri pada hidup dan kematian

Rabu, 08 Mei 2013

Aku, Kau dan Waktu


Aku tidak pernah tahu bagaimana waktu menjadikanku manusia
aku tidak pernah mengerti bagaimana waktu menghantarkanku padamu 
waktu sepertinya selalu adil pada setiap kakinya ...
tidak pernah jatuh dan terjerembab ...

aku mengasihimu seperti waktu mengajariku ...
lalu waktu tidak mengizinkanku lupa tentang ajarannya ...
aku ingin membelinya dan ku kirimkan untukmu ...
ternyata ia ajarkan padaku keabadian yang tiada ...

aku termangu lalu meraung-raung ...
waktu telah merenggut warasku ...
aku menangis tak dapat membelinya ...
tak tahukah ia aku membutuhkannya untukmu ...

dentangnya menggelisahkanku ...
tentang pertanyaan-pertanyaanku padamu ...
aku tlah mencintaimu bersama waktu ...
tidak pernah sadar aku sudah jauh di tempatmu ...

dan waktu sekali lagi tidak mengizinkan aku kembali ...
tak mengertikah ia aku ingin menggenggam tanganmu ...
betapa keras waktu mengajariku tentang kesabaran ...
bagaimana engkau menghadapinya?

aku tlah lelah dengan tingkahnya ...
tapi aku teramat rindu pada iramamu ...
bagaimana aku menolaknya ...
aku tak tahu ...

aku tanpa sadar mencintai kalian berdua ...
kau dan waktu ...
teramat banyak kau dan waktu mengambilku ...
tak tersisa aku ...

aku tak dapat memilih antara kau dan waktu ...
aku mencintai kau dan waktu seperti bunga pada air dan matahari
aku merindukan kau dan waktu seperti mencekik diri sendiri ...
tapi tak mati dan tersakit-sakit sendiri ...

aku akan memberikan waktu untukmu ...
aku lelah mencintainya ...
aku ingin denganmu lebih lama ...
maukah kah bernegosiasi padanya?

aku ingin seutuhnya memandangmu tanpa lensa yang menyiksa ...
aku ingin menggenggam tanganmu tanpa takut gelap tiba ...
aku ingin bertemu denganmu lebih lama ...
hidup denganmu bersama waktu lebih lama ... 

Sabtu, 02 Februari 2013

Selamat Malam Gelap



Selamat malam gelap ...
aku belum tertidur, dan pangkuanmu demikian kosong, menawarkan malam-malam sunyi
melumuri memar-memar di lubuk rahasiaku, bahkan gelap menjamahnya
aku lupa kau yang meracuniku dengan bisikanmu...
Oh oh ...
aku seperti tengah menggendong kelabunya dirimu ...
belantara pun seakan menggigitku, mengusirku dari rumah mereka ...
Aku tidak menangis, jangan kau harap demikian ...

Selamat malam gelap ...
aku belum tertidur, berjaga di atas kelam menyertaimu ...
langit sudah menutup pintu-pintunya, sampai aku menyingkir dari penjagaan itu ...
aku terengah-engah habis terkuras takut, beraniku terlempar ke semak-semak ...
dimakan akar-akar kenistaan ...
Aku bernyawa, belum mau mati ...
mendendangkan nyanyian tentang terang yang tersisa dan bersembunyi ...

Selamat malam gelap ...
aku belum tertidur, menunggu terang ...
karena malam mengikatku di tubir-tubir terakhir dunia itu ...
melarangku mencari terang ...
selamat malam gelap ...
segera aku sadar, terang tidak menjadi berani melawanmu ...
dan aku ...
aku belum tertidur ...
Suka · · · Promosikan ·

Omong Kosong



Peduli apa kau pada tanah yang mengering???
bukan kemudian kau menyiraminya dengan halusmu!
sama sekali omong kosong!
Lalu apa yang kau tahu tentang daratan yang sesak nafas?
apa kau menanami kebun-kebun buah di atasnya?
Muak aku kau bicara begini begitu
sama saja
Aku tidak pernah melihat engkau kering kerontang karena tanah telah meretak!
tidak sama sebagaimana penderitaan meretakkan pijakan
Tidak akan pernah sama kurasa,
membual saja kau tentang sajak-sajak penuh kebohongan itu
bernyanyi-nyanyi sedu sedan di hadapanku meneteskan air mata
Hah!
tertawa aku, enggan tapi mau, bagaimanakah?
mana pula aku mengerti, sudah kubuang semua jenis pengertian dalam otakku
aku tak mau mengerti lagi, lagipula perlukah?
Omong kosong!
Puih!
ingin kuludahi saja kekosongan itu kalau saja aku bisa
tidak berguna pun ku lakukan sebagaimana omong kosong
kau yang dirajai omong kosong biar kutebas lehermu darinya, bisakah kau bayangkan?
Sajak macam apa yang sudah kau buat, sama buruknya dengan sajak-sajakku yang menggelegak penuh benci
seperti kedalaman tanah yang membara tanpa pernah kau lihat
Sudah kuputuskan,
semua hanya omong kosong...

Rabu, 02 Januari 2013

Maka Biarlah Cinta Menjadi Cinta



Aku menjadi saksi atas senja yang merunduk …
Membiarkan lembayung menggodaku untuk bersandar …
Di bahumu yang tangguh menopangku …
Dan senja perlahan takluk pada harummu …

Sederet angan kita yang saling mengembara …
Melukis siluet di jeda kedipan matamu …
Atau masih ingatkah sedetik lalu ceritamu tentang sekotak rahasia?
Ada bara di dalamnya dan hujan tak berkesudahan …

Siapa dapat mengerti …
Hanya fahami Tuhan adalah Tuhan …
Terpekur kita berdua …
Dalam cinta yang Tuhan ajarkan …

Dan saat hujan menenggelamkan senja…
Dua bola matamu masih tergugah …
Dan aku meneriaki gerimis …
Meminta diri hanyut dikedalamanmu …

Aku benar tentang sekotak rahasia …
Hanya fahami Tuhan adalah Tuhan …
Maka biarlah cinta menjadi cinta …
Tetaplah menjadi ajaran Tuhan …

Maka lambayung sebelum hujan kembali …
Telah pergi mengawinkan senja dengan siluet di matamu …
Kau dan aku saling menukar gersang …
Lalu senja bernyanyi tentang cinta …

Harmoni senja yang meliuk-liuk …
Meneropong langit kala siluet bersembunyi
Sebelum dan sesudahnya …
Tetaplah senja bernyanyi tentang kita …

Bukan hujan tak berkesudahan …
Tapi menyerahkan lirik pada Tuhan …
Biar di tangannya lirik senja tergubah …
Lalu kau dan aku terpekur …
Hanya fahami Tuhan adalah Tuhan …
Maka biarlah cinta menjadi cinta…

Jumat, 02 November 2012

Maghrib


maghrib,
penghulu matahari menarik diri
Mengawinkannya dengan senja ..
Dalam mega terpekur seorang-seorang saja

Suara-suara kereta dalam barisan hari ini terhenti
Segera sajak-sajak berkejar-kejar dengan angin
Gelombangnya memotong sejumlah potongan garis kota lalu mengaburkannya

Lalu dalam haru dan resahnya
musola kecil dalam kota besar
Bertubi-tubi memanggil-manggil
Sang kelana yang tak jua rehat dari perjalanannya

Jauh nian dalam pandangannya
Sebuah telaga dalam peta ..
Padahal telaga tengah pasang
Saat maghrib dimusola kecil kota besar

Pontianak,maghrib mengikat senja
Singgahlah dan raup air dalam telaga

Selasa, 30 Oktober 2012

Tak mudah menjadi aku


Kau ...
dengarlah sedikit suaraku yang patah-patah ini ...
sambil tersenyum harapku tapi tidak kemudian ...
karena tiba-tiba di penghujung ucapanku ...
aku merasa terhuyung ...

aku belum bertanya pada Tuhan ...
apakah telah ia mengajarimu ...
arti siapapun dalam masa hidupmu

tiba-tiba merasa aku terlempar di lautan ...
tergulung ombak...
kau tinggalkan ...

Oh ...
tak mudah menjadi aku ini ...
kau, tak dengarkah?
tak bisa binasa semua catatan usangku
sakit mengarungi lautan besar ini sendiri ...
setelah dulu setengah kau yang ajari aku lautan ...

tak mudah menjadi aku ...
coba saja gantikan dudukmu disini ...
tidak, tidak kau juga akan bilang ...
tak mudah menjadi aku ...

sempurna ...
indahmu sempurna ...
sampai kini pun segala telah sempurna ...
dan aku lunglai karena sakit itu pun terasa sempurna ...
demikian ku kata tak mudah menjadi aku ...

Senin, 17 September 2012

Jendela Kunang-kunang


Kunang-kunang
Ku sambangi jendelamu
sambil kuraba dinding yang kusam di hadapku
ku letakkan satu-satu kunang-kunang di jendelamu
biar kau tak gelap saat duduk memandangku

Aku merana saat pagi
Kunang-kunang terbang pergi atau bersembunyi
dan kau tak ada di jendelamu
rindu ...

Aku ingin menembus dinding istanamu yang tinggi
Biar setiap hari kutaruh kunang-kunang di tanganmu
Tidak untuk apapun ...
Hanya untuk binar matamu ..

masih ku ingat mata pertamamu ...
pertama kali jeda mempertemukan kita berdua
dan kunang-kunang hinggap di jendelamu
Kau jatuh cinta dan aku pula ...
pada kunang-kunang mungkin atau pada kita berdua

Kunang-kunang tak datang bersama matahari
atau kau tak tahu
dan ku ajari engkau persahabatan dengannya
agar malam ini ia datang kembali padamu
dan mengulang kembali jeda pertama kita bertemu ...

Minggu, 16 September 2012

Setangkai Mawar Merah


Aku mau jadi setangkai mawar merah
biar bisa kau simpan dikamarmu hingga layu
Aku mau jadi setangkai mawar merah ...
biar membusuk di tong sampahmu ...

Aku mau jadi setangkai mawar merah ...
yang saat kau petik aku sakit tapi lalu mati
aku mau jadi setangkai mawar merah ...
yang bila layu kau buang tapi aku mati ...

Aku mau jadi setangkai mawar merah
tidak menangis saat kau petik
tidak menangis saat kau buang
tidak menangis saat kelopakku layu
tidak menangis saat membusuk ...
karena sebelum aku bersiap aku telah mati

Biar saja taman kini gersang menjadi gurun
mungkin pun mawarmu telah terkubur dalam-dalam
pilu dan membusuk
tapi biarlah mawarmu sudah mati
dalam mimpi pun tidak lagi ia harum
dalam khayal pun tidak lagi ia dalam vas di meja kamarmu ...

malam-malam yang kau tunjuk
kemarin dan saat ini ...
tidak seorang pun merenggutnya ...
hanya aku menggigit bibir
dengan batin amat sesak
kembali lagi di batu-batu ...
menunggu ...
menunggu ...
setangkai mawar merah sekali lagi di taman itu

Jumat, 14 September 2012

PURNAMA TERAKHIR



Wahai purnama …
Yang lalu lalang kemarin bersama desing peluru malam pusaka
Wahai purnama …
Sepikah rumah-rumah yang koyak malam itu?
Wahai purnama …
Adakah kau saksikan kelahiran putra pertiwi dalam selimutmu?

Sudah ku tunggu …
Puluhan purnama dalam tahun-tahun yang muram …
Hingga esok purnama berakhir aku menunggu …
Saat aku bersaksi tentang Negeri para petani yang miskin …
Tentang Negeri para buruh yang nestapa …
Tentang anak-anak yang kehilangan suka dalam buku-buku masa depannya

Sudahkah kau berbincang dengan pungguk yang seakan mati …
Pura-pura ingin padahal tak ingin ..
Katanya bernyanyi tentang Indonesia ....
Dalam panggung-panggung yang digotong terpincang-pincang …
Katanya pula seperti Purnama terakhir baginya Indonesia

Hey Engkau!
Sudahkah kau saksikan puisi malam itu
Oleh angin dan hujan yang menghujam
Atau api yang membakar kamar-kamar tuanmu …

Hey engkau !
Kubaca tulisan-tulisan usang dibalik kacamatamu
Jangan berteriak!
Jangan teriakkan kemerdekaan itu!
Waktu anak menangis di kakimu
Menjerit dalam rumah-rumah tanpa jendela

Sudah ku simpan seikat pusaka
Merah putih namanya …
Biar aku ajarkan padamu tentang kemuliaan
Tentang Merah dan Putih
Tentang tanah ini …

Tapi kaukah itu?
Yang memeluk anak-anak tanpa Ayah dan Ibu dengan tanganmu?
Tapi kaukah itu?
Yang menyirami tanah petani dengan tanganmu?

Ahhhhhhhhhhh
Aku menunggu sampai mati!
Sampai tak ada lagi api!
Sampai purnama kemarau menanti

Tak ada sesiapa yang suka membuka pintu untuk kami
Kaupun pemuda dari Negeriku bergeming, atau mati!
Mana ku tahu!
Mana aku mengerti!

Esok purnama terakhir…
Kau saksikan sendiri penderitaan Negerimu
Mati atau hapus air mata pertiwi

Lalu teriakkanlah tentang masa depan bangsamu
Teriakkan jeritan anak-anak jalanan didadamu
Bawa serta perjuanganmu!
Biar ku berikan lilin ini untuk kau sambut kawanmu nanti
Nyalakan lilinmu!
Nyalakan lilinmu!