BAB DUA

Rabu, 20 Juni 2012

Semburat merah langit Jakarta
             Sore selepas bermain futsal aku pulang kerumah. Aku selalu ingat untuk sarapan dan makan malam dirumah, masakan Ibu tidak ada yang menandingi. Ibu selalu bisa membuatku sedemikian rupa merindukannya. Kuharap gadisku nanti akan seperti Ibu, lagi-lagi mengkhayal, mungkin karena sekian lama menjomblo, aku tertawa sendiri.
            “mas, bannya kempes”, seseorang menegurku. Seorang lelaki tua bervespa warna merah delima.
            “oh iya pak terima kasih”, aku baru menyadari motorku agak goyang dikendarai. Lelaki tua tadi kemudian mendahuluiku. Aku menepi, mencari bengkel dijalan-jalan yang kulalui, dan bertanya-tanya pada orang. Hari sudah sore, semburat mega mulai tampak.
            “di dekat musola di gang sana ada mas, mas lurus aja, trus ada apotik didepan gangnya, apotik sehat namanya mas, gak jauh masuk ke gang ada musola, nah dideket situ ada bengkel mas”, ujar seseorang yang kutanyai. Setelah mengucapkan terima kasih aku mengikuti arahan dari orang tadi. Jalanan seperti biasa selalu ramai tapi tidak macet. Aku masuk ke gang yang dimaksud orang tadi sambil terus mendorong motorku, hanya berjarak beberapa rumah aku sudah menemukan mushola yang dimaksud, dan langsung menemukan bengkel yang hanya berjarak 2 rumah saja dari musola itu. Aku langsung membawa motorku ke bengkel, sambil menunggu aku melihat-lihat sekitar, kulihat vespa warna merah delima diparkir di halaman mushola. Kupandangi vespa itu, menarik. Sepertinya pemiliknya adalah bapak tua yang tadi menegurku karena ban motorku kempes, hatiku tergerak untuk melihatnya lebih dekat. Aku mengamati vespa itu hingga tak sadar seseorang berdiri di dekatku.
            “Assalamu’alaikum”, aku mengangkat kepalaku yang tengah mengamati motor tadi. Setengah terkejut melihat pemilik suara ternyata bapak tua tadi.
            “maaf pak, saya hanya melihat-lihat”, ujarku tanpa menyahut salamnya.
            “iya, iya, tidak apa-apa, motor ini memang tua tapi masih dalam kondisi baik”, ujarnya tanpa ditanyai sembari tangannya menepuk-nepuk pelan bagian kepala motornya.
            “iya, kelihatan sekali bapak merawatnya dengan baik”, aku mengiyakan sambil masih memperhatikan. Tiba-tiba adzan berkumandang dari speaker masjid, semburat mega merah kelihatan megah, mempesona. Bapak tua itu menepuk pundakku.
            “Baiknya kita shalat dulu, nanti bisa kita lanjutkan lagi”, aku menoleh sebentar ke bengkel, ban motorku pasti sudah selesai diganti, tak butuh waktu lama. Tapi ajakan Bapak tua ini mempesonaku, entah karena semburat merah langit Jakarta sore ini atau apapun aku akhirnya mengiyakan, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali aku melakukan ini.

Lamat-lamat ku amati sekitar, sepi. Musola ini kecil, dan hanya ada kami berlima di dalamnya, aku, Bapak tua tadi, seorang remaja usia belasan tahun yang kuduga mengumandangkan adzan tadi, seorang anak kecil perempuan dan Ibunya. Tapi bisa kulihat Mushola ini bersih, terawat setidaknya ini berarti masih ada orang-orang yang bersedia menghidupkan mushola kecil seperti ini.
            “Silahkan nak”, bapak tadi mempersilahkanku maju ke depan dan menjadi imam shalat. Aku terbengong-bengong dan sedikit gugup. 
            “saya belum sunat pak”, glek, aku kemudian menyesal dengan apa yang kukatakan, menepuk mulutku sendiri, tentu saja kenyataannya tidak begitu. Remaja tanggung yang berdiri di sebelahku kemudian tertawa, tapi lalu ditahannya saat aku menoleh dan agak heran melihatnya tertawa. Bapak tua tadi hanya tersenyum-senyum lalu mengangguk-angguk beralih untuk memposisikan diri sebagai imam shalat.
***
            Sesampainya di rumah aku segera menghampiri meja makan. Perutku sudah terlalu lapar untuk menyisihkan waktu mandi. Apalagi mencium aroma masakan ibu, tak sanggup jika harus menunggu selesai mandi, lagipula saat paling nikmat menyantap makanan adalah saat perut dalam kondisi lapar.
            “Kakak ini jelek, gimana mau punya pacar, mandi aja nggak mau”, celetuk Mega.
            “Hey gendut, darimana kamu tahu soal pacaran? masih kecil udah tahu begituan”
        “kata Jodi Kakaknya udah punya pacar, aku tanya sama dia, pacar itu apa, katanya pacar itu seperti Ayah sama Ibu”, Jodi anak tetangga kami sekaligus teman sekolah Mega. Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

BAB SATU (orientation)

Selamat pagi Jakarta !
            Kedua mataku yang masih terpejam mengkerut merasakan sinar matahari yang menerobos masuk entah darimana. Selimut masih rapat menutupi sekujur tubuhku. Sinar matahari yang masuk rasanya hangat menerpa pipiku. Akhirnya kedua mataku mengalah untuk perlahan membuka.
            “Aaah Ibu ...”, Wanita terbaikku itu tengah berdiri didekat jendela. Akhirnya aku tahu Ibu membukakan jendela untuk membuatku bangun.
            Ibuku hanya diam sambil mengemasi barang-barangku diatas meja didekat jendela. Seorang bocah berusia sekitar 5 tahun berlari ke arahku seperti banteng mengejar kain merah.
            “Mega ….!!!”, teriakku. Refleks aku langsung duduk, bocah gendut itu tidak sadar ranjangku bisa saja roboh karena ulahnya. Tubuhnya gempal dan pipinya tembem sangat menggemaskan. Ibu tersenyum-senyum melihat kami berdua.
            “Kakak, bangun!”, Ujarnya sambil menaiki ranjangku.
            “Iya ... ini aku sudah bangun gendut, memangnya kamu nggak lihat”,
            “lihat aku punya tas baru”, ia memamerkan tas barunya dengan senyum memperlihatkan deretan giginya yang tak rata.
            “Hahaha iya, bagus sekali, aku juga punya oleh-oleh untukmu”, Matanya langsung membulat mendengar kata-kataku dengan rona wajah semakin menggemaskan.
            “Apa? apa?”, wajahnya penasaran dan sangat senang.
            “semalam kamu udah tidur waktu mau kukasih, jadi kusimpan di pojok kamarku deh, tuh”, jari telunjukku menunjuk ke sudut kiri kamar dekat dengan pintu. Matanya langsung beralih ke ujung jariku. Matanya yang bulat bersih berbinar melihat benda dipojok kamarku.
            “Bernard ...... !!!!”, Sebuah boneka beruang putih tergeletak disana, tanpa basa-basi Mega berlari menuruni ranjang dan mengambilnya, ukurannya bahkan melebihi ukuran tubuhnya. Aku melihat ke arah Ibu, Ibu tersenyum. Biasanya aku paling senang membuatnya menangis, tapi aku juga kan saudara yang baik, membuatnya kegirangan juga sangat menyenangkan, jadi aku memutuskan membelikannya boneka.
            “Bilang apa sama Kakak?”, Ujar Ibuku menghampiri Mega yang sudah tak ingat selain boneka besar dalam pelukannya.
            “Makasih Kakak”, Mega langsung berlari keluar dari kamarku, pasti ia sedang berniat memamerkan boneka barunya pada Ayah Arman, Ayah tiriku.
            Aku bergegas bangun dan berniat mandi, sudah sebulan lebih aku tak melihat tempat ini, rindu. Yah, sebulan ke belakang aku tengah libur semester genap, liburan panjang, ayah kandungku memintaku untuk berada disana selama libur beberapa waktu, bukan apa-apa hanya rindu. Aku sudah terbiasa dengan hidup seperti itu, yang sulit hanya karena Ayah jauh, sudah 3 tahun belakangan ayah tinggal di New York, bersama Tyo saudara kembarku. Ayah sudah menikah lagi dengan wanita dari New York, seorang wanita karir. Ayahku seorang seniman, pelukis yang lumayan punya nama, tak sulit baginya bertemu dan berkenalan dengan bule-bule seperti Ibu tiriku sekarang. Aku tak keberatan, sejak awal perceraian kedua orang tuaku aku sudah bisa menerimanya, terkadang perpisahan lebih baik jika bersama sudah tak sejalan lagi. Komunikasi mereka justru terlihat lebih baik setelah berpisah.
***
            Aku menghampiri meja makan, ada Ibu yang tengah menyuapi adik tiriku, Mega. Mega anak dari Ibu dengan Ayah Arman, meski hubunganku tak begitu dekat Ayah Arman, aku menghargainya sebagai seorang lelaki yang mencintai Ibu dan menghadiahiku Mega, si gendut yang cerewet. Ada Ayah Arman juga disana, aku duduk dan ikut sarapan dengan mereka. Sedikit basa-basi dengan Ayah Arman agar tak terlalu kaku, tapi beliau baik, paling tidak aku tahu sikapnya lembut pada Ibu, beliau orang yang tidak banyak bicara, aku tak perlu khawatir ia akan menyakiti Ibuku. Ayah Arman manager disalah satu BANK swasta, beliau lebih muda dari Ibu beberapa tahun, tapi kelihatan sangat matang. Beliau juga punya hubungan baik dengan ayah kandungku, tak ada masalah yang berarti, tak ada alasan untukku jadi brutal karena dianggap berasal dari keluarga yang pernah gagal.
            Semalam aku baru saja sampai di Indonesia setelah berlibur di rumah baru Ayahku, kulihat kehidupan ayah dan keluarga barunya tak sulit, disana seni lebih banyak dihargai, dalam jangka waktu setahun lebih ayah sudah punya galeri sendiri, walaupun tidak besar tapi menurutku itu hebat. Ibu tiriku, Nicole namanya, aku memanggilnya Mom, dia ramah, beliau juga tak keberatan dengan kehidupan masa lalu ayahku, aku hanya terkendala masalah bahasa dengannya, karena bahasa inggrisku memang tak begitu bagus.
            Tyo saudara kembarku yang sempurna, ia mengambil semua keindahan ibu dan ayah, wajah tampan, kulit putih Ibu, hidung mancung Ayah, rambut lurus Ayah, tubuh tinggi Ayah,  dan otak cerdas Ibu! Tapi aku punya hubungan yang sangat dekat dengan Tyo, apalagi setelah kami saling jauh. Setelah dewasa kami semakin mengerti satu sama lain, konflik sering terjadi tapi justru itu yang selalu membuat kami kian dekat. Tyo tak mewarisi bakat seni ayah, tapi ia mewarisi kecerdasan ibu, sekarang ia sudah menyelesaikan study-nya, tapi ia melanjutkan S2 disana, matematika, entah apa lebih spesifiknya.
            Dan aku, Ryo si keriting, rambutku panjang melebihi bahu, berkulit hitam, dengan kecerdasan dan wajah yang biasa saja, hidung tidak mancung, tapi juga tidak pesek, tapi aku juga bertubuh tinggi, tinggiku kurang lebih dengan Tyo, aku heran mengapa dokter tega mengatakan kami kembar hanya karena lahir berselang beberapa menit dari Ibu yang sama, karena semua orang yang tahu itu akan mengatakan, “kok beda?”, yang bisa kubanggakan dari Tyo hanya gingsulku yang menurut orang gingsul itu membuat seseorang tampak lebih manis, itu juga atas persepsiku sendiri, tapi Tyo tidak punya itu! Aku mahasiswa teknik elektro disalah satu universitas di Jakarta, sudah 5 tahun lebih belum juga selesai, tapi aku tengah menyusun skripsi, kuharap kali ini aku bisa menyelesaikannya segera.
            “Ibu, ayah, aku berangkat dulu, aku harus ke kampus hari ini”, ujarku setelah menghabiskan sepiring nasi goreng lezat buatan Ibu dan menenggak segelas air putih diatas meja.
***
            “Ahh selamat pagi Jakarta!”, seruku dalam hati. Pagi di hari senin akan jadi hari yang padat untuk kebanyakan orang, tapi tidak untukku, sebenarnya aku tidak ada kegiatan apa-apa dikampus, hanya saja kampus sudah seperti rumah keduaku setelah rumah tempatku tinggal.  Aku berkaca melalui kaca spion motorku, memastikan wajah manisku ini cukup baik tampil dikampus. Motor ini sudah bertahun-tahun menemaniku, aku membelinya dari hasil keringatku sendiri, aku mau bekerja apa saja, mulai dari bertukang, berjualan, apapun selama itu tak melanggar hukum. Motor ini kubeli dengan kondisi yang tidak begitu baik, tapi aku bisa habis-habisan membuatnya tampan dan gagah, itu yang membuatku selalu mengendarainya dengan bangga, aku menyebutnya “”.
            Seperti biasa jalanan selalu padat, tapi aku tak diburu waktu, sehingga kubiarkan saja kendaraan lain menyelip-nyelip mendahuluiku. Mobil-mobil mewah berseliweran, gadis-gadis cantik, orang-orang tua, remaja-remaja, anak-anak, bunyi klakson yang membisingkan, suara-suara marah, gelak tawa, semua menjadi satu, aku menikmati pagi di Jakarta seperti ini.
            Aku memakirkan motorku tak jauh dari kantin, aku tahu bisa menemukan teman-temanku disini, kantin sederhana milik Ibu Nuna. Meski sederhana kantin ini paling ramai, pelayanan yang ramah dan harga yang murah tentunya. Rakyat Indonesia selalu menyukai tempat seperti ini, tentunya rakyat kecil sepertiku. Aku melambaikan tangan dari kejauhan saat sadar teman-temanku melihat ke arahku. Aku segera menghampiri mereka. Kantin Ibu Nuna menyediakan tempat duduk lesehan, dan tempat ini yang jadi markas kami berkumpul.
            “Wah … sudah datang kau rupanya Ryo, beta kira tidak pulang lagi kau ke Indonesia”, Tedi menyambutku dengan logat ambonnya yang kental.
            “hahaha, mana mungkin gue nggak balik lagi, rumah gue disini, lagian mau ngomong apa gue sama bule-bule disana, yang gue tau Cuma yes, no, ok, I love you”, Tedi dan teman-teman lain yang berada disitu tertawa renyah. Tedi, teman baikku, walaupun terlihat gahar karena perawakannya yang besar dan sifatnya yang cenderung emosional, tapi Tedi sosok yang solid, sangat menghargai arti kawan.
            “Kinan bro”, celetuk Beni melihat Kinan melewati tempat kami duduk. Teman-temanku memang selalu menjodoh-jodohkan aku dengan Kinan, karena selama mereka mengenalku aku tidak pernah bercerita tentang gadis yang kusuka, atau menunjukkan sikap suka pada seorang gadis. Kinan memang cantik, gadis baik, ramah, tidak ada alasan untuk tidak menyukainya, tapi aku dan Kinan hanya bisa berteman biasa. Bukan tidak pernah aku jatuh cinta, bukan tidak ingin aku mencintai dan dicintai seseorang, aku hanya belum menemukannya, tepatnya belum menemukan lagi seseorang yang tepat. Sampai saat ini dalam hidupku hanya ada dua wanita saja, Ibu dan Mega.
            “Sore ini kita main futsal yo, kurang satu orang, lu ikut ya”, ajak Beni membuyarkan lamunanku tentang wanita. Aku mengiyakan lalu pembicaraan beralih ke sepak bola. Aku sendiri tergila-gila pada bola, hanya saja aku tidak berminat menjadikannya lebih dari sekedar hoby, tapi untuk meluangkan waktu bermain bola aku tidak pernah ragu. Jangan-jangan kalau aku punya pacar aku akan lebih mencintai bola daripada gadis itu, aku tertawa sendiri memikirkan itu.

Kaukah Itu?

Minggu, 13 Mei 2012

Kaukah itu ...
yang bersembunyi saat semburat merah mengelabuiku
kaukah itu ...
yang meniupkan angin dalam kantong-kantong kosong untukku
kaukah itu ...
yang memajang rindu di langit-langit kamarku ..

Aku bertanya ...
kau diam ...
aku diam ...
dan kau ...
tak kufahami bagaimana berkisah dalam bisumu lebih tak kufahami ...
bagaimana aku merogoh kisah itu untuk kudekap dalam buku-buku yang tak baku ..

Kita bertukar lagu saat gersang saling memandang melewati jauhnya lautan dan daratan
kaukah itu ...
dua matamu yang menjatuhkan hujan kaukah itu ...
yang menggandengkanku dengan angin ..

Kaukah itu ...
yang menuliskan prasasti di dinding langit Tuhan ..
bagaimana tanganmu wahai kau yang menanam mimpi ditanahku
kaukah itu ...
saat pagi berbisik membangunkanku ...
kaukah itu ...
yang setia mengarungiku hingga habis masa itu ...

Maghrib

Minggu, 18 Maret 2012


Maghrib,
penghulu matahari menarik diri
Mengawinkannya dengan senja ..
Dalam mega terpekur seorang-seorang saja

Suara-suara kereta dalam barisan hari ini terhenti
Segera sajak-sajak berkejar-kejar dengan angin
Gelombangnya memotong sejumlah potongan garis kota lalu mengaburkannya

Lalu dalam haru dan resahnya
musola kecil dalam kota besar
Bertubi-tubi memanggil-manggil
Sang kelana yang tak jua rehat dari perjalanannya

Jauh nian dalam pandangannya
Sebuah telaga dalam peta ..
Padahal telaga tengah pasang
Saat maghrib dimusola kecil kota besar

Pontianak,maghrib mengikat senja
Singgahlah dan raup air dalam telaga

Aku Jemu

bukan ia yang berdiri dengan setangkai bunga mawar disudut kota
Ia hanya penggoda buku-buku cinta
Yang tertumpu dibahunya kata-kata dan bayangan hidup penuh romansa

Aromamu polusi diselubung hunian
Terkontaminasi racun tercampur dalam pendek nafasku
Mau tak mau bukan tak mau tapi tak bisa tak mau
Aku menghirupmu
Seperti candu pada pil setan ..

Aku jemu
Tak dapat selesaikan pertarungan denganmu
Hah !! Ku katakan pertarungan tapi candu dibatinku
Seperti dendam canduku menggelora mengaduk-ngaduk seluruh bola-bola dalam hunianku
Ingin kurampas seluruh aromamu
Biar aku mati oleh racunmu

Aku jemu
Melihatmu dari bilik sepi seperti kedua bola matamu yang memenjarakanku
aku jemu
Menghirup aromamu saja di tempat kuletakkan kedua tanganku
Aku jemu
Kau lalu lalang kadang tak bergeming didepan mataku

Aku jemu
Serumpun daun hanya bicara dalam sepoi tentangmu
Tak ada lainkah ..
Mauku kau tinggal saja atau kau pergi saja
Tapi mauku tak bisa tidak

Maka aku jemu
Pada aromamu
Mencekikku tapi tak mati
Kau diselubung hunianku tak masuk tak juga pergi

Bidadari Bersayap Kupu-kupu

Selasa, 06 Maret 2012



jariku kaku tak dapat menggenggammu
lidahku kelu tak bisa bicara denganmu
mataku terlalu berat untuk dapat memandangmu
tapi fikiranku terpenjara olehmu ...

Lihatlah ...
Laut sedang pasang sayang
tidakkah kau sadari itu ...

Lihatlah ...
Pantaimu menghilang ...

Kau lihat seorang bidadari kecil disana
ia kepayahan karena hanya bersayap kupu-kupu
ia tak dapat pergi dari pasangnya lautmu
ia sadar sayapnya tak sanggup menopangnya untuk dapat pergi ...
air matanya yang menenggelamkan pantai ...
air matanya yang membuat lautmu pasang ...


tapi tahukah ...
bidadari kecil itu justru ingin tenggelam sedalam-dalamnya di lautmu
biarlah tak dapat lagi menyentuh awan
asal ia dapat sembunyi di kedalamanmu ...


Ia bidadari kecil bersayap kupu-kupu
ia bahkan menanggalkan sayapnya
dengan luka berdarah-darah
kulihat di wajahnya terkulum senyum kecil
yang tak dapat kumaknai ...

Esok tak ada lagi pantai
tak ada lagi bidadari kecil itu
bidadari bersayap kupu-kupu
hanya sepenggal cerita usang tak bernyawa

Teruntuk calon imam terkasihku ...

Minggu, 18 September 2011

Menjengukmu dalam naungan-Nya ...

Bismillahirrahmanirrahim ...
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh ...

Apa kabar calon imamku disebrang sana?semoga Allah selalu mendekapmu dengan rahmat-Nya,dan tak henti menghujanimu dengan cinta-Nya ...
Apa kabar hati? apa kabar iman? dimanakah iman itu? surutkah? atau ia tengah bersembunyi dan tak kita temukan ...
ataukah tak bersisa ? semoga Allah senantiasa menumbuhkannya dihati kita dan semoga kita termasuk golongan orang-orang yang memeliharanya

dengarlah sayang, saat kutuliskan surat ini aku hanyalah seorang hamba yang dho'if yang entah layakkah aku menyebut diriku sebagai hamba-Nya
kita hanyalah debu-debu kotor yang dapat habis tersapu angin ...
siapakah perduli pada debu-debu kotor itu ...

Kekasihku,jika kita tau seberapa luaskah jagad raya ini
maka sadarlah kita betapa kecilnya diri kita ...
Jika kita tau seberapa kuatnya penguasa jagad raya ini
sadarlah kita betapa lemahnya diri kita



Wahai lelakiku ...
tahukah engkau titah-Nya dalam surat cinta untuk hamba-Nya itu?
tentulah engkau tahu ...
kata-kata dalam lembaran suci itu adalah titah ...
sebagaimana saat ia berkata pada setiap wanita untuk menutup dirinya
maka kututup diriku agar Allah ridho padaku ...
itulah mengapa aku ingin engkau selalu memelihara pandanganmu ...

Bukankah inginmu miliki tulang rusuk yang solihat?
demikianpun aku ...
inginku aku adalah bagian dari tulang rusuk seorang yang sholih ...
yang menjadikan Allah sebagai sandaran hidup-Nya ...
yang menjadikan malam-malamnya sebagai perjumpaan dengan kekasih sejati-Nya
saat orang lain terlelap ia tengah tertunduk diatas sajadahnya
menengadahkan tangan menghimpun doa ...

Suatu hari nanti kita akan berjumpa
dalam kehendak-Nya
bukan dengan mahkota atau gaun indah
tapi dengan sebuah ikatan yang menghimpun kita dalam kecintaan-Nya

Percayalah,akupun amat dambakan perjumpaan itu
sebagaimana Siti Hawa merindukan Nabi Adam saat terpisah oleh kehendak-Nya
dengan kehendak-Nya mereka terpisah
maka dengan kehendak-Nya pulalah mereka dipertemukan



Maka berjuanglah sayang ...
perbanyak perbekalan untuk perjalanan yang melelahkan ini
aku percaya bilapun kita tak berjumpa didunia
Allah akan pertemukan kita disana
disisi-Nya dengan keindahan tak terkira

Rembulan Separuh

Selasa, 10 Mei 2011








Tahukah,
Sebulan lalu, kurekat-rekat pecahan pigura dengan sesak dan payah
Ku simpan diam-diam agar tak seorangpun tahu
karena rembulan separuh tengah berjaga-jaga di pintu langit

Lalu kutepuk-tepuk air dibawah cahayanya
Rembulan separuh duduk anggun dan tersenyum padaku
Ku genggam dengan tangan basah
Rembulan tersenyum lagi, tidak ada

Berlari kukejar siapa entah mau kemana
Ku intip lagi pigura yang kurekat-rekat sebulan lalu
Ia cantik lagi, dalam lemari kaca entah siapa punya
Hendak ku taruh di meja kamarku tak tahu bagaimana

Kemarin,
Rembulan separuh muncul lagi,
Ku tatap iba piguraku yang pecah lagi
Lagi, kurekat-rekat dengan tangis
Tak lagi sembunyi, di bawah rembulan separuh kutaruh nanti

Gadis Kecil Berkerudung Hitam

Sabtu, 30 April 2011

Sepi,
Tepian Kota Basah berongga-rongga
Mati membisu dibunuh naluri

Gelap,
Rintik dibawah kaki langit lewati lorong tanpa nafas
Semua mematung dengan sendiri

Habis,
Lampu kota padam oleh suara angin
Seorang gadis kecil berkerudung hitam
Sedu sedan dibawah lentera

Hilang,
Sejenak lalu kosong
Setengah-setengah lalu hilang

Lengang,
Gadis kecil berkerudung hitam
Tanpa isyarat ikuti kota
Diselimuti bisu rinai hujan

Malaikat Terindah

Rabu, 02 Maret 2011

Matanya sendu
setiap garis di wajahnya mengisahkan hidup
bahwa segala kebahagiaannya ia persembahkan untukku
dan segala kepedihannya hanya menjadi miliknya seorang


Tangannya yang hangat
miliki jutaan energi yang mampu barakan hati
dan leburkan batu yang keras di tebing2 tinggi
senyumnya mampu alirkan darah yang beku


air matanya mematikan hati
melumpuhkan daya yang kecil ini
ia malaikat yang sayapnya tak terlihat
cahayanya hanya milik siapa yang memandangnya jauh


kecantikannya tersimpan dibalik keriput2 masa di dahinya
saat2 malam berlalu jauh
dan ia duduk disana
untukku


Mama
malaikat terindahku

Sakau

Selasa, 15 Februari 2011

Setiap detik mengalahkan mesin yang menderu

mengalahkan udara yang berkejaran mencari ruang

kadang kala aku tersesat

lalu kucari jalan pulang



dengan denting piano

yang ciptakan nada dan lirik

inspirasikan tarian manusia

penuh makna dalam derap-derapnya





relief yang dipahat oleh masa

pada sebuah tembok apik ditengah2 dunia

adalah fase indah yang ku nikmati di atas kakiku

memilih untuk tetap tegak pada posisi ini



sakau pada satu harapan

menghiba-hiba pada Tuhan

menjatuhkan keinginan ditangan yang kosong ini

memaksa diri melepas genggaman karena sebuah ketakutan

meski ketakutan ini seharusnya bukan menjadi hakku

Hujan

Minggu, 06 Februari 2011

Hujan turun ..
Aq memeluk lututku sendiri
berharapp tak ada yang tw ada luka yang kututup
dan hujan yang turun mengingatkanku tentang hati
dan biasan pelangi yang selalu hadir kala itu
yang selalu ku nantikan hingga senja berakhir
dan saat malam datang takut merenggutnya
merenggut hal yang tak kumiliki sekalipun
Kekuatan yang kian meruntuh
mengajarkan aku untuk merangkainya kembali
tapi setiap nafas ini kutarik
sesak yang kurasa
memaksaku untuk menyerah
ku biarkan rinai hujan menyentuhku
membasahi setiap garis2 hidup yang kulalui
dan aku kedinginan
tak ingin menyudahinya
hanya inginkan sebuah perapian yang berikan aku cahaya
dan panas untuk obati kebekuan ini

Pemuda Pelukis Senja

Kamis, 27 Januari 2011

Oleh: Erni Susanti

Ia duduk disebuah jembatan yang menghubungkan petak-petak sawah, kakinya dibiarkannya menggantung menyentuh air yang warnanya agak kemerahan seperti teh. Jembatan pendek itu kuat berada diatas sebuah parit yang lumayan besar. Di sebelahnya berdiri Runo teman sekelasnya dibangku perkuliahan. Tangannya bertumpu diatas pahanya dengan jari jemari saling berkaitan seolah saling menguatkan, dan tubuhnya agak condong kedepan.
Padi yang hijau masih basah karena embun pagi, seperti juga ia yang basah karena tetesan embun, tapi tak ia perdulikan pagi yang dingin itu menyergap-nyergap tubuhnya. Ia sudah akrab dengan kondisi demikian, kesenangannya terhadap alam membuat alam seolah telah menjadikannya teman.
“Ayo kita balik”, ajak Runo.
“kamu duluan aja, saya masih mau disini”, sahutnya, Runo tak heran, karena selama ini temannya itu memang menyukai kesendirian. Runo pun tak mengerti apa yang difikirkan lelaki sebayanya itu. Bahasa bicaranya memang selalu demikian, saat pertama kali mengenalnya diapun selalu begitu, selalu menggunakan kata ‘saya’, dengan orang terdekat sekalipun.
“ya udah aku balik duluan, aku dah laper, Mak Ijah pasti udah masak nih”, ujar Runo. Ia hanya mengangguk-angguk tak terpengaruh dengan kata-kata Runo barusan.
Tubuhnya menghadap ke arah timur, menghadap matahari pagi yang mulai naik. Matanya sedikit-sedikit mulai menyipit karena matahari yang mulai memaksa matanya untuk terpejam tak mampu menatapnya langsung. Sudah sejak selesai shalat subuh mereka turun dari rumah Mufid untuk jalan-jalan di areal perpetakan sawah yang terkenal didaerah itu. Letaknya memang di kampung halaman Mufid, sehingga mereka sekelompok pemuda yang punya hobi traveling bersama-sama mengunjungi daerah itu. Penat berhari-hari memperjuangkan kebenaran di kampus, lalu hampir di DO, tapi keputusan itu masih menggantung, dan diakhir pekan mereka berada disini.
“Eh Ruq! ngapain kamu disini?”, tanya Mufid yang menghampirinya dengan sedikit berlari.
“merenung aja, kamu kayak nggak kenal saya aja”, sahutnya dengan alis saling bertaut karena tak mampu menantang matahari. Kedua alisnya yang memang hampir menyatu itu semakin disatukan oleh matahari. Mufid mengambil posisi duduk disampingnya.
“kata-kata apa yang kamu punya?”, tanya Mufid.
“Saya ingin menantang matahari, apa saya masih sanggup”, sahut Faruq. Runo mencibir.
“kamu nih ada-ada aja, kamu mau nantang yang nggak mungkin, yang realistis aja”, seru Mufid. Faruq tergelak.
“ketawa lagi tuh”, ujar Mufid.
“enggak, kalau saya nantangin Tuhan iya baru nggak mungkin, saya nggak menantang untuk menang kok, Cuma mengukur seberapa besar keberanian saya”, sahut Faruq.
“gimana nasib kuliah kamu selanjutnya ruq?”, tanya Mufid mengganti topik pembicaraan mereka yang tak jelas tadi.
“kamu khawatir?”, tanya Faruq.
“enggak, aku santai aja sih, malah pengen ketawa terus, abis lucu banget sih, ya iyyalah ruq, aku mikir aja kalau sampai kamu di DO gimana, kamu kan temen aku, saudara aku”, jawab Mufid sekenanya tapi bermaksud serius.
“kamu tenang aja, saya udah siap dengan segala konsekuensinya, saya yakin yang kita perjuangkan nggak akan sia-sia, bagaimana saya nanti saya juga yakin bisa saya atasi, meskipun saya harus kehilangan almamater saya tidak masalah, asalkan saya sudah pernah berbuat sesuatu untuk kampus, sekalipun itu tidak berarti besar bagi orang lain, terima kasih karena kamu dan teman-teman mau ikut andil waktu itu”, Mufid semakin kagum pada sahabatnya itu.
“aku bangga pernah mengenal kamu ruq, walaupun kalau udah ngomong sama kamu selalu aja kamu nggak punya kendali untuk berhenti, tapi aku bangga, kamu sekuat ini, kami gentar karena permasalahan ini, padahal kami tidak sampai terancam di DO, tapi kamu yang nyata-nyata hampir di DO malah bisa berkata seperti ini”, ujar Mufid..
“kamu ini apa-apaan fid, gitu aja kok jangan berlebihan, ya udah kita pulang aja, saya udah lapar ni, selesai perenungannya”, ujar Faruq sambil menepuk-nepuk bahu Mufid.

***
Isu dikampus sebenarnya sedang menguap-nguap, hanya tak banyak yang tahu karena memang tidak pernah mau tahu. Hanya segelintir orang yang perduli apa kabar kampus hari itu. Sekedar tahu saja bahkan tak cukup.
Faruq dan teman-teman seperkumpulannya mengorek isu ini. Seolah-olah telah menjadi kewajaran, kejahatan dibenarkan. Entah itu di anggap atau tidak, Faruq merasa kampus adalah Indonesia kecilnya, disana ada sebuah pemerintahan, organisasi dan masyarakat. Hatinya menjadi tidak tenang melihat yang tak benar menjadi sebuah kebenaran yang salah. Ada orang-orang yang menumpuk uang dibalik perut gendutnya, diam-diam saja, dan menjadi rahasia bagi dirinya dan orang-orang terkait saja.
Bukan tanpa alasan isu ini menguak, tidak ada keburukan yang kekal tertutupi, semua akan terbuka dengan sendirinya jika tak mau membuka diri.
“Bang, Rini ada cerita nih”, seru Rini pada Runo, abang kandungnya yang 3 tahun lebih tua darinya. Mereka kuliah disatu universitas dan satu fakultas pula, hanya saja berbeda program.
“ada apa?”, Runo seorang pendengar yang baik, adiknya seseorang yang sangat terbuka, apapun diceritakannya pada Runo, sekalipun seringkali ia bercerita hal yang tak penting.
“kemarin nih, Rini ketemu sama orang bang, trus orang itu bilang kalo dia dulu kuliah dikampus kita juga bang, udah kerja sih sekarang, dia cerita kalo dia dulu kuliah nggak pernah bayar semesteran lo bang, keren ya”,
“wah bagus tu Rin, beasiswa dong”, sahutnya.
“emm kata dia sih gitu, dia bilang gampang dapetnya, lobi aja ama Bang Fahmi, abang itu bilang dulu sih ngasi 10% sama dia trus dapet deh, yah buat upah ngurusin lah gitu katanya”.
“Bang Fahmi?”, Runo sontak kaget. Rini mengangguk-angguk dengan wajah datar. Entah sadar atau tidak ia sedang menyimpan sesuatu yang besar.
“trus dia bilang apa lagi?”, tanya Runo.
“trus dia bilang kalo aku mau, dia mau bantu ngurusin soalnya dia udah deket sama bang Fahminya”, ujar Rini.
“kamu jawab apa Rin?”, tanya Runo penasaran, tapi wajah Rini seolah menceritakan kelahiran anak kucingnya.
“aku bilang entar aja, soalnya aku fikir aku harus izin sama abang dulu, kan disini kita anak rantau, abang yang jagain aku, jadi aku harus konsultasi dulu sama abang”, Runo mengelus kepala Rini. Bagaimanapun Rini sangat menghormati Runo.
“kamu udah pernah ceritain ini ke orang?”, tanya Runo.
“belum, sama abang doang kok, aku tahu, pasti abang suruh diem-diem”,lanjut Rini.

***
Mendengar itu Runo bergegas pergi ke kampus, mencari orang yang dirasanya tepat mendengarkan cerita tentang hal tadi.
Runo menemukannya sedang berada di musola usai shalat dzuhur. Ia seperti biasanya sedang sendiri, menyandarkan punggungnya di tembok mushola kecil itu, tapi kali ini dengan buku ditangannya, matanya fokus pada tulisan-tulisan dalam buku itu. Faruq memang senang membaca, tak hanya itu ia juga punya bakat menulis. Kecintaannya pada kata-kata membuatnya semakin menggilai buku-buku, dan itu menambah pemahamannya pada banyak hal. Faruq sampai tak sadar Runo sudah berada dihadapannya.
“Ruq, serius banget kamu sampe nggak sadar ada aku disini”, ujar Runo sambil mengambil posisi duduk disamping Faruq dan menepuk-nepuk bahunya. Faruq tersenyum dan menutup bukunya setelah sebelumnya diberi batas bacaan.
“maaf, ada apa Run kamu kok tiba-tiba kesini, ada sesuatu yang mau kamu omongkan?”, tanya Faruq. Runo mengangguk dengan wajah serius. Masalah ini memang bukan masalah biasa bagi Runo, baginya jika permasalahan ini dibiarkan akan menjadi jamur, dan baginya ini adalah perihal dirinya, mahasiswa, bangsa dan negeri ini. Banyak pemuda yang mungkin tak lagi perduli akan negeri ini, segala isu negeri ini hanya sebuah cerita tak penting dan bukan menjadi urusannya, biarkan pemerintah yang bertindak. Baginya mahasiswa adalah pengawal pemerintahan, mengawasi kebijakan-kebijakan pemerintah, meski itu hanya menjadi kesadaran segelintir mahasiswa.
Diceritakannya kejadian yang dialami adiknya beberapa waktu lalu, Faruq mengangguk-angguk, ia menyimak dengan serius.
“saya sebenarnya udah dengar masalah ini, DPM juga sudah minta bantuan sama BEM karena setelah diklarifikasi malah menemui jalan buntu, ini bahkan memang sudah jadi rahasia umum, saya sedang coba mengorek-ngorek kebenaran isu ini, dan sekarang malah ada informasi seperti ini jadi semakin jelas rasanya, memang harus ada yang dilakukan Run, secepatnya kita akan adakan rapat”, tanya Faruq.
“iya ruq, aku jujur aja kecewa sekali mendengarnya, persoalan ini sudah dianggap bukan masalah, ini kan bahaya, nanti sedikit banyak akan berpengaruh sama mahasiswanya, bisa-bisa hal kayak gini diikutin, padahal hak kita sedang terjajah, mau jadi apa negeri ini ruq kalau hal seperti ini dibenarkan”, ujar Runo berapi-api. Faruq memintanya untuk tetap tenang dan memikirkan langkah apa yang harusnya mereka lakukan. Mereka saling berdiskusi, tapi dalam berdiskusi antara Runo dengan Faruq perbandingannya 10:1000, 10 kata dari Runo akan menimbulkan 1000 kalimat dari Faruq, Faruq memang sangat senang berbicara, kadang-kadang juga keluar dari jalurnya, dan sulit menghentikannya bicara, unik.

***
Faruq lebih serius memperbincangkan hal ini dengan teman-teman yang dirasanya perduli dan ingin berbuat sesuatu. Faruq adalah presiden mahasiswa di kampus saat itu bekerja sama dengan DPM mereka mengusut kasus ini, dimulai dengan mencari informasi lebih banyak terkait hal ini, dan bertanya pada dosen, walaupun seringkali mendapat sambutan tidak baik mereka tetap mencari tahu, dan saat informasi terkumpul, mereka mulai berfikir, sepertinya memang dari pihak Fakultas tidak mendukung apa yang mereka lakukan, bahkan terkesan menghalang-halangi. Hal ini juga sudah mereka coba bicarakan dengan dekan, tetapi justru sambutan yang tidak baik yang mereka dapat, mereka dianggap mencoreng nama fakultas, isu ini memang beredar tidak hanya dilingkungan fakultas saja, bahkan sampai diketahui pihak Universitas.
“Sepertinya usaha kita tidak mendapat respon yang baik, kita sudah coba berbagai cara, kita sudah coba klarifikasi dengan pihak-pihak terkait, bahkan dengan dekan, kita juga coba singgung masalah ini dengan media-media yang ada dikampus, tapi kita menemui jalan buntu, jadi jalan terakhir menurut saya kita perlu mengadakan aksi”, seru Mufid sebagai pejabat menteri Sospolad saat itu dalam agenda rapat DPM dan BEM yang mereka adakan karena permasalahan yang mereka hadapi saat itu. Beberapa menjadi riuh saat itu dan beberapa orang yang lain tampak berfikir keras mengenai pendapat Mufid. Monik mengangkat tangannya menunjukkan bahwa dirinya ingin membuka suara. Doni, ketua DPM yang memimpin rapat saat itu meminta agar peserta rapat menenangkan diri.
“tapi ini akan membahayakan kita, dari awal saya lihat saat kita mulai mengorek-ngorek masalah ini saja kita sudah disambut dengan tidak baik, bisa-bisa kita di DO, apalagi waktu menemui dekan, karena saya saat itu juga ikut, jadi saya tahu persis dekan sangat tersinggung saat itu, saya rasa dan saya perkirakan kalau kita tetap melakukan aksi, dekan tidak akan segan-segan merekomendasikan ke rektor untuk mendrop out kita”, seru Monik perwakilan dari DPM. Dalam rapat itu mereka terpecah menjadi tiga golongan, golongan yang pro terhadap usulan Mufid, golongan yang kontra, dan golongan ketiga yang tidak tahu harus berbuat apa hanya diam saja.
“kita voting saja”, ujar Doni. Mereka segera melakukan voting agar hasil yang didapat bisa disepakati bersama. Ternyata hasil yang didapat lebih dominan untuk melakukan aksi. Monik dan beberapa diantara mereka tampak kecewa, lalu terlihat berbisik sebentar.
“hasil yang didapat ternyata kita tetap melakukan aksi, dan saya harap hasil voting ini menjadi kesepakatan kita bersama”, ujar Doni.
“maaf Don, juga teman-teman yang lain, saya dan beberapa teman-teman nggak setuju, saya tidak mau mengambil resiko untuk sampai harus kehilangan almamater saya karena masalah ini, karena itu sekarang saya putuskan untuk tidak terlibat dalam masalah ini”, ujar Monik. Runo terkejut mendengar penuturan Monik.
“kalau begitu sebaiknya anda keluar saja dari DPM, untuk apa anda ada di DPM kalau anda tidak terlibat dalam perjuangan ini”, Runo berang. Faruq menenangkan Runo.
“saya juga tidak keberatan untuk itu, hargai dong keputusan saya, kamu nggak usah khawatir, sore ini juga saya akan ajukan surat pengunduran diri saya”, ujar Monik pada Runo.
“saya permisi teman-teman”, ujar Monik sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan diikuti beberapa temannya.

***
Hari itu aktivis-aktivis kampus terutama dari lembaga DPM dan BEM turun lapangan menggelar aksi terkait ketidak jelasan alur beasiswa di halaman kampus. Faruq memimpin aksi itu, ia berdiri sebagai orator disana. Perkuliahan hari itu terganggu, saat orasi itu digelar, seluruh dosen-dosen yang berada dikampus bahkan yang sedang mengajar keluar melihat kejadian yang tidak mereka duga sebelumnya. Mereka terlihat kalang kabut dan masuk kembali keruangan, sepertinya diadakan rapat dadakan. Doni mencari tahu ke dalam gedung itu, melihat dari pintu ruangan yang terdapat kaca dipintunya, ternyata memang benar, para dosen dan staf mengadakan rapat dadakan. Tapi dilihatnya dekan tidak ada diruangan tersebut.
“kamu ngapain disini? Mau nguping rapat dosen? Iya? Ikut saya keluar sekarang”, Dekan tiba-tiba sudah berada dihadapannya tanpa ia sadari. Doni terkejut dan ikut saja apa kata dekan tersebut. Saat tiba diluar Doni kembali bergabung dengan yang lain. Dekan sudah kelihatan sangat berang, tak pernah semarah ini sebelumnya. Dilihatnya Faruq dengan mata yang penuh amarah.
“jadi kamu kepalanya ya? Sudah saya katakan dari awal jangan ungkit hal ini, karena hal ini tidak benar dan mencoreng nama baik fakultas”, ujar dekan.
“beri kami klarifikasi yang jelas pak, kami perlu bukti untuk masalah ini, kami tidak mau hak-hak kami dijajah, dan membiarkan yang tidak benar terus berjalan dikampus kita! Kalau memang apa yang kami pertanyakan selama ini tidak benar, buktikan pada kami Pak!”, seru Faruq.
“selama ini kami sudah coba jalur advokasi, tetapi tidak mendapat respon yang baik, dengan alasan itu kami ada disini Pak”, lanjut yang lain saling mendukung.
“Kamu....”, dekan menunjuk-nunjuk Faruq dengan geram. Wajar jika kemarahan dekan tertuju pada Faruq karena selama ini Faruq yang paling getol mengorek masalah ini.
“Kamu akan saya DO dari kampus ini! Keluar kamu dari kampus ini sekarang!”, wajah dekan memerah, tangannya memegangi dadanya, beliau tampak kesakitan, Faruq beranjak mencoba menolong tapi tangannya ditepis oleh Pak Erlangga, dekan fakultas dimana ia belajar. Pak Erlangga kemudian jatuh pinsan. Mereka bergegas membawa dekan ke rumah sakit.

***
Tidak sedikit yang kemudian menyalahkan Faruq karena kejadian ini, tapi Faruq berusaha memegang teguh apa yang menjadi tujuannya. Meski dugaan Monik ternyata benar-benar terjadi paling tidak ia merasa sedikit lega, karena ancaman itu ditujukan hanya untuk dirinya. Saat mereka berada di rumah Mufid, pak Erlangga masih berada dirumah sakit. Namun keadaannya sudah mulai membaik, dan menurut kabar yang santer terdengar aksi yang digelar oleh Faruq dan teman-temannya beberapa waktu lalu akan ditindak lanjuti, dan terutama Faruq yang dianggap memprovokasi terancam di drop out.
Doni menepuk bahu Faruq yang sedang duduk di pelataran rumah Mufid. Doni duduk disampingnya. Terdengar bunyi jangkrik saling bersahut-sahutan, sudah jam 21.00 malam, jalanan di perkampungan tempat tinggal Mufid sudah sepi. Mereka berdua saja dipelataran. Mufid, Runo dan Syafi ada di dalam rumah berbincang dengan Mak Ijah, Ibu Mufid.
“kamu kok seneng sekali menyendiri sih ruq, apa yang sebenernya kamu fikirin?”, tanya Doni.
“apa kamu sedang mikirin ancaman dekan kemaren itu?”, lanjutnya
“kalau memang itu yang kamu fikirkan, kamu tenang saja, aku dan temen-temen pasti bantu kamu untuk menyelesaikan masalah ini, saya udah konfirmasi ke DPM fakultas tentang permasalahan kampus kita, dan mereka sedang membawa masalah ini ke universitas, kita tunggu kabar dari mereka lagi, karena mereka minta kita untuk menunggu dulu”, lanjut Doni tanpa membiarkan Faruq menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
“saya tahu temen-temen pasti bantu saya, trima kasih Don, tapi saya suka menyendiri sudah dari dulu kok, bukan baru-baru ini saja, saya Cuma merenung saja, saya suka cari inspirasi, besok pagi kita pulang Don, kita istirahat aja, perjalanan besok pasti menghabiskan tenaga”, ajak Faruq.

***
Setelah kepulangan mereka mahasiswa lain yang tadinya tidak perduli rupanya juga penasaran akan kelanjutan kisah aktivis kampus itu. Kabar itu memang dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, banyak respon yang didapat, bermacam-macam.
“Makanya disuruh kuliah malah demo-demo, gitu deh akibatnya”, komentar yang mencibir perjuangan mereka. Ada juga beberapa yang turut mendoakan agar masalah segera terselesaikan dengan baik.
Faruq mendapat panggilan dari dekan, rupanya beliau sudah sembuh. Sekuat mungkin ia berusaha tenang, ia hanya berfikir apapun yang terjadi nanti semoga usahanya membuahkan hasil, kalaupun ia harus benar-benar di drop out itu adalah sebuah pengorbanan untuk sebuah perjuangan yang mereka lakukan.
Faruq duduk dengan tenang diruangan dekan, berhadapan dengan beliau dengan perasaan tak jelas.
“kamu tentunya sudah faham apa alasan saya memanggil kamu kesini”, ujar beliau sambil berdiri dari duduknya dan berjalan disekitar tempat Faruq duduk. Faruq mengangguk tetap pada posisinya.
“kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan itu sudah mencoreng nama baik Fakultas ini, bahkan Universitas”, lanjut beliau.
“saya melakukan itu semua karena alasan-alasan yang bisa saya pertanggung jawabkan”, sahut Faruq.
“saya sudah dengar alasan-alasan kamu waktu itu, kamu tidak perlu menjelaskan lagi”,
“saya minta maaf memancing emosi bapak sampai bapak jatuh sakit, bukan maksud saya pak ...”,
“saya tahu itu, tidak perlu kamu jelaskan”, Pak Erlangga memotong kata-kata Faruq dengan nada datar, tapi tak mengurangi wibawanya.
“saya memanggil kamu karena saya ingin mengucapkan terima kasih, kalian sudah menjalankan tugas kalian dengan benar”, Faruq terkejut, ia langsung menghadap kearah Pak Erlangga. Faruq tak ingin bertanya mengapa, karena ia amat yakin ini adalah pertolongan Allah, selalu ada pertolongan tak terduga darimana datangnya.
“Kemarin sewaktu saya dirumah sakit ada alumni dari sini menjenguk saya, dan dia menceritakan apa yang pernah ia lakukan semasa kuliah disini, menceritakan kong kali kongnya tentang alur beasiswa itu secara jujur, saya tidak serta merta percaya, saya minta rekan-rekan saya untuk menyelidiki ini, dan memang ada yang tidak beres, saya mulai membuka mata saya, selama ini saya mungkin kurang jeli melihat ketidak beresan ini, karena itu sekarang masalah ini sedang kami usut, dan saya mencabut kata-kata saya tentang ancaman drop out itu, kamu boleh bernafas lega sekarang”, ujar beliau. Faruq sama sekali tak mempunyai gambaran tentang siapa orang yang memberikan titik perubahan pada sudut pandang Pak Erlangga itu.
“dan mengenai siapa orang yang sudah menyelamatkan kamu itu, kamu tidak perlu tahu, ini menjadi rahasia saya dan orang itu, dia mendengar berita tentang kamu dan dia merasa perlu membela kamu, sehingga dia lakukan itu, kamu dapet salam dari dia, saya minta maaf untuk semua yang sudah terjadi antara kami dan kalian, pejuang kampus ini, sekarang kamu boleh keluar dari ruangan saya, terima kasih”, ujar Pak Erlangga. Faruq tersenyum puas, akhirnya usaha mereka menuai hasil. Hanya tinggal menunggu hasil, semuanya pasti terungkap.

***
Aku Rini, saksi dari perjuangan mereka, aku saat itu memang hanya seorang mahasiswa baru yang notabene belum begitu mengenal kampus, tapi abangku menceritakan banyak hal, dan aku juga antusias untuk lebih jauh mengenal kampusku, mengenalkanku tentang artinya menjadi seorang mahasiswa. Bagaimana seharusnya aku menjadi pemuda bangsa ini, aku sangat bangga pernah menjadi orang yang berada diantara mereka.
Setelah Pak dekan memanggil Faruq memang benar kasus itu diusut oleh pihak fakultas, meskipun alot karena tersusun amat rapi akhirnya masalah itu terungkap juga. Bang Fahmi dikeluarkan dari kampus karena terbukti menyalah gunakan amanahnya dengan menyelewengkan beasiswa itu kepada orang yang tidak berhak. Akhirnya sekarang semua menjadi stabil kembali, dan beasiswa sekarang selalu jatuh pada orang yang tepat.
Saat ini aku meneruskan perjuangan Bang Doni, menjalankan tugas sebagai Ketua DPM terpilih hingga setahun kedepan, meskipun aku seorang perempuan, dan dulu terkesan sangat polos, tapi aku banyak belajar untuk menjadi dewasa dan bertanggung jawab atas setiap ucapan dan perbuatanku. mereka semua sudah lulus dan memiliki kehidupan masing-masing, tapi masih tetap berjuang untuk negeri ini. Sejarahpun telah menuliskan nama mereka di kampus ini. Mereka adalah pelukis senja, menjadikannya berwarna saat matahari mulai tenggelam dan memberikan terang saat kegelapan mulai datang.

THE END

BAB DUA

·

Semburat merah langit Jakarta
             Sore selepas bermain futsal aku pulang kerumah. Aku selalu ingat untuk sarapan dan makan malam dirumah, masakan Ibu tidak ada yang menandingi. Ibu selalu bisa membuatku sedemikian rupa merindukannya. Kuharap gadisku nanti akan seperti Ibu, lagi-lagi mengkhayal, mungkin karena sekian lama menjomblo, aku tertawa sendiri.
            “mas, bannya kempes”, seseorang menegurku. Seorang lelaki tua bervespa warna merah delima.
            “oh iya pak terima kasih”, aku baru menyadari motorku agak goyang dikendarai. Lelaki tua tadi kemudian mendahuluiku. Aku menepi, mencari bengkel dijalan-jalan yang kulalui, dan bertanya-tanya pada orang. Hari sudah sore, semburat mega mulai tampak.
            “di dekat musola di gang sana ada mas, mas lurus aja, trus ada apotik didepan gangnya, apotik sehat namanya mas, gak jauh masuk ke gang ada musola, nah dideket situ ada bengkel mas”, ujar seseorang yang kutanyai. Setelah mengucapkan terima kasih aku mengikuti arahan dari orang tadi. Jalanan seperti biasa selalu ramai tapi tidak macet. Aku masuk ke gang yang dimaksud orang tadi sambil terus mendorong motorku, hanya berjarak beberapa rumah aku sudah menemukan mushola yang dimaksud, dan langsung menemukan bengkel yang hanya berjarak 2 rumah saja dari musola itu. Aku langsung membawa motorku ke bengkel, sambil menunggu aku melihat-lihat sekitar, kulihat vespa warna merah delima diparkir di halaman mushola. Kupandangi vespa itu, menarik. Sepertinya pemiliknya adalah bapak tua yang tadi menegurku karena ban motorku kempes, hatiku tergerak untuk melihatnya lebih dekat. Aku mengamati vespa itu hingga tak sadar seseorang berdiri di dekatku.
            “Assalamu’alaikum”, aku mengangkat kepalaku yang tengah mengamati motor tadi. Setengah terkejut melihat pemilik suara ternyata bapak tua tadi.
            “maaf pak, saya hanya melihat-lihat”, ujarku tanpa menyahut salamnya.
            “iya, iya, tidak apa-apa, motor ini memang tua tapi masih dalam kondisi baik”, ujarnya tanpa ditanyai sembari tangannya menepuk-nepuk pelan bagian kepala motornya.
            “iya, kelihatan sekali bapak merawatnya dengan baik”, aku mengiyakan sambil masih memperhatikan. Tiba-tiba adzan berkumandang dari speaker masjid, semburat mega merah kelihatan megah, mempesona. Bapak tua itu menepuk pundakku.
            “Baiknya kita shalat dulu, nanti bisa kita lanjutkan lagi”, aku menoleh sebentar ke bengkel, ban motorku pasti sudah selesai diganti, tak butuh waktu lama. Tapi ajakan Bapak tua ini mempesonaku, entah karena semburat merah langit Jakarta sore ini atau apapun aku akhirnya mengiyakan, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali aku melakukan ini.

Lamat-lamat ku amati sekitar, sepi. Musola ini kecil, dan hanya ada kami berlima di dalamnya, aku, Bapak tua tadi, seorang remaja usia belasan tahun yang kuduga mengumandangkan adzan tadi, seorang anak kecil perempuan dan Ibunya. Tapi bisa kulihat Mushola ini bersih, terawat setidaknya ini berarti masih ada orang-orang yang bersedia menghidupkan mushola kecil seperti ini.
            “Silahkan nak”, bapak tadi mempersilahkanku maju ke depan dan menjadi imam shalat. Aku terbengong-bengong dan sedikit gugup. 
            “saya belum sunat pak”, glek, aku kemudian menyesal dengan apa yang kukatakan, menepuk mulutku sendiri, tentu saja kenyataannya tidak begitu. Remaja tanggung yang berdiri di sebelahku kemudian tertawa, tapi lalu ditahannya saat aku menoleh dan agak heran melihatnya tertawa. Bapak tua tadi hanya tersenyum-senyum lalu mengangguk-angguk beralih untuk memposisikan diri sebagai imam shalat.
***
            Sesampainya di rumah aku segera menghampiri meja makan. Perutku sudah terlalu lapar untuk menyisihkan waktu mandi. Apalagi mencium aroma masakan ibu, tak sanggup jika harus menunggu selesai mandi, lagipula saat paling nikmat menyantap makanan adalah saat perut dalam kondisi lapar.
            “Kakak ini jelek, gimana mau punya pacar, mandi aja nggak mau”, celetuk Mega.
            “Hey gendut, darimana kamu tahu soal pacaran? masih kecil udah tahu begituan”
        “kata Jodi Kakaknya udah punya pacar, aku tanya sama dia, pacar itu apa, katanya pacar itu seperti Ayah sama Ibu”, Jodi anak tetangga kami sekaligus teman sekolah Mega. Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

BAB SATU (orientation)

·

Selamat pagi Jakarta !
            Kedua mataku yang masih terpejam mengkerut merasakan sinar matahari yang menerobos masuk entah darimana. Selimut masih rapat menutupi sekujur tubuhku. Sinar matahari yang masuk rasanya hangat menerpa pipiku. Akhirnya kedua mataku mengalah untuk perlahan membuka.
            “Aaah Ibu ...”, Wanita terbaikku itu tengah berdiri didekat jendela. Akhirnya aku tahu Ibu membukakan jendela untuk membuatku bangun.
            Ibuku hanya diam sambil mengemasi barang-barangku diatas meja didekat jendela. Seorang bocah berusia sekitar 5 tahun berlari ke arahku seperti banteng mengejar kain merah.
            “Mega ….!!!”, teriakku. Refleks aku langsung duduk, bocah gendut itu tidak sadar ranjangku bisa saja roboh karena ulahnya. Tubuhnya gempal dan pipinya tembem sangat menggemaskan. Ibu tersenyum-senyum melihat kami berdua.
            “Kakak, bangun!”, Ujarnya sambil menaiki ranjangku.
            “Iya ... ini aku sudah bangun gendut, memangnya kamu nggak lihat”,
            “lihat aku punya tas baru”, ia memamerkan tas barunya dengan senyum memperlihatkan deretan giginya yang tak rata.
            “Hahaha iya, bagus sekali, aku juga punya oleh-oleh untukmu”, Matanya langsung membulat mendengar kata-kataku dengan rona wajah semakin menggemaskan.
            “Apa? apa?”, wajahnya penasaran dan sangat senang.
            “semalam kamu udah tidur waktu mau kukasih, jadi kusimpan di pojok kamarku deh, tuh”, jari telunjukku menunjuk ke sudut kiri kamar dekat dengan pintu. Matanya langsung beralih ke ujung jariku. Matanya yang bulat bersih berbinar melihat benda dipojok kamarku.
            “Bernard ...... !!!!”, Sebuah boneka beruang putih tergeletak disana, tanpa basa-basi Mega berlari menuruni ranjang dan mengambilnya, ukurannya bahkan melebihi ukuran tubuhnya. Aku melihat ke arah Ibu, Ibu tersenyum. Biasanya aku paling senang membuatnya menangis, tapi aku juga kan saudara yang baik, membuatnya kegirangan juga sangat menyenangkan, jadi aku memutuskan membelikannya boneka.
            “Bilang apa sama Kakak?”, Ujar Ibuku menghampiri Mega yang sudah tak ingat selain boneka besar dalam pelukannya.
            “Makasih Kakak”, Mega langsung berlari keluar dari kamarku, pasti ia sedang berniat memamerkan boneka barunya pada Ayah Arman, Ayah tiriku.
            Aku bergegas bangun dan berniat mandi, sudah sebulan lebih aku tak melihat tempat ini, rindu. Yah, sebulan ke belakang aku tengah libur semester genap, liburan panjang, ayah kandungku memintaku untuk berada disana selama libur beberapa waktu, bukan apa-apa hanya rindu. Aku sudah terbiasa dengan hidup seperti itu, yang sulit hanya karena Ayah jauh, sudah 3 tahun belakangan ayah tinggal di New York, bersama Tyo saudara kembarku. Ayah sudah menikah lagi dengan wanita dari New York, seorang wanita karir. Ayahku seorang seniman, pelukis yang lumayan punya nama, tak sulit baginya bertemu dan berkenalan dengan bule-bule seperti Ibu tiriku sekarang. Aku tak keberatan, sejak awal perceraian kedua orang tuaku aku sudah bisa menerimanya, terkadang perpisahan lebih baik jika bersama sudah tak sejalan lagi. Komunikasi mereka justru terlihat lebih baik setelah berpisah.
***
            Aku menghampiri meja makan, ada Ibu yang tengah menyuapi adik tiriku, Mega. Mega anak dari Ibu dengan Ayah Arman, meski hubunganku tak begitu dekat Ayah Arman, aku menghargainya sebagai seorang lelaki yang mencintai Ibu dan menghadiahiku Mega, si gendut yang cerewet. Ada Ayah Arman juga disana, aku duduk dan ikut sarapan dengan mereka. Sedikit basa-basi dengan Ayah Arman agar tak terlalu kaku, tapi beliau baik, paling tidak aku tahu sikapnya lembut pada Ibu, beliau orang yang tidak banyak bicara, aku tak perlu khawatir ia akan menyakiti Ibuku. Ayah Arman manager disalah satu BANK swasta, beliau lebih muda dari Ibu beberapa tahun, tapi kelihatan sangat matang. Beliau juga punya hubungan baik dengan ayah kandungku, tak ada masalah yang berarti, tak ada alasan untukku jadi brutal karena dianggap berasal dari keluarga yang pernah gagal.
            Semalam aku baru saja sampai di Indonesia setelah berlibur di rumah baru Ayahku, kulihat kehidupan ayah dan keluarga barunya tak sulit, disana seni lebih banyak dihargai, dalam jangka waktu setahun lebih ayah sudah punya galeri sendiri, walaupun tidak besar tapi menurutku itu hebat. Ibu tiriku, Nicole namanya, aku memanggilnya Mom, dia ramah, beliau juga tak keberatan dengan kehidupan masa lalu ayahku, aku hanya terkendala masalah bahasa dengannya, karena bahasa inggrisku memang tak begitu bagus.
            Tyo saudara kembarku yang sempurna, ia mengambil semua keindahan ibu dan ayah, wajah tampan, kulit putih Ibu, hidung mancung Ayah, rambut lurus Ayah, tubuh tinggi Ayah,  dan otak cerdas Ibu! Tapi aku punya hubungan yang sangat dekat dengan Tyo, apalagi setelah kami saling jauh. Setelah dewasa kami semakin mengerti satu sama lain, konflik sering terjadi tapi justru itu yang selalu membuat kami kian dekat. Tyo tak mewarisi bakat seni ayah, tapi ia mewarisi kecerdasan ibu, sekarang ia sudah menyelesaikan study-nya, tapi ia melanjutkan S2 disana, matematika, entah apa lebih spesifiknya.
            Dan aku, Ryo si keriting, rambutku panjang melebihi bahu, berkulit hitam, dengan kecerdasan dan wajah yang biasa saja, hidung tidak mancung, tapi juga tidak pesek, tapi aku juga bertubuh tinggi, tinggiku kurang lebih dengan Tyo, aku heran mengapa dokter tega mengatakan kami kembar hanya karena lahir berselang beberapa menit dari Ibu yang sama, karena semua orang yang tahu itu akan mengatakan, “kok beda?”, yang bisa kubanggakan dari Tyo hanya gingsulku yang menurut orang gingsul itu membuat seseorang tampak lebih manis, itu juga atas persepsiku sendiri, tapi Tyo tidak punya itu! Aku mahasiswa teknik elektro disalah satu universitas di Jakarta, sudah 5 tahun lebih belum juga selesai, tapi aku tengah menyusun skripsi, kuharap kali ini aku bisa menyelesaikannya segera.
            “Ibu, ayah, aku berangkat dulu, aku harus ke kampus hari ini”, ujarku setelah menghabiskan sepiring nasi goreng lezat buatan Ibu dan menenggak segelas air putih diatas meja.
***
            “Ahh selamat pagi Jakarta!”, seruku dalam hati. Pagi di hari senin akan jadi hari yang padat untuk kebanyakan orang, tapi tidak untukku, sebenarnya aku tidak ada kegiatan apa-apa dikampus, hanya saja kampus sudah seperti rumah keduaku setelah rumah tempatku tinggal.  Aku berkaca melalui kaca spion motorku, memastikan wajah manisku ini cukup baik tampil dikampus. Motor ini sudah bertahun-tahun menemaniku, aku membelinya dari hasil keringatku sendiri, aku mau bekerja apa saja, mulai dari bertukang, berjualan, apapun selama itu tak melanggar hukum. Motor ini kubeli dengan kondisi yang tidak begitu baik, tapi aku bisa habis-habisan membuatnya tampan dan gagah, itu yang membuatku selalu mengendarainya dengan bangga, aku menyebutnya “”.
            Seperti biasa jalanan selalu padat, tapi aku tak diburu waktu, sehingga kubiarkan saja kendaraan lain menyelip-nyelip mendahuluiku. Mobil-mobil mewah berseliweran, gadis-gadis cantik, orang-orang tua, remaja-remaja, anak-anak, bunyi klakson yang membisingkan, suara-suara marah, gelak tawa, semua menjadi satu, aku menikmati pagi di Jakarta seperti ini.
            Aku memakirkan motorku tak jauh dari kantin, aku tahu bisa menemukan teman-temanku disini, kantin sederhana milik Ibu Nuna. Meski sederhana kantin ini paling ramai, pelayanan yang ramah dan harga yang murah tentunya. Rakyat Indonesia selalu menyukai tempat seperti ini, tentunya rakyat kecil sepertiku. Aku melambaikan tangan dari kejauhan saat sadar teman-temanku melihat ke arahku. Aku segera menghampiri mereka. Kantin Ibu Nuna menyediakan tempat duduk lesehan, dan tempat ini yang jadi markas kami berkumpul.
            “Wah … sudah datang kau rupanya Ryo, beta kira tidak pulang lagi kau ke Indonesia”, Tedi menyambutku dengan logat ambonnya yang kental.
            “hahaha, mana mungkin gue nggak balik lagi, rumah gue disini, lagian mau ngomong apa gue sama bule-bule disana, yang gue tau Cuma yes, no, ok, I love you”, Tedi dan teman-teman lain yang berada disitu tertawa renyah. Tedi, teman baikku, walaupun terlihat gahar karena perawakannya yang besar dan sifatnya yang cenderung emosional, tapi Tedi sosok yang solid, sangat menghargai arti kawan.
            “Kinan bro”, celetuk Beni melihat Kinan melewati tempat kami duduk. Teman-temanku memang selalu menjodoh-jodohkan aku dengan Kinan, karena selama mereka mengenalku aku tidak pernah bercerita tentang gadis yang kusuka, atau menunjukkan sikap suka pada seorang gadis. Kinan memang cantik, gadis baik, ramah, tidak ada alasan untuk tidak menyukainya, tapi aku dan Kinan hanya bisa berteman biasa. Bukan tidak pernah aku jatuh cinta, bukan tidak ingin aku mencintai dan dicintai seseorang, aku hanya belum menemukannya, tepatnya belum menemukan lagi seseorang yang tepat. Sampai saat ini dalam hidupku hanya ada dua wanita saja, Ibu dan Mega.
            “Sore ini kita main futsal yo, kurang satu orang, lu ikut ya”, ajak Beni membuyarkan lamunanku tentang wanita. Aku mengiyakan lalu pembicaraan beralih ke sepak bola. Aku sendiri tergila-gila pada bola, hanya saja aku tidak berminat menjadikannya lebih dari sekedar hoby, tapi untuk meluangkan waktu bermain bola aku tidak pernah ragu. Jangan-jangan kalau aku punya pacar aku akan lebih mencintai bola daripada gadis itu, aku tertawa sendiri memikirkan itu.

Kaukah Itu?

·

Kaukah itu ...
yang bersembunyi saat semburat merah mengelabuiku
kaukah itu ...
yang meniupkan angin dalam kantong-kantong kosong untukku
kaukah itu ...
yang memajang rindu di langit-langit kamarku ..

Aku bertanya ...
kau diam ...
aku diam ...
dan kau ...
tak kufahami bagaimana berkisah dalam bisumu lebih tak kufahami ...
bagaimana aku merogoh kisah itu untuk kudekap dalam buku-buku yang tak baku ..

Kita bertukar lagu saat gersang saling memandang melewati jauhnya lautan dan daratan
kaukah itu ...
dua matamu yang menjatuhkan hujan kaukah itu ...
yang menggandengkanku dengan angin ..

Kaukah itu ...
yang menuliskan prasasti di dinding langit Tuhan ..
bagaimana tanganmu wahai kau yang menanam mimpi ditanahku
kaukah itu ...
saat pagi berbisik membangunkanku ...
kaukah itu ...
yang setia mengarungiku hingga habis masa itu ...

Maghrib

·


Maghrib,
penghulu matahari menarik diri
Mengawinkannya dengan senja ..
Dalam mega terpekur seorang-seorang saja

Suara-suara kereta dalam barisan hari ini terhenti
Segera sajak-sajak berkejar-kejar dengan angin
Gelombangnya memotong sejumlah potongan garis kota lalu mengaburkannya

Lalu dalam haru dan resahnya
musola kecil dalam kota besar
Bertubi-tubi memanggil-manggil
Sang kelana yang tak jua rehat dari perjalanannya

Jauh nian dalam pandangannya
Sebuah telaga dalam peta ..
Padahal telaga tengah pasang
Saat maghrib dimusola kecil kota besar

Pontianak,maghrib mengikat senja
Singgahlah dan raup air dalam telaga

Aku Jemu

·

bukan ia yang berdiri dengan setangkai bunga mawar disudut kota
Ia hanya penggoda buku-buku cinta
Yang tertumpu dibahunya kata-kata dan bayangan hidup penuh romansa

Aromamu polusi diselubung hunian
Terkontaminasi racun tercampur dalam pendek nafasku
Mau tak mau bukan tak mau tapi tak bisa tak mau
Aku menghirupmu
Seperti candu pada pil setan ..

Aku jemu
Tak dapat selesaikan pertarungan denganmu
Hah !! Ku katakan pertarungan tapi candu dibatinku
Seperti dendam canduku menggelora mengaduk-ngaduk seluruh bola-bola dalam hunianku
Ingin kurampas seluruh aromamu
Biar aku mati oleh racunmu

Aku jemu
Melihatmu dari bilik sepi seperti kedua bola matamu yang memenjarakanku
aku jemu
Menghirup aromamu saja di tempat kuletakkan kedua tanganku
Aku jemu
Kau lalu lalang kadang tak bergeming didepan mataku

Aku jemu
Serumpun daun hanya bicara dalam sepoi tentangmu
Tak ada lainkah ..
Mauku kau tinggal saja atau kau pergi saja
Tapi mauku tak bisa tidak

Maka aku jemu
Pada aromamu
Mencekikku tapi tak mati
Kau diselubung hunianku tak masuk tak juga pergi

Bidadari Bersayap Kupu-kupu

·



jariku kaku tak dapat menggenggammu
lidahku kelu tak bisa bicara denganmu
mataku terlalu berat untuk dapat memandangmu
tapi fikiranku terpenjara olehmu ...

Lihatlah ...
Laut sedang pasang sayang
tidakkah kau sadari itu ...

Lihatlah ...
Pantaimu menghilang ...

Kau lihat seorang bidadari kecil disana
ia kepayahan karena hanya bersayap kupu-kupu
ia tak dapat pergi dari pasangnya lautmu
ia sadar sayapnya tak sanggup menopangnya untuk dapat pergi ...
air matanya yang menenggelamkan pantai ...
air matanya yang membuat lautmu pasang ...


tapi tahukah ...
bidadari kecil itu justru ingin tenggelam sedalam-dalamnya di lautmu
biarlah tak dapat lagi menyentuh awan
asal ia dapat sembunyi di kedalamanmu ...


Ia bidadari kecil bersayap kupu-kupu
ia bahkan menanggalkan sayapnya
dengan luka berdarah-darah
kulihat di wajahnya terkulum senyum kecil
yang tak dapat kumaknai ...

Esok tak ada lagi pantai
tak ada lagi bidadari kecil itu
bidadari bersayap kupu-kupu
hanya sepenggal cerita usang tak bernyawa

Teruntuk calon imam terkasihku ...

·

Menjengukmu dalam naungan-Nya ...

Bismillahirrahmanirrahim ...
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh ...

Apa kabar calon imamku disebrang sana?semoga Allah selalu mendekapmu dengan rahmat-Nya,dan tak henti menghujanimu dengan cinta-Nya ...
Apa kabar hati? apa kabar iman? dimanakah iman itu? surutkah? atau ia tengah bersembunyi dan tak kita temukan ...
ataukah tak bersisa ? semoga Allah senantiasa menumbuhkannya dihati kita dan semoga kita termasuk golongan orang-orang yang memeliharanya

dengarlah sayang, saat kutuliskan surat ini aku hanyalah seorang hamba yang dho'if yang entah layakkah aku menyebut diriku sebagai hamba-Nya
kita hanyalah debu-debu kotor yang dapat habis tersapu angin ...
siapakah perduli pada debu-debu kotor itu ...

Kekasihku,jika kita tau seberapa luaskah jagad raya ini
maka sadarlah kita betapa kecilnya diri kita ...
Jika kita tau seberapa kuatnya penguasa jagad raya ini
sadarlah kita betapa lemahnya diri kita



Wahai lelakiku ...
tahukah engkau titah-Nya dalam surat cinta untuk hamba-Nya itu?
tentulah engkau tahu ...
kata-kata dalam lembaran suci itu adalah titah ...
sebagaimana saat ia berkata pada setiap wanita untuk menutup dirinya
maka kututup diriku agar Allah ridho padaku ...
itulah mengapa aku ingin engkau selalu memelihara pandanganmu ...

Bukankah inginmu miliki tulang rusuk yang solihat?
demikianpun aku ...
inginku aku adalah bagian dari tulang rusuk seorang yang sholih ...
yang menjadikan Allah sebagai sandaran hidup-Nya ...
yang menjadikan malam-malamnya sebagai perjumpaan dengan kekasih sejati-Nya
saat orang lain terlelap ia tengah tertunduk diatas sajadahnya
menengadahkan tangan menghimpun doa ...

Suatu hari nanti kita akan berjumpa
dalam kehendak-Nya
bukan dengan mahkota atau gaun indah
tapi dengan sebuah ikatan yang menghimpun kita dalam kecintaan-Nya

Percayalah,akupun amat dambakan perjumpaan itu
sebagaimana Siti Hawa merindukan Nabi Adam saat terpisah oleh kehendak-Nya
dengan kehendak-Nya mereka terpisah
maka dengan kehendak-Nya pulalah mereka dipertemukan



Maka berjuanglah sayang ...
perbanyak perbekalan untuk perjalanan yang melelahkan ini
aku percaya bilapun kita tak berjumpa didunia
Allah akan pertemukan kita disana
disisi-Nya dengan keindahan tak terkira

Rembulan Separuh

·








Tahukah,
Sebulan lalu, kurekat-rekat pecahan pigura dengan sesak dan payah
Ku simpan diam-diam agar tak seorangpun tahu
karena rembulan separuh tengah berjaga-jaga di pintu langit

Lalu kutepuk-tepuk air dibawah cahayanya
Rembulan separuh duduk anggun dan tersenyum padaku
Ku genggam dengan tangan basah
Rembulan tersenyum lagi, tidak ada

Berlari kukejar siapa entah mau kemana
Ku intip lagi pigura yang kurekat-rekat sebulan lalu
Ia cantik lagi, dalam lemari kaca entah siapa punya
Hendak ku taruh di meja kamarku tak tahu bagaimana

Kemarin,
Rembulan separuh muncul lagi,
Ku tatap iba piguraku yang pecah lagi
Lagi, kurekat-rekat dengan tangis
Tak lagi sembunyi, di bawah rembulan separuh kutaruh nanti

Gadis Kecil Berkerudung Hitam

·

Sepi,
Tepian Kota Basah berongga-rongga
Mati membisu dibunuh naluri

Gelap,
Rintik dibawah kaki langit lewati lorong tanpa nafas
Semua mematung dengan sendiri

Habis,
Lampu kota padam oleh suara angin
Seorang gadis kecil berkerudung hitam
Sedu sedan dibawah lentera

Hilang,
Sejenak lalu kosong
Setengah-setengah lalu hilang

Lengang,
Gadis kecil berkerudung hitam
Tanpa isyarat ikuti kota
Diselimuti bisu rinai hujan

Malaikat Terindah

·

Matanya sendu
setiap garis di wajahnya mengisahkan hidup
bahwa segala kebahagiaannya ia persembahkan untukku
dan segala kepedihannya hanya menjadi miliknya seorang


Tangannya yang hangat
miliki jutaan energi yang mampu barakan hati
dan leburkan batu yang keras di tebing2 tinggi
senyumnya mampu alirkan darah yang beku


air matanya mematikan hati
melumpuhkan daya yang kecil ini
ia malaikat yang sayapnya tak terlihat
cahayanya hanya milik siapa yang memandangnya jauh


kecantikannya tersimpan dibalik keriput2 masa di dahinya
saat2 malam berlalu jauh
dan ia duduk disana
untukku


Mama
malaikat terindahku

Sakau

·

Setiap detik mengalahkan mesin yang menderu

mengalahkan udara yang berkejaran mencari ruang

kadang kala aku tersesat

lalu kucari jalan pulang



dengan denting piano

yang ciptakan nada dan lirik

inspirasikan tarian manusia

penuh makna dalam derap-derapnya





relief yang dipahat oleh masa

pada sebuah tembok apik ditengah2 dunia

adalah fase indah yang ku nikmati di atas kakiku

memilih untuk tetap tegak pada posisi ini



sakau pada satu harapan

menghiba-hiba pada Tuhan

menjatuhkan keinginan ditangan yang kosong ini

memaksa diri melepas genggaman karena sebuah ketakutan

meski ketakutan ini seharusnya bukan menjadi hakku

Hujan

·

Hujan turun ..
Aq memeluk lututku sendiri
berharapp tak ada yang tw ada luka yang kututup
dan hujan yang turun mengingatkanku tentang hati
dan biasan pelangi yang selalu hadir kala itu
yang selalu ku nantikan hingga senja berakhir
dan saat malam datang takut merenggutnya
merenggut hal yang tak kumiliki sekalipun
Kekuatan yang kian meruntuh
mengajarkan aku untuk merangkainya kembali
tapi setiap nafas ini kutarik
sesak yang kurasa
memaksaku untuk menyerah
ku biarkan rinai hujan menyentuhku
membasahi setiap garis2 hidup yang kulalui
dan aku kedinginan
tak ingin menyudahinya
hanya inginkan sebuah perapian yang berikan aku cahaya
dan panas untuk obati kebekuan ini

Pemuda Pelukis Senja

·

Oleh: Erni Susanti

Ia duduk disebuah jembatan yang menghubungkan petak-petak sawah, kakinya dibiarkannya menggantung menyentuh air yang warnanya agak kemerahan seperti teh. Jembatan pendek itu kuat berada diatas sebuah parit yang lumayan besar. Di sebelahnya berdiri Runo teman sekelasnya dibangku perkuliahan. Tangannya bertumpu diatas pahanya dengan jari jemari saling berkaitan seolah saling menguatkan, dan tubuhnya agak condong kedepan.
Padi yang hijau masih basah karena embun pagi, seperti juga ia yang basah karena tetesan embun, tapi tak ia perdulikan pagi yang dingin itu menyergap-nyergap tubuhnya. Ia sudah akrab dengan kondisi demikian, kesenangannya terhadap alam membuat alam seolah telah menjadikannya teman.
“Ayo kita balik”, ajak Runo.
“kamu duluan aja, saya masih mau disini”, sahutnya, Runo tak heran, karena selama ini temannya itu memang menyukai kesendirian. Runo pun tak mengerti apa yang difikirkan lelaki sebayanya itu. Bahasa bicaranya memang selalu demikian, saat pertama kali mengenalnya diapun selalu begitu, selalu menggunakan kata ‘saya’, dengan orang terdekat sekalipun.
“ya udah aku balik duluan, aku dah laper, Mak Ijah pasti udah masak nih”, ujar Runo. Ia hanya mengangguk-angguk tak terpengaruh dengan kata-kata Runo barusan.
Tubuhnya menghadap ke arah timur, menghadap matahari pagi yang mulai naik. Matanya sedikit-sedikit mulai menyipit karena matahari yang mulai memaksa matanya untuk terpejam tak mampu menatapnya langsung. Sudah sejak selesai shalat subuh mereka turun dari rumah Mufid untuk jalan-jalan di areal perpetakan sawah yang terkenal didaerah itu. Letaknya memang di kampung halaman Mufid, sehingga mereka sekelompok pemuda yang punya hobi traveling bersama-sama mengunjungi daerah itu. Penat berhari-hari memperjuangkan kebenaran di kampus, lalu hampir di DO, tapi keputusan itu masih menggantung, dan diakhir pekan mereka berada disini.
“Eh Ruq! ngapain kamu disini?”, tanya Mufid yang menghampirinya dengan sedikit berlari.
“merenung aja, kamu kayak nggak kenal saya aja”, sahutnya dengan alis saling bertaut karena tak mampu menantang matahari. Kedua alisnya yang memang hampir menyatu itu semakin disatukan oleh matahari. Mufid mengambil posisi duduk disampingnya.
“kata-kata apa yang kamu punya?”, tanya Mufid.
“Saya ingin menantang matahari, apa saya masih sanggup”, sahut Faruq. Runo mencibir.
“kamu nih ada-ada aja, kamu mau nantang yang nggak mungkin, yang realistis aja”, seru Mufid. Faruq tergelak.
“ketawa lagi tuh”, ujar Mufid.
“enggak, kalau saya nantangin Tuhan iya baru nggak mungkin, saya nggak menantang untuk menang kok, Cuma mengukur seberapa besar keberanian saya”, sahut Faruq.
“gimana nasib kuliah kamu selanjutnya ruq?”, tanya Mufid mengganti topik pembicaraan mereka yang tak jelas tadi.
“kamu khawatir?”, tanya Faruq.
“enggak, aku santai aja sih, malah pengen ketawa terus, abis lucu banget sih, ya iyyalah ruq, aku mikir aja kalau sampai kamu di DO gimana, kamu kan temen aku, saudara aku”, jawab Mufid sekenanya tapi bermaksud serius.
“kamu tenang aja, saya udah siap dengan segala konsekuensinya, saya yakin yang kita perjuangkan nggak akan sia-sia, bagaimana saya nanti saya juga yakin bisa saya atasi, meskipun saya harus kehilangan almamater saya tidak masalah, asalkan saya sudah pernah berbuat sesuatu untuk kampus, sekalipun itu tidak berarti besar bagi orang lain, terima kasih karena kamu dan teman-teman mau ikut andil waktu itu”, Mufid semakin kagum pada sahabatnya itu.
“aku bangga pernah mengenal kamu ruq, walaupun kalau udah ngomong sama kamu selalu aja kamu nggak punya kendali untuk berhenti, tapi aku bangga, kamu sekuat ini, kami gentar karena permasalahan ini, padahal kami tidak sampai terancam di DO, tapi kamu yang nyata-nyata hampir di DO malah bisa berkata seperti ini”, ujar Mufid..
“kamu ini apa-apaan fid, gitu aja kok jangan berlebihan, ya udah kita pulang aja, saya udah lapar ni, selesai perenungannya”, ujar Faruq sambil menepuk-nepuk bahu Mufid.

***
Isu dikampus sebenarnya sedang menguap-nguap, hanya tak banyak yang tahu karena memang tidak pernah mau tahu. Hanya segelintir orang yang perduli apa kabar kampus hari itu. Sekedar tahu saja bahkan tak cukup.
Faruq dan teman-teman seperkumpulannya mengorek isu ini. Seolah-olah telah menjadi kewajaran, kejahatan dibenarkan. Entah itu di anggap atau tidak, Faruq merasa kampus adalah Indonesia kecilnya, disana ada sebuah pemerintahan, organisasi dan masyarakat. Hatinya menjadi tidak tenang melihat yang tak benar menjadi sebuah kebenaran yang salah. Ada orang-orang yang menumpuk uang dibalik perut gendutnya, diam-diam saja, dan menjadi rahasia bagi dirinya dan orang-orang terkait saja.
Bukan tanpa alasan isu ini menguak, tidak ada keburukan yang kekal tertutupi, semua akan terbuka dengan sendirinya jika tak mau membuka diri.
“Bang, Rini ada cerita nih”, seru Rini pada Runo, abang kandungnya yang 3 tahun lebih tua darinya. Mereka kuliah disatu universitas dan satu fakultas pula, hanya saja berbeda program.
“ada apa?”, Runo seorang pendengar yang baik, adiknya seseorang yang sangat terbuka, apapun diceritakannya pada Runo, sekalipun seringkali ia bercerita hal yang tak penting.
“kemarin nih, Rini ketemu sama orang bang, trus orang itu bilang kalo dia dulu kuliah dikampus kita juga bang, udah kerja sih sekarang, dia cerita kalo dia dulu kuliah nggak pernah bayar semesteran lo bang, keren ya”,
“wah bagus tu Rin, beasiswa dong”, sahutnya.
“emm kata dia sih gitu, dia bilang gampang dapetnya, lobi aja ama Bang Fahmi, abang itu bilang dulu sih ngasi 10% sama dia trus dapet deh, yah buat upah ngurusin lah gitu katanya”.
“Bang Fahmi?”, Runo sontak kaget. Rini mengangguk-angguk dengan wajah datar. Entah sadar atau tidak ia sedang menyimpan sesuatu yang besar.
“trus dia bilang apa lagi?”, tanya Runo.
“trus dia bilang kalo aku mau, dia mau bantu ngurusin soalnya dia udah deket sama bang Fahminya”, ujar Rini.
“kamu jawab apa Rin?”, tanya Runo penasaran, tapi wajah Rini seolah menceritakan kelahiran anak kucingnya.
“aku bilang entar aja, soalnya aku fikir aku harus izin sama abang dulu, kan disini kita anak rantau, abang yang jagain aku, jadi aku harus konsultasi dulu sama abang”, Runo mengelus kepala Rini. Bagaimanapun Rini sangat menghormati Runo.
“kamu udah pernah ceritain ini ke orang?”, tanya Runo.
“belum, sama abang doang kok, aku tahu, pasti abang suruh diem-diem”,lanjut Rini.

***
Mendengar itu Runo bergegas pergi ke kampus, mencari orang yang dirasanya tepat mendengarkan cerita tentang hal tadi.
Runo menemukannya sedang berada di musola usai shalat dzuhur. Ia seperti biasanya sedang sendiri, menyandarkan punggungnya di tembok mushola kecil itu, tapi kali ini dengan buku ditangannya, matanya fokus pada tulisan-tulisan dalam buku itu. Faruq memang senang membaca, tak hanya itu ia juga punya bakat menulis. Kecintaannya pada kata-kata membuatnya semakin menggilai buku-buku, dan itu menambah pemahamannya pada banyak hal. Faruq sampai tak sadar Runo sudah berada dihadapannya.
“Ruq, serius banget kamu sampe nggak sadar ada aku disini”, ujar Runo sambil mengambil posisi duduk disamping Faruq dan menepuk-nepuk bahunya. Faruq tersenyum dan menutup bukunya setelah sebelumnya diberi batas bacaan.
“maaf, ada apa Run kamu kok tiba-tiba kesini, ada sesuatu yang mau kamu omongkan?”, tanya Faruq. Runo mengangguk dengan wajah serius. Masalah ini memang bukan masalah biasa bagi Runo, baginya jika permasalahan ini dibiarkan akan menjadi jamur, dan baginya ini adalah perihal dirinya, mahasiswa, bangsa dan negeri ini. Banyak pemuda yang mungkin tak lagi perduli akan negeri ini, segala isu negeri ini hanya sebuah cerita tak penting dan bukan menjadi urusannya, biarkan pemerintah yang bertindak. Baginya mahasiswa adalah pengawal pemerintahan, mengawasi kebijakan-kebijakan pemerintah, meski itu hanya menjadi kesadaran segelintir mahasiswa.
Diceritakannya kejadian yang dialami adiknya beberapa waktu lalu, Faruq mengangguk-angguk, ia menyimak dengan serius.
“saya sebenarnya udah dengar masalah ini, DPM juga sudah minta bantuan sama BEM karena setelah diklarifikasi malah menemui jalan buntu, ini bahkan memang sudah jadi rahasia umum, saya sedang coba mengorek-ngorek kebenaran isu ini, dan sekarang malah ada informasi seperti ini jadi semakin jelas rasanya, memang harus ada yang dilakukan Run, secepatnya kita akan adakan rapat”, tanya Faruq.
“iya ruq, aku jujur aja kecewa sekali mendengarnya, persoalan ini sudah dianggap bukan masalah, ini kan bahaya, nanti sedikit banyak akan berpengaruh sama mahasiswanya, bisa-bisa hal kayak gini diikutin, padahal hak kita sedang terjajah, mau jadi apa negeri ini ruq kalau hal seperti ini dibenarkan”, ujar Runo berapi-api. Faruq memintanya untuk tetap tenang dan memikirkan langkah apa yang harusnya mereka lakukan. Mereka saling berdiskusi, tapi dalam berdiskusi antara Runo dengan Faruq perbandingannya 10:1000, 10 kata dari Runo akan menimbulkan 1000 kalimat dari Faruq, Faruq memang sangat senang berbicara, kadang-kadang juga keluar dari jalurnya, dan sulit menghentikannya bicara, unik.

***
Faruq lebih serius memperbincangkan hal ini dengan teman-teman yang dirasanya perduli dan ingin berbuat sesuatu. Faruq adalah presiden mahasiswa di kampus saat itu bekerja sama dengan DPM mereka mengusut kasus ini, dimulai dengan mencari informasi lebih banyak terkait hal ini, dan bertanya pada dosen, walaupun seringkali mendapat sambutan tidak baik mereka tetap mencari tahu, dan saat informasi terkumpul, mereka mulai berfikir, sepertinya memang dari pihak Fakultas tidak mendukung apa yang mereka lakukan, bahkan terkesan menghalang-halangi. Hal ini juga sudah mereka coba bicarakan dengan dekan, tetapi justru sambutan yang tidak baik yang mereka dapat, mereka dianggap mencoreng nama fakultas, isu ini memang beredar tidak hanya dilingkungan fakultas saja, bahkan sampai diketahui pihak Universitas.
“Sepertinya usaha kita tidak mendapat respon yang baik, kita sudah coba berbagai cara, kita sudah coba klarifikasi dengan pihak-pihak terkait, bahkan dengan dekan, kita juga coba singgung masalah ini dengan media-media yang ada dikampus, tapi kita menemui jalan buntu, jadi jalan terakhir menurut saya kita perlu mengadakan aksi”, seru Mufid sebagai pejabat menteri Sospolad saat itu dalam agenda rapat DPM dan BEM yang mereka adakan karena permasalahan yang mereka hadapi saat itu. Beberapa menjadi riuh saat itu dan beberapa orang yang lain tampak berfikir keras mengenai pendapat Mufid. Monik mengangkat tangannya menunjukkan bahwa dirinya ingin membuka suara. Doni, ketua DPM yang memimpin rapat saat itu meminta agar peserta rapat menenangkan diri.
“tapi ini akan membahayakan kita, dari awal saya lihat saat kita mulai mengorek-ngorek masalah ini saja kita sudah disambut dengan tidak baik, bisa-bisa kita di DO, apalagi waktu menemui dekan, karena saya saat itu juga ikut, jadi saya tahu persis dekan sangat tersinggung saat itu, saya rasa dan saya perkirakan kalau kita tetap melakukan aksi, dekan tidak akan segan-segan merekomendasikan ke rektor untuk mendrop out kita”, seru Monik perwakilan dari DPM. Dalam rapat itu mereka terpecah menjadi tiga golongan, golongan yang pro terhadap usulan Mufid, golongan yang kontra, dan golongan ketiga yang tidak tahu harus berbuat apa hanya diam saja.
“kita voting saja”, ujar Doni. Mereka segera melakukan voting agar hasil yang didapat bisa disepakati bersama. Ternyata hasil yang didapat lebih dominan untuk melakukan aksi. Monik dan beberapa diantara mereka tampak kecewa, lalu terlihat berbisik sebentar.
“hasil yang didapat ternyata kita tetap melakukan aksi, dan saya harap hasil voting ini menjadi kesepakatan kita bersama”, ujar Doni.
“maaf Don, juga teman-teman yang lain, saya dan beberapa teman-teman nggak setuju, saya tidak mau mengambil resiko untuk sampai harus kehilangan almamater saya karena masalah ini, karena itu sekarang saya putuskan untuk tidak terlibat dalam masalah ini”, ujar Monik. Runo terkejut mendengar penuturan Monik.
“kalau begitu sebaiknya anda keluar saja dari DPM, untuk apa anda ada di DPM kalau anda tidak terlibat dalam perjuangan ini”, Runo berang. Faruq menenangkan Runo.
“saya juga tidak keberatan untuk itu, hargai dong keputusan saya, kamu nggak usah khawatir, sore ini juga saya akan ajukan surat pengunduran diri saya”, ujar Monik pada Runo.
“saya permisi teman-teman”, ujar Monik sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan diikuti beberapa temannya.

***
Hari itu aktivis-aktivis kampus terutama dari lembaga DPM dan BEM turun lapangan menggelar aksi terkait ketidak jelasan alur beasiswa di halaman kampus. Faruq memimpin aksi itu, ia berdiri sebagai orator disana. Perkuliahan hari itu terganggu, saat orasi itu digelar, seluruh dosen-dosen yang berada dikampus bahkan yang sedang mengajar keluar melihat kejadian yang tidak mereka duga sebelumnya. Mereka terlihat kalang kabut dan masuk kembali keruangan, sepertinya diadakan rapat dadakan. Doni mencari tahu ke dalam gedung itu, melihat dari pintu ruangan yang terdapat kaca dipintunya, ternyata memang benar, para dosen dan staf mengadakan rapat dadakan. Tapi dilihatnya dekan tidak ada diruangan tersebut.
“kamu ngapain disini? Mau nguping rapat dosen? Iya? Ikut saya keluar sekarang”, Dekan tiba-tiba sudah berada dihadapannya tanpa ia sadari. Doni terkejut dan ikut saja apa kata dekan tersebut. Saat tiba diluar Doni kembali bergabung dengan yang lain. Dekan sudah kelihatan sangat berang, tak pernah semarah ini sebelumnya. Dilihatnya Faruq dengan mata yang penuh amarah.
“jadi kamu kepalanya ya? Sudah saya katakan dari awal jangan ungkit hal ini, karena hal ini tidak benar dan mencoreng nama baik fakultas”, ujar dekan.
“beri kami klarifikasi yang jelas pak, kami perlu bukti untuk masalah ini, kami tidak mau hak-hak kami dijajah, dan membiarkan yang tidak benar terus berjalan dikampus kita! Kalau memang apa yang kami pertanyakan selama ini tidak benar, buktikan pada kami Pak!”, seru Faruq.
“selama ini kami sudah coba jalur advokasi, tetapi tidak mendapat respon yang baik, dengan alasan itu kami ada disini Pak”, lanjut yang lain saling mendukung.
“Kamu....”, dekan menunjuk-nunjuk Faruq dengan geram. Wajar jika kemarahan dekan tertuju pada Faruq karena selama ini Faruq yang paling getol mengorek masalah ini.
“Kamu akan saya DO dari kampus ini! Keluar kamu dari kampus ini sekarang!”, wajah dekan memerah, tangannya memegangi dadanya, beliau tampak kesakitan, Faruq beranjak mencoba menolong tapi tangannya ditepis oleh Pak Erlangga, dekan fakultas dimana ia belajar. Pak Erlangga kemudian jatuh pinsan. Mereka bergegas membawa dekan ke rumah sakit.

***
Tidak sedikit yang kemudian menyalahkan Faruq karena kejadian ini, tapi Faruq berusaha memegang teguh apa yang menjadi tujuannya. Meski dugaan Monik ternyata benar-benar terjadi paling tidak ia merasa sedikit lega, karena ancaman itu ditujukan hanya untuk dirinya. Saat mereka berada di rumah Mufid, pak Erlangga masih berada dirumah sakit. Namun keadaannya sudah mulai membaik, dan menurut kabar yang santer terdengar aksi yang digelar oleh Faruq dan teman-temannya beberapa waktu lalu akan ditindak lanjuti, dan terutama Faruq yang dianggap memprovokasi terancam di drop out.
Doni menepuk bahu Faruq yang sedang duduk di pelataran rumah Mufid. Doni duduk disampingnya. Terdengar bunyi jangkrik saling bersahut-sahutan, sudah jam 21.00 malam, jalanan di perkampungan tempat tinggal Mufid sudah sepi. Mereka berdua saja dipelataran. Mufid, Runo dan Syafi ada di dalam rumah berbincang dengan Mak Ijah, Ibu Mufid.
“kamu kok seneng sekali menyendiri sih ruq, apa yang sebenernya kamu fikirin?”, tanya Doni.
“apa kamu sedang mikirin ancaman dekan kemaren itu?”, lanjutnya
“kalau memang itu yang kamu fikirkan, kamu tenang saja, aku dan temen-temen pasti bantu kamu untuk menyelesaikan masalah ini, saya udah konfirmasi ke DPM fakultas tentang permasalahan kampus kita, dan mereka sedang membawa masalah ini ke universitas, kita tunggu kabar dari mereka lagi, karena mereka minta kita untuk menunggu dulu”, lanjut Doni tanpa membiarkan Faruq menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
“saya tahu temen-temen pasti bantu saya, trima kasih Don, tapi saya suka menyendiri sudah dari dulu kok, bukan baru-baru ini saja, saya Cuma merenung saja, saya suka cari inspirasi, besok pagi kita pulang Don, kita istirahat aja, perjalanan besok pasti menghabiskan tenaga”, ajak Faruq.

***
Setelah kepulangan mereka mahasiswa lain yang tadinya tidak perduli rupanya juga penasaran akan kelanjutan kisah aktivis kampus itu. Kabar itu memang dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, banyak respon yang didapat, bermacam-macam.
“Makanya disuruh kuliah malah demo-demo, gitu deh akibatnya”, komentar yang mencibir perjuangan mereka. Ada juga beberapa yang turut mendoakan agar masalah segera terselesaikan dengan baik.
Faruq mendapat panggilan dari dekan, rupanya beliau sudah sembuh. Sekuat mungkin ia berusaha tenang, ia hanya berfikir apapun yang terjadi nanti semoga usahanya membuahkan hasil, kalaupun ia harus benar-benar di drop out itu adalah sebuah pengorbanan untuk sebuah perjuangan yang mereka lakukan.
Faruq duduk dengan tenang diruangan dekan, berhadapan dengan beliau dengan perasaan tak jelas.
“kamu tentunya sudah faham apa alasan saya memanggil kamu kesini”, ujar beliau sambil berdiri dari duduknya dan berjalan disekitar tempat Faruq duduk. Faruq mengangguk tetap pada posisinya.
“kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan itu sudah mencoreng nama baik Fakultas ini, bahkan Universitas”, lanjut beliau.
“saya melakukan itu semua karena alasan-alasan yang bisa saya pertanggung jawabkan”, sahut Faruq.
“saya sudah dengar alasan-alasan kamu waktu itu, kamu tidak perlu menjelaskan lagi”,
“saya minta maaf memancing emosi bapak sampai bapak jatuh sakit, bukan maksud saya pak ...”,
“saya tahu itu, tidak perlu kamu jelaskan”, Pak Erlangga memotong kata-kata Faruq dengan nada datar, tapi tak mengurangi wibawanya.
“saya memanggil kamu karena saya ingin mengucapkan terima kasih, kalian sudah menjalankan tugas kalian dengan benar”, Faruq terkejut, ia langsung menghadap kearah Pak Erlangga. Faruq tak ingin bertanya mengapa, karena ia amat yakin ini adalah pertolongan Allah, selalu ada pertolongan tak terduga darimana datangnya.
“Kemarin sewaktu saya dirumah sakit ada alumni dari sini menjenguk saya, dan dia menceritakan apa yang pernah ia lakukan semasa kuliah disini, menceritakan kong kali kongnya tentang alur beasiswa itu secara jujur, saya tidak serta merta percaya, saya minta rekan-rekan saya untuk menyelidiki ini, dan memang ada yang tidak beres, saya mulai membuka mata saya, selama ini saya mungkin kurang jeli melihat ketidak beresan ini, karena itu sekarang masalah ini sedang kami usut, dan saya mencabut kata-kata saya tentang ancaman drop out itu, kamu boleh bernafas lega sekarang”, ujar beliau. Faruq sama sekali tak mempunyai gambaran tentang siapa orang yang memberikan titik perubahan pada sudut pandang Pak Erlangga itu.
“dan mengenai siapa orang yang sudah menyelamatkan kamu itu, kamu tidak perlu tahu, ini menjadi rahasia saya dan orang itu, dia mendengar berita tentang kamu dan dia merasa perlu membela kamu, sehingga dia lakukan itu, kamu dapet salam dari dia, saya minta maaf untuk semua yang sudah terjadi antara kami dan kalian, pejuang kampus ini, sekarang kamu boleh keluar dari ruangan saya, terima kasih”, ujar Pak Erlangga. Faruq tersenyum puas, akhirnya usaha mereka menuai hasil. Hanya tinggal menunggu hasil, semuanya pasti terungkap.

***
Aku Rini, saksi dari perjuangan mereka, aku saat itu memang hanya seorang mahasiswa baru yang notabene belum begitu mengenal kampus, tapi abangku menceritakan banyak hal, dan aku juga antusias untuk lebih jauh mengenal kampusku, mengenalkanku tentang artinya menjadi seorang mahasiswa. Bagaimana seharusnya aku menjadi pemuda bangsa ini, aku sangat bangga pernah menjadi orang yang berada diantara mereka.
Setelah Pak dekan memanggil Faruq memang benar kasus itu diusut oleh pihak fakultas, meskipun alot karena tersusun amat rapi akhirnya masalah itu terungkap juga. Bang Fahmi dikeluarkan dari kampus karena terbukti menyalah gunakan amanahnya dengan menyelewengkan beasiswa itu kepada orang yang tidak berhak. Akhirnya sekarang semua menjadi stabil kembali, dan beasiswa sekarang selalu jatuh pada orang yang tepat.
Saat ini aku meneruskan perjuangan Bang Doni, menjalankan tugas sebagai Ketua DPM terpilih hingga setahun kedepan, meskipun aku seorang perempuan, dan dulu terkesan sangat polos, tapi aku banyak belajar untuk menjadi dewasa dan bertanggung jawab atas setiap ucapan dan perbuatanku. mereka semua sudah lulus dan memiliki kehidupan masing-masing, tapi masih tetap berjuang untuk negeri ini. Sejarahpun telah menuliskan nama mereka di kampus ini. Mereka adalah pelukis senja, menjadikannya berwarna saat matahari mulai tenggelam dan memberikan terang saat kegelapan mulai datang.

THE END

Rabu, 20 Juni 2012

BAB DUA


Semburat merah langit Jakarta
             Sore selepas bermain futsal aku pulang kerumah. Aku selalu ingat untuk sarapan dan makan malam dirumah, masakan Ibu tidak ada yang menandingi. Ibu selalu bisa membuatku sedemikian rupa merindukannya. Kuharap gadisku nanti akan seperti Ibu, lagi-lagi mengkhayal, mungkin karena sekian lama menjomblo, aku tertawa sendiri.
            “mas, bannya kempes”, seseorang menegurku. Seorang lelaki tua bervespa warna merah delima.
            “oh iya pak terima kasih”, aku baru menyadari motorku agak goyang dikendarai. Lelaki tua tadi kemudian mendahuluiku. Aku menepi, mencari bengkel dijalan-jalan yang kulalui, dan bertanya-tanya pada orang. Hari sudah sore, semburat mega mulai tampak.
            “di dekat musola di gang sana ada mas, mas lurus aja, trus ada apotik didepan gangnya, apotik sehat namanya mas, gak jauh masuk ke gang ada musola, nah dideket situ ada bengkel mas”, ujar seseorang yang kutanyai. Setelah mengucapkan terima kasih aku mengikuti arahan dari orang tadi. Jalanan seperti biasa selalu ramai tapi tidak macet. Aku masuk ke gang yang dimaksud orang tadi sambil terus mendorong motorku, hanya berjarak beberapa rumah aku sudah menemukan mushola yang dimaksud, dan langsung menemukan bengkel yang hanya berjarak 2 rumah saja dari musola itu. Aku langsung membawa motorku ke bengkel, sambil menunggu aku melihat-lihat sekitar, kulihat vespa warna merah delima diparkir di halaman mushola. Kupandangi vespa itu, menarik. Sepertinya pemiliknya adalah bapak tua yang tadi menegurku karena ban motorku kempes, hatiku tergerak untuk melihatnya lebih dekat. Aku mengamati vespa itu hingga tak sadar seseorang berdiri di dekatku.
            “Assalamu’alaikum”, aku mengangkat kepalaku yang tengah mengamati motor tadi. Setengah terkejut melihat pemilik suara ternyata bapak tua tadi.
            “maaf pak, saya hanya melihat-lihat”, ujarku tanpa menyahut salamnya.
            “iya, iya, tidak apa-apa, motor ini memang tua tapi masih dalam kondisi baik”, ujarnya tanpa ditanyai sembari tangannya menepuk-nepuk pelan bagian kepala motornya.
            “iya, kelihatan sekali bapak merawatnya dengan baik”, aku mengiyakan sambil masih memperhatikan. Tiba-tiba adzan berkumandang dari speaker masjid, semburat mega merah kelihatan megah, mempesona. Bapak tua itu menepuk pundakku.
            “Baiknya kita shalat dulu, nanti bisa kita lanjutkan lagi”, aku menoleh sebentar ke bengkel, ban motorku pasti sudah selesai diganti, tak butuh waktu lama. Tapi ajakan Bapak tua ini mempesonaku, entah karena semburat merah langit Jakarta sore ini atau apapun aku akhirnya mengiyakan, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali aku melakukan ini.

Lamat-lamat ku amati sekitar, sepi. Musola ini kecil, dan hanya ada kami berlima di dalamnya, aku, Bapak tua tadi, seorang remaja usia belasan tahun yang kuduga mengumandangkan adzan tadi, seorang anak kecil perempuan dan Ibunya. Tapi bisa kulihat Mushola ini bersih, terawat setidaknya ini berarti masih ada orang-orang yang bersedia menghidupkan mushola kecil seperti ini.
            “Silahkan nak”, bapak tadi mempersilahkanku maju ke depan dan menjadi imam shalat. Aku terbengong-bengong dan sedikit gugup. 
            “saya belum sunat pak”, glek, aku kemudian menyesal dengan apa yang kukatakan, menepuk mulutku sendiri, tentu saja kenyataannya tidak begitu. Remaja tanggung yang berdiri di sebelahku kemudian tertawa, tapi lalu ditahannya saat aku menoleh dan agak heran melihatnya tertawa. Bapak tua tadi hanya tersenyum-senyum lalu mengangguk-angguk beralih untuk memposisikan diri sebagai imam shalat.
***
            Sesampainya di rumah aku segera menghampiri meja makan. Perutku sudah terlalu lapar untuk menyisihkan waktu mandi. Apalagi mencium aroma masakan ibu, tak sanggup jika harus menunggu selesai mandi, lagipula saat paling nikmat menyantap makanan adalah saat perut dalam kondisi lapar.
            “Kakak ini jelek, gimana mau punya pacar, mandi aja nggak mau”, celetuk Mega.
            “Hey gendut, darimana kamu tahu soal pacaran? masih kecil udah tahu begituan”
        “kata Jodi Kakaknya udah punya pacar, aku tanya sama dia, pacar itu apa, katanya pacar itu seperti Ayah sama Ibu”, Jodi anak tetangga kami sekaligus teman sekolah Mega. Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

BAB SATU (orientation)


Selamat pagi Jakarta !
            Kedua mataku yang masih terpejam mengkerut merasakan sinar matahari yang menerobos masuk entah darimana. Selimut masih rapat menutupi sekujur tubuhku. Sinar matahari yang masuk rasanya hangat menerpa pipiku. Akhirnya kedua mataku mengalah untuk perlahan membuka.
            “Aaah Ibu ...”, Wanita terbaikku itu tengah berdiri didekat jendela. Akhirnya aku tahu Ibu membukakan jendela untuk membuatku bangun.
            Ibuku hanya diam sambil mengemasi barang-barangku diatas meja didekat jendela. Seorang bocah berusia sekitar 5 tahun berlari ke arahku seperti banteng mengejar kain merah.
            “Mega ….!!!”, teriakku. Refleks aku langsung duduk, bocah gendut itu tidak sadar ranjangku bisa saja roboh karena ulahnya. Tubuhnya gempal dan pipinya tembem sangat menggemaskan. Ibu tersenyum-senyum melihat kami berdua.
            “Kakak, bangun!”, Ujarnya sambil menaiki ranjangku.
            “Iya ... ini aku sudah bangun gendut, memangnya kamu nggak lihat”,
            “lihat aku punya tas baru”, ia memamerkan tas barunya dengan senyum memperlihatkan deretan giginya yang tak rata.
            “Hahaha iya, bagus sekali, aku juga punya oleh-oleh untukmu”, Matanya langsung membulat mendengar kata-kataku dengan rona wajah semakin menggemaskan.
            “Apa? apa?”, wajahnya penasaran dan sangat senang.
            “semalam kamu udah tidur waktu mau kukasih, jadi kusimpan di pojok kamarku deh, tuh”, jari telunjukku menunjuk ke sudut kiri kamar dekat dengan pintu. Matanya langsung beralih ke ujung jariku. Matanya yang bulat bersih berbinar melihat benda dipojok kamarku.
            “Bernard ...... !!!!”, Sebuah boneka beruang putih tergeletak disana, tanpa basa-basi Mega berlari menuruni ranjang dan mengambilnya, ukurannya bahkan melebihi ukuran tubuhnya. Aku melihat ke arah Ibu, Ibu tersenyum. Biasanya aku paling senang membuatnya menangis, tapi aku juga kan saudara yang baik, membuatnya kegirangan juga sangat menyenangkan, jadi aku memutuskan membelikannya boneka.
            “Bilang apa sama Kakak?”, Ujar Ibuku menghampiri Mega yang sudah tak ingat selain boneka besar dalam pelukannya.
            “Makasih Kakak”, Mega langsung berlari keluar dari kamarku, pasti ia sedang berniat memamerkan boneka barunya pada Ayah Arman, Ayah tiriku.
            Aku bergegas bangun dan berniat mandi, sudah sebulan lebih aku tak melihat tempat ini, rindu. Yah, sebulan ke belakang aku tengah libur semester genap, liburan panjang, ayah kandungku memintaku untuk berada disana selama libur beberapa waktu, bukan apa-apa hanya rindu. Aku sudah terbiasa dengan hidup seperti itu, yang sulit hanya karena Ayah jauh, sudah 3 tahun belakangan ayah tinggal di New York, bersama Tyo saudara kembarku. Ayah sudah menikah lagi dengan wanita dari New York, seorang wanita karir. Ayahku seorang seniman, pelukis yang lumayan punya nama, tak sulit baginya bertemu dan berkenalan dengan bule-bule seperti Ibu tiriku sekarang. Aku tak keberatan, sejak awal perceraian kedua orang tuaku aku sudah bisa menerimanya, terkadang perpisahan lebih baik jika bersama sudah tak sejalan lagi. Komunikasi mereka justru terlihat lebih baik setelah berpisah.
***
            Aku menghampiri meja makan, ada Ibu yang tengah menyuapi adik tiriku, Mega. Mega anak dari Ibu dengan Ayah Arman, meski hubunganku tak begitu dekat Ayah Arman, aku menghargainya sebagai seorang lelaki yang mencintai Ibu dan menghadiahiku Mega, si gendut yang cerewet. Ada Ayah Arman juga disana, aku duduk dan ikut sarapan dengan mereka. Sedikit basa-basi dengan Ayah Arman agar tak terlalu kaku, tapi beliau baik, paling tidak aku tahu sikapnya lembut pada Ibu, beliau orang yang tidak banyak bicara, aku tak perlu khawatir ia akan menyakiti Ibuku. Ayah Arman manager disalah satu BANK swasta, beliau lebih muda dari Ibu beberapa tahun, tapi kelihatan sangat matang. Beliau juga punya hubungan baik dengan ayah kandungku, tak ada masalah yang berarti, tak ada alasan untukku jadi brutal karena dianggap berasal dari keluarga yang pernah gagal.
            Semalam aku baru saja sampai di Indonesia setelah berlibur di rumah baru Ayahku, kulihat kehidupan ayah dan keluarga barunya tak sulit, disana seni lebih banyak dihargai, dalam jangka waktu setahun lebih ayah sudah punya galeri sendiri, walaupun tidak besar tapi menurutku itu hebat. Ibu tiriku, Nicole namanya, aku memanggilnya Mom, dia ramah, beliau juga tak keberatan dengan kehidupan masa lalu ayahku, aku hanya terkendala masalah bahasa dengannya, karena bahasa inggrisku memang tak begitu bagus.
            Tyo saudara kembarku yang sempurna, ia mengambil semua keindahan ibu dan ayah, wajah tampan, kulit putih Ibu, hidung mancung Ayah, rambut lurus Ayah, tubuh tinggi Ayah,  dan otak cerdas Ibu! Tapi aku punya hubungan yang sangat dekat dengan Tyo, apalagi setelah kami saling jauh. Setelah dewasa kami semakin mengerti satu sama lain, konflik sering terjadi tapi justru itu yang selalu membuat kami kian dekat. Tyo tak mewarisi bakat seni ayah, tapi ia mewarisi kecerdasan ibu, sekarang ia sudah menyelesaikan study-nya, tapi ia melanjutkan S2 disana, matematika, entah apa lebih spesifiknya.
            Dan aku, Ryo si keriting, rambutku panjang melebihi bahu, berkulit hitam, dengan kecerdasan dan wajah yang biasa saja, hidung tidak mancung, tapi juga tidak pesek, tapi aku juga bertubuh tinggi, tinggiku kurang lebih dengan Tyo, aku heran mengapa dokter tega mengatakan kami kembar hanya karena lahir berselang beberapa menit dari Ibu yang sama, karena semua orang yang tahu itu akan mengatakan, “kok beda?”, yang bisa kubanggakan dari Tyo hanya gingsulku yang menurut orang gingsul itu membuat seseorang tampak lebih manis, itu juga atas persepsiku sendiri, tapi Tyo tidak punya itu! Aku mahasiswa teknik elektro disalah satu universitas di Jakarta, sudah 5 tahun lebih belum juga selesai, tapi aku tengah menyusun skripsi, kuharap kali ini aku bisa menyelesaikannya segera.
            “Ibu, ayah, aku berangkat dulu, aku harus ke kampus hari ini”, ujarku setelah menghabiskan sepiring nasi goreng lezat buatan Ibu dan menenggak segelas air putih diatas meja.
***
            “Ahh selamat pagi Jakarta!”, seruku dalam hati. Pagi di hari senin akan jadi hari yang padat untuk kebanyakan orang, tapi tidak untukku, sebenarnya aku tidak ada kegiatan apa-apa dikampus, hanya saja kampus sudah seperti rumah keduaku setelah rumah tempatku tinggal.  Aku berkaca melalui kaca spion motorku, memastikan wajah manisku ini cukup baik tampil dikampus. Motor ini sudah bertahun-tahun menemaniku, aku membelinya dari hasil keringatku sendiri, aku mau bekerja apa saja, mulai dari bertukang, berjualan, apapun selama itu tak melanggar hukum. Motor ini kubeli dengan kondisi yang tidak begitu baik, tapi aku bisa habis-habisan membuatnya tampan dan gagah, itu yang membuatku selalu mengendarainya dengan bangga, aku menyebutnya “”.
            Seperti biasa jalanan selalu padat, tapi aku tak diburu waktu, sehingga kubiarkan saja kendaraan lain menyelip-nyelip mendahuluiku. Mobil-mobil mewah berseliweran, gadis-gadis cantik, orang-orang tua, remaja-remaja, anak-anak, bunyi klakson yang membisingkan, suara-suara marah, gelak tawa, semua menjadi satu, aku menikmati pagi di Jakarta seperti ini.
            Aku memakirkan motorku tak jauh dari kantin, aku tahu bisa menemukan teman-temanku disini, kantin sederhana milik Ibu Nuna. Meski sederhana kantin ini paling ramai, pelayanan yang ramah dan harga yang murah tentunya. Rakyat Indonesia selalu menyukai tempat seperti ini, tentunya rakyat kecil sepertiku. Aku melambaikan tangan dari kejauhan saat sadar teman-temanku melihat ke arahku. Aku segera menghampiri mereka. Kantin Ibu Nuna menyediakan tempat duduk lesehan, dan tempat ini yang jadi markas kami berkumpul.
            “Wah … sudah datang kau rupanya Ryo, beta kira tidak pulang lagi kau ke Indonesia”, Tedi menyambutku dengan logat ambonnya yang kental.
            “hahaha, mana mungkin gue nggak balik lagi, rumah gue disini, lagian mau ngomong apa gue sama bule-bule disana, yang gue tau Cuma yes, no, ok, I love you”, Tedi dan teman-teman lain yang berada disitu tertawa renyah. Tedi, teman baikku, walaupun terlihat gahar karena perawakannya yang besar dan sifatnya yang cenderung emosional, tapi Tedi sosok yang solid, sangat menghargai arti kawan.
            “Kinan bro”, celetuk Beni melihat Kinan melewati tempat kami duduk. Teman-temanku memang selalu menjodoh-jodohkan aku dengan Kinan, karena selama mereka mengenalku aku tidak pernah bercerita tentang gadis yang kusuka, atau menunjukkan sikap suka pada seorang gadis. Kinan memang cantik, gadis baik, ramah, tidak ada alasan untuk tidak menyukainya, tapi aku dan Kinan hanya bisa berteman biasa. Bukan tidak pernah aku jatuh cinta, bukan tidak ingin aku mencintai dan dicintai seseorang, aku hanya belum menemukannya, tepatnya belum menemukan lagi seseorang yang tepat. Sampai saat ini dalam hidupku hanya ada dua wanita saja, Ibu dan Mega.
            “Sore ini kita main futsal yo, kurang satu orang, lu ikut ya”, ajak Beni membuyarkan lamunanku tentang wanita. Aku mengiyakan lalu pembicaraan beralih ke sepak bola. Aku sendiri tergila-gila pada bola, hanya saja aku tidak berminat menjadikannya lebih dari sekedar hoby, tapi untuk meluangkan waktu bermain bola aku tidak pernah ragu. Jangan-jangan kalau aku punya pacar aku akan lebih mencintai bola daripada gadis itu, aku tertawa sendiri memikirkan itu.

Minggu, 13 Mei 2012

Kaukah Itu?


Kaukah itu ...
yang bersembunyi saat semburat merah mengelabuiku
kaukah itu ...
yang meniupkan angin dalam kantong-kantong kosong untukku
kaukah itu ...
yang memajang rindu di langit-langit kamarku ..

Aku bertanya ...
kau diam ...
aku diam ...
dan kau ...
tak kufahami bagaimana berkisah dalam bisumu lebih tak kufahami ...
bagaimana aku merogoh kisah itu untuk kudekap dalam buku-buku yang tak baku ..

Kita bertukar lagu saat gersang saling memandang melewati jauhnya lautan dan daratan
kaukah itu ...
dua matamu yang menjatuhkan hujan kaukah itu ...
yang menggandengkanku dengan angin ..

Kaukah itu ...
yang menuliskan prasasti di dinding langit Tuhan ..
bagaimana tanganmu wahai kau yang menanam mimpi ditanahku
kaukah itu ...
saat pagi berbisik membangunkanku ...
kaukah itu ...
yang setia mengarungiku hingga habis masa itu ...

Minggu, 18 Maret 2012

Maghrib



Maghrib,
penghulu matahari menarik diri
Mengawinkannya dengan senja ..
Dalam mega terpekur seorang-seorang saja

Suara-suara kereta dalam barisan hari ini terhenti
Segera sajak-sajak berkejar-kejar dengan angin
Gelombangnya memotong sejumlah potongan garis kota lalu mengaburkannya

Lalu dalam haru dan resahnya
musola kecil dalam kota besar
Bertubi-tubi memanggil-manggil
Sang kelana yang tak jua rehat dari perjalanannya

Jauh nian dalam pandangannya
Sebuah telaga dalam peta ..
Padahal telaga tengah pasang
Saat maghrib dimusola kecil kota besar

Pontianak,maghrib mengikat senja
Singgahlah dan raup air dalam telaga

Aku Jemu


bukan ia yang berdiri dengan setangkai bunga mawar disudut kota
Ia hanya penggoda buku-buku cinta
Yang tertumpu dibahunya kata-kata dan bayangan hidup penuh romansa

Aromamu polusi diselubung hunian
Terkontaminasi racun tercampur dalam pendek nafasku
Mau tak mau bukan tak mau tapi tak bisa tak mau
Aku menghirupmu
Seperti candu pada pil setan ..

Aku jemu
Tak dapat selesaikan pertarungan denganmu
Hah !! Ku katakan pertarungan tapi candu dibatinku
Seperti dendam canduku menggelora mengaduk-ngaduk seluruh bola-bola dalam hunianku
Ingin kurampas seluruh aromamu
Biar aku mati oleh racunmu

Aku jemu
Melihatmu dari bilik sepi seperti kedua bola matamu yang memenjarakanku
aku jemu
Menghirup aromamu saja di tempat kuletakkan kedua tanganku
Aku jemu
Kau lalu lalang kadang tak bergeming didepan mataku

Aku jemu
Serumpun daun hanya bicara dalam sepoi tentangmu
Tak ada lainkah ..
Mauku kau tinggal saja atau kau pergi saja
Tapi mauku tak bisa tidak

Maka aku jemu
Pada aromamu
Mencekikku tapi tak mati
Kau diselubung hunianku tak masuk tak juga pergi

Selasa, 06 Maret 2012

Bidadari Bersayap Kupu-kupu




jariku kaku tak dapat menggenggammu
lidahku kelu tak bisa bicara denganmu
mataku terlalu berat untuk dapat memandangmu
tapi fikiranku terpenjara olehmu ...

Lihatlah ...
Laut sedang pasang sayang
tidakkah kau sadari itu ...

Lihatlah ...
Pantaimu menghilang ...

Kau lihat seorang bidadari kecil disana
ia kepayahan karena hanya bersayap kupu-kupu
ia tak dapat pergi dari pasangnya lautmu
ia sadar sayapnya tak sanggup menopangnya untuk dapat pergi ...
air matanya yang menenggelamkan pantai ...
air matanya yang membuat lautmu pasang ...


tapi tahukah ...
bidadari kecil itu justru ingin tenggelam sedalam-dalamnya di lautmu
biarlah tak dapat lagi menyentuh awan
asal ia dapat sembunyi di kedalamanmu ...


Ia bidadari kecil bersayap kupu-kupu
ia bahkan menanggalkan sayapnya
dengan luka berdarah-darah
kulihat di wajahnya terkulum senyum kecil
yang tak dapat kumaknai ...

Esok tak ada lagi pantai
tak ada lagi bidadari kecil itu
bidadari bersayap kupu-kupu
hanya sepenggal cerita usang tak bernyawa

Minggu, 18 September 2011

Teruntuk calon imam terkasihku ...


Menjengukmu dalam naungan-Nya ...

Bismillahirrahmanirrahim ...
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh ...

Apa kabar calon imamku disebrang sana?semoga Allah selalu mendekapmu dengan rahmat-Nya,dan tak henti menghujanimu dengan cinta-Nya ...
Apa kabar hati? apa kabar iman? dimanakah iman itu? surutkah? atau ia tengah bersembunyi dan tak kita temukan ...
ataukah tak bersisa ? semoga Allah senantiasa menumbuhkannya dihati kita dan semoga kita termasuk golongan orang-orang yang memeliharanya

dengarlah sayang, saat kutuliskan surat ini aku hanyalah seorang hamba yang dho'if yang entah layakkah aku menyebut diriku sebagai hamba-Nya
kita hanyalah debu-debu kotor yang dapat habis tersapu angin ...
siapakah perduli pada debu-debu kotor itu ...

Kekasihku,jika kita tau seberapa luaskah jagad raya ini
maka sadarlah kita betapa kecilnya diri kita ...
Jika kita tau seberapa kuatnya penguasa jagad raya ini
sadarlah kita betapa lemahnya diri kita



Wahai lelakiku ...
tahukah engkau titah-Nya dalam surat cinta untuk hamba-Nya itu?
tentulah engkau tahu ...
kata-kata dalam lembaran suci itu adalah titah ...
sebagaimana saat ia berkata pada setiap wanita untuk menutup dirinya
maka kututup diriku agar Allah ridho padaku ...
itulah mengapa aku ingin engkau selalu memelihara pandanganmu ...

Bukankah inginmu miliki tulang rusuk yang solihat?
demikianpun aku ...
inginku aku adalah bagian dari tulang rusuk seorang yang sholih ...
yang menjadikan Allah sebagai sandaran hidup-Nya ...
yang menjadikan malam-malamnya sebagai perjumpaan dengan kekasih sejati-Nya
saat orang lain terlelap ia tengah tertunduk diatas sajadahnya
menengadahkan tangan menghimpun doa ...

Suatu hari nanti kita akan berjumpa
dalam kehendak-Nya
bukan dengan mahkota atau gaun indah
tapi dengan sebuah ikatan yang menghimpun kita dalam kecintaan-Nya

Percayalah,akupun amat dambakan perjumpaan itu
sebagaimana Siti Hawa merindukan Nabi Adam saat terpisah oleh kehendak-Nya
dengan kehendak-Nya mereka terpisah
maka dengan kehendak-Nya pulalah mereka dipertemukan



Maka berjuanglah sayang ...
perbanyak perbekalan untuk perjalanan yang melelahkan ini
aku percaya bilapun kita tak berjumpa didunia
Allah akan pertemukan kita disana
disisi-Nya dengan keindahan tak terkira

Selasa, 10 Mei 2011

Rembulan Separuh









Tahukah,
Sebulan lalu, kurekat-rekat pecahan pigura dengan sesak dan payah
Ku simpan diam-diam agar tak seorangpun tahu
karena rembulan separuh tengah berjaga-jaga di pintu langit

Lalu kutepuk-tepuk air dibawah cahayanya
Rembulan separuh duduk anggun dan tersenyum padaku
Ku genggam dengan tangan basah
Rembulan tersenyum lagi, tidak ada

Berlari kukejar siapa entah mau kemana
Ku intip lagi pigura yang kurekat-rekat sebulan lalu
Ia cantik lagi, dalam lemari kaca entah siapa punya
Hendak ku taruh di meja kamarku tak tahu bagaimana

Kemarin,
Rembulan separuh muncul lagi,
Ku tatap iba piguraku yang pecah lagi
Lagi, kurekat-rekat dengan tangis
Tak lagi sembunyi, di bawah rembulan separuh kutaruh nanti

Sabtu, 30 April 2011

Gadis Kecil Berkerudung Hitam


Sepi,
Tepian Kota Basah berongga-rongga
Mati membisu dibunuh naluri

Gelap,
Rintik dibawah kaki langit lewati lorong tanpa nafas
Semua mematung dengan sendiri

Habis,
Lampu kota padam oleh suara angin
Seorang gadis kecil berkerudung hitam
Sedu sedan dibawah lentera

Hilang,
Sejenak lalu kosong
Setengah-setengah lalu hilang

Lengang,
Gadis kecil berkerudung hitam
Tanpa isyarat ikuti kota
Diselimuti bisu rinai hujan

Rabu, 02 Maret 2011

Malaikat Terindah


Matanya sendu
setiap garis di wajahnya mengisahkan hidup
bahwa segala kebahagiaannya ia persembahkan untukku
dan segala kepedihannya hanya menjadi miliknya seorang


Tangannya yang hangat
miliki jutaan energi yang mampu barakan hati
dan leburkan batu yang keras di tebing2 tinggi
senyumnya mampu alirkan darah yang beku


air matanya mematikan hati
melumpuhkan daya yang kecil ini
ia malaikat yang sayapnya tak terlihat
cahayanya hanya milik siapa yang memandangnya jauh


kecantikannya tersimpan dibalik keriput2 masa di dahinya
saat2 malam berlalu jauh
dan ia duduk disana
untukku


Mama
malaikat terindahku

Selasa, 15 Februari 2011

Sakau


Setiap detik mengalahkan mesin yang menderu

mengalahkan udara yang berkejaran mencari ruang

kadang kala aku tersesat

lalu kucari jalan pulang



dengan denting piano

yang ciptakan nada dan lirik

inspirasikan tarian manusia

penuh makna dalam derap-derapnya





relief yang dipahat oleh masa

pada sebuah tembok apik ditengah2 dunia

adalah fase indah yang ku nikmati di atas kakiku

memilih untuk tetap tegak pada posisi ini



sakau pada satu harapan

menghiba-hiba pada Tuhan

menjatuhkan keinginan ditangan yang kosong ini

memaksa diri melepas genggaman karena sebuah ketakutan

meski ketakutan ini seharusnya bukan menjadi hakku

Minggu, 06 Februari 2011

Hujan


Hujan turun ..
Aq memeluk lututku sendiri
berharapp tak ada yang tw ada luka yang kututup
dan hujan yang turun mengingatkanku tentang hati
dan biasan pelangi yang selalu hadir kala itu
yang selalu ku nantikan hingga senja berakhir
dan saat malam datang takut merenggutnya
merenggut hal yang tak kumiliki sekalipun
Kekuatan yang kian meruntuh
mengajarkan aku untuk merangkainya kembali
tapi setiap nafas ini kutarik
sesak yang kurasa
memaksaku untuk menyerah
ku biarkan rinai hujan menyentuhku
membasahi setiap garis2 hidup yang kulalui
dan aku kedinginan
tak ingin menyudahinya
hanya inginkan sebuah perapian yang berikan aku cahaya
dan panas untuk obati kebekuan ini

Kamis, 27 Januari 2011

Pemuda Pelukis Senja


Oleh: Erni Susanti

Ia duduk disebuah jembatan yang menghubungkan petak-petak sawah, kakinya dibiarkannya menggantung menyentuh air yang warnanya agak kemerahan seperti teh. Jembatan pendek itu kuat berada diatas sebuah parit yang lumayan besar. Di sebelahnya berdiri Runo teman sekelasnya dibangku perkuliahan. Tangannya bertumpu diatas pahanya dengan jari jemari saling berkaitan seolah saling menguatkan, dan tubuhnya agak condong kedepan.
Padi yang hijau masih basah karena embun pagi, seperti juga ia yang basah karena tetesan embun, tapi tak ia perdulikan pagi yang dingin itu menyergap-nyergap tubuhnya. Ia sudah akrab dengan kondisi demikian, kesenangannya terhadap alam membuat alam seolah telah menjadikannya teman.
“Ayo kita balik”, ajak Runo.
“kamu duluan aja, saya masih mau disini”, sahutnya, Runo tak heran, karena selama ini temannya itu memang menyukai kesendirian. Runo pun tak mengerti apa yang difikirkan lelaki sebayanya itu. Bahasa bicaranya memang selalu demikian, saat pertama kali mengenalnya diapun selalu begitu, selalu menggunakan kata ‘saya’, dengan orang terdekat sekalipun.
“ya udah aku balik duluan, aku dah laper, Mak Ijah pasti udah masak nih”, ujar Runo. Ia hanya mengangguk-angguk tak terpengaruh dengan kata-kata Runo barusan.
Tubuhnya menghadap ke arah timur, menghadap matahari pagi yang mulai naik. Matanya sedikit-sedikit mulai menyipit karena matahari yang mulai memaksa matanya untuk terpejam tak mampu menatapnya langsung. Sudah sejak selesai shalat subuh mereka turun dari rumah Mufid untuk jalan-jalan di areal perpetakan sawah yang terkenal didaerah itu. Letaknya memang di kampung halaman Mufid, sehingga mereka sekelompok pemuda yang punya hobi traveling bersama-sama mengunjungi daerah itu. Penat berhari-hari memperjuangkan kebenaran di kampus, lalu hampir di DO, tapi keputusan itu masih menggantung, dan diakhir pekan mereka berada disini.
“Eh Ruq! ngapain kamu disini?”, tanya Mufid yang menghampirinya dengan sedikit berlari.
“merenung aja, kamu kayak nggak kenal saya aja”, sahutnya dengan alis saling bertaut karena tak mampu menantang matahari. Kedua alisnya yang memang hampir menyatu itu semakin disatukan oleh matahari. Mufid mengambil posisi duduk disampingnya.
“kata-kata apa yang kamu punya?”, tanya Mufid.
“Saya ingin menantang matahari, apa saya masih sanggup”, sahut Faruq. Runo mencibir.
“kamu nih ada-ada aja, kamu mau nantang yang nggak mungkin, yang realistis aja”, seru Mufid. Faruq tergelak.
“ketawa lagi tuh”, ujar Mufid.
“enggak, kalau saya nantangin Tuhan iya baru nggak mungkin, saya nggak menantang untuk menang kok, Cuma mengukur seberapa besar keberanian saya”, sahut Faruq.
“gimana nasib kuliah kamu selanjutnya ruq?”, tanya Mufid mengganti topik pembicaraan mereka yang tak jelas tadi.
“kamu khawatir?”, tanya Faruq.
“enggak, aku santai aja sih, malah pengen ketawa terus, abis lucu banget sih, ya iyyalah ruq, aku mikir aja kalau sampai kamu di DO gimana, kamu kan temen aku, saudara aku”, jawab Mufid sekenanya tapi bermaksud serius.
“kamu tenang aja, saya udah siap dengan segala konsekuensinya, saya yakin yang kita perjuangkan nggak akan sia-sia, bagaimana saya nanti saya juga yakin bisa saya atasi, meskipun saya harus kehilangan almamater saya tidak masalah, asalkan saya sudah pernah berbuat sesuatu untuk kampus, sekalipun itu tidak berarti besar bagi orang lain, terima kasih karena kamu dan teman-teman mau ikut andil waktu itu”, Mufid semakin kagum pada sahabatnya itu.
“aku bangga pernah mengenal kamu ruq, walaupun kalau udah ngomong sama kamu selalu aja kamu nggak punya kendali untuk berhenti, tapi aku bangga, kamu sekuat ini, kami gentar karena permasalahan ini, padahal kami tidak sampai terancam di DO, tapi kamu yang nyata-nyata hampir di DO malah bisa berkata seperti ini”, ujar Mufid..
“kamu ini apa-apaan fid, gitu aja kok jangan berlebihan, ya udah kita pulang aja, saya udah lapar ni, selesai perenungannya”, ujar Faruq sambil menepuk-nepuk bahu Mufid.

***
Isu dikampus sebenarnya sedang menguap-nguap, hanya tak banyak yang tahu karena memang tidak pernah mau tahu. Hanya segelintir orang yang perduli apa kabar kampus hari itu. Sekedar tahu saja bahkan tak cukup.
Faruq dan teman-teman seperkumpulannya mengorek isu ini. Seolah-olah telah menjadi kewajaran, kejahatan dibenarkan. Entah itu di anggap atau tidak, Faruq merasa kampus adalah Indonesia kecilnya, disana ada sebuah pemerintahan, organisasi dan masyarakat. Hatinya menjadi tidak tenang melihat yang tak benar menjadi sebuah kebenaran yang salah. Ada orang-orang yang menumpuk uang dibalik perut gendutnya, diam-diam saja, dan menjadi rahasia bagi dirinya dan orang-orang terkait saja.
Bukan tanpa alasan isu ini menguak, tidak ada keburukan yang kekal tertutupi, semua akan terbuka dengan sendirinya jika tak mau membuka diri.
“Bang, Rini ada cerita nih”, seru Rini pada Runo, abang kandungnya yang 3 tahun lebih tua darinya. Mereka kuliah disatu universitas dan satu fakultas pula, hanya saja berbeda program.
“ada apa?”, Runo seorang pendengar yang baik, adiknya seseorang yang sangat terbuka, apapun diceritakannya pada Runo, sekalipun seringkali ia bercerita hal yang tak penting.
“kemarin nih, Rini ketemu sama orang bang, trus orang itu bilang kalo dia dulu kuliah dikampus kita juga bang, udah kerja sih sekarang, dia cerita kalo dia dulu kuliah nggak pernah bayar semesteran lo bang, keren ya”,
“wah bagus tu Rin, beasiswa dong”, sahutnya.
“emm kata dia sih gitu, dia bilang gampang dapetnya, lobi aja ama Bang Fahmi, abang itu bilang dulu sih ngasi 10% sama dia trus dapet deh, yah buat upah ngurusin lah gitu katanya”.
“Bang Fahmi?”, Runo sontak kaget. Rini mengangguk-angguk dengan wajah datar. Entah sadar atau tidak ia sedang menyimpan sesuatu yang besar.
“trus dia bilang apa lagi?”, tanya Runo.
“trus dia bilang kalo aku mau, dia mau bantu ngurusin soalnya dia udah deket sama bang Fahminya”, ujar Rini.
“kamu jawab apa Rin?”, tanya Runo penasaran, tapi wajah Rini seolah menceritakan kelahiran anak kucingnya.
“aku bilang entar aja, soalnya aku fikir aku harus izin sama abang dulu, kan disini kita anak rantau, abang yang jagain aku, jadi aku harus konsultasi dulu sama abang”, Runo mengelus kepala Rini. Bagaimanapun Rini sangat menghormati Runo.
“kamu udah pernah ceritain ini ke orang?”, tanya Runo.
“belum, sama abang doang kok, aku tahu, pasti abang suruh diem-diem”,lanjut Rini.

***
Mendengar itu Runo bergegas pergi ke kampus, mencari orang yang dirasanya tepat mendengarkan cerita tentang hal tadi.
Runo menemukannya sedang berada di musola usai shalat dzuhur. Ia seperti biasanya sedang sendiri, menyandarkan punggungnya di tembok mushola kecil itu, tapi kali ini dengan buku ditangannya, matanya fokus pada tulisan-tulisan dalam buku itu. Faruq memang senang membaca, tak hanya itu ia juga punya bakat menulis. Kecintaannya pada kata-kata membuatnya semakin menggilai buku-buku, dan itu menambah pemahamannya pada banyak hal. Faruq sampai tak sadar Runo sudah berada dihadapannya.
“Ruq, serius banget kamu sampe nggak sadar ada aku disini”, ujar Runo sambil mengambil posisi duduk disamping Faruq dan menepuk-nepuk bahunya. Faruq tersenyum dan menutup bukunya setelah sebelumnya diberi batas bacaan.
“maaf, ada apa Run kamu kok tiba-tiba kesini, ada sesuatu yang mau kamu omongkan?”, tanya Faruq. Runo mengangguk dengan wajah serius. Masalah ini memang bukan masalah biasa bagi Runo, baginya jika permasalahan ini dibiarkan akan menjadi jamur, dan baginya ini adalah perihal dirinya, mahasiswa, bangsa dan negeri ini. Banyak pemuda yang mungkin tak lagi perduli akan negeri ini, segala isu negeri ini hanya sebuah cerita tak penting dan bukan menjadi urusannya, biarkan pemerintah yang bertindak. Baginya mahasiswa adalah pengawal pemerintahan, mengawasi kebijakan-kebijakan pemerintah, meski itu hanya menjadi kesadaran segelintir mahasiswa.
Diceritakannya kejadian yang dialami adiknya beberapa waktu lalu, Faruq mengangguk-angguk, ia menyimak dengan serius.
“saya sebenarnya udah dengar masalah ini, DPM juga sudah minta bantuan sama BEM karena setelah diklarifikasi malah menemui jalan buntu, ini bahkan memang sudah jadi rahasia umum, saya sedang coba mengorek-ngorek kebenaran isu ini, dan sekarang malah ada informasi seperti ini jadi semakin jelas rasanya, memang harus ada yang dilakukan Run, secepatnya kita akan adakan rapat”, tanya Faruq.
“iya ruq, aku jujur aja kecewa sekali mendengarnya, persoalan ini sudah dianggap bukan masalah, ini kan bahaya, nanti sedikit banyak akan berpengaruh sama mahasiswanya, bisa-bisa hal kayak gini diikutin, padahal hak kita sedang terjajah, mau jadi apa negeri ini ruq kalau hal seperti ini dibenarkan”, ujar Runo berapi-api. Faruq memintanya untuk tetap tenang dan memikirkan langkah apa yang harusnya mereka lakukan. Mereka saling berdiskusi, tapi dalam berdiskusi antara Runo dengan Faruq perbandingannya 10:1000, 10 kata dari Runo akan menimbulkan 1000 kalimat dari Faruq, Faruq memang sangat senang berbicara, kadang-kadang juga keluar dari jalurnya, dan sulit menghentikannya bicara, unik.

***
Faruq lebih serius memperbincangkan hal ini dengan teman-teman yang dirasanya perduli dan ingin berbuat sesuatu. Faruq adalah presiden mahasiswa di kampus saat itu bekerja sama dengan DPM mereka mengusut kasus ini, dimulai dengan mencari informasi lebih banyak terkait hal ini, dan bertanya pada dosen, walaupun seringkali mendapat sambutan tidak baik mereka tetap mencari tahu, dan saat informasi terkumpul, mereka mulai berfikir, sepertinya memang dari pihak Fakultas tidak mendukung apa yang mereka lakukan, bahkan terkesan menghalang-halangi. Hal ini juga sudah mereka coba bicarakan dengan dekan, tetapi justru sambutan yang tidak baik yang mereka dapat, mereka dianggap mencoreng nama fakultas, isu ini memang beredar tidak hanya dilingkungan fakultas saja, bahkan sampai diketahui pihak Universitas.
“Sepertinya usaha kita tidak mendapat respon yang baik, kita sudah coba berbagai cara, kita sudah coba klarifikasi dengan pihak-pihak terkait, bahkan dengan dekan, kita juga coba singgung masalah ini dengan media-media yang ada dikampus, tapi kita menemui jalan buntu, jadi jalan terakhir menurut saya kita perlu mengadakan aksi”, seru Mufid sebagai pejabat menteri Sospolad saat itu dalam agenda rapat DPM dan BEM yang mereka adakan karena permasalahan yang mereka hadapi saat itu. Beberapa menjadi riuh saat itu dan beberapa orang yang lain tampak berfikir keras mengenai pendapat Mufid. Monik mengangkat tangannya menunjukkan bahwa dirinya ingin membuka suara. Doni, ketua DPM yang memimpin rapat saat itu meminta agar peserta rapat menenangkan diri.
“tapi ini akan membahayakan kita, dari awal saya lihat saat kita mulai mengorek-ngorek masalah ini saja kita sudah disambut dengan tidak baik, bisa-bisa kita di DO, apalagi waktu menemui dekan, karena saya saat itu juga ikut, jadi saya tahu persis dekan sangat tersinggung saat itu, saya rasa dan saya perkirakan kalau kita tetap melakukan aksi, dekan tidak akan segan-segan merekomendasikan ke rektor untuk mendrop out kita”, seru Monik perwakilan dari DPM. Dalam rapat itu mereka terpecah menjadi tiga golongan, golongan yang pro terhadap usulan Mufid, golongan yang kontra, dan golongan ketiga yang tidak tahu harus berbuat apa hanya diam saja.
“kita voting saja”, ujar Doni. Mereka segera melakukan voting agar hasil yang didapat bisa disepakati bersama. Ternyata hasil yang didapat lebih dominan untuk melakukan aksi. Monik dan beberapa diantara mereka tampak kecewa, lalu terlihat berbisik sebentar.
“hasil yang didapat ternyata kita tetap melakukan aksi, dan saya harap hasil voting ini menjadi kesepakatan kita bersama”, ujar Doni.
“maaf Don, juga teman-teman yang lain, saya dan beberapa teman-teman nggak setuju, saya tidak mau mengambil resiko untuk sampai harus kehilangan almamater saya karena masalah ini, karena itu sekarang saya putuskan untuk tidak terlibat dalam masalah ini”, ujar Monik. Runo terkejut mendengar penuturan Monik.
“kalau begitu sebaiknya anda keluar saja dari DPM, untuk apa anda ada di DPM kalau anda tidak terlibat dalam perjuangan ini”, Runo berang. Faruq menenangkan Runo.
“saya juga tidak keberatan untuk itu, hargai dong keputusan saya, kamu nggak usah khawatir, sore ini juga saya akan ajukan surat pengunduran diri saya”, ujar Monik pada Runo.
“saya permisi teman-teman”, ujar Monik sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan diikuti beberapa temannya.

***
Hari itu aktivis-aktivis kampus terutama dari lembaga DPM dan BEM turun lapangan menggelar aksi terkait ketidak jelasan alur beasiswa di halaman kampus. Faruq memimpin aksi itu, ia berdiri sebagai orator disana. Perkuliahan hari itu terganggu, saat orasi itu digelar, seluruh dosen-dosen yang berada dikampus bahkan yang sedang mengajar keluar melihat kejadian yang tidak mereka duga sebelumnya. Mereka terlihat kalang kabut dan masuk kembali keruangan, sepertinya diadakan rapat dadakan. Doni mencari tahu ke dalam gedung itu, melihat dari pintu ruangan yang terdapat kaca dipintunya, ternyata memang benar, para dosen dan staf mengadakan rapat dadakan. Tapi dilihatnya dekan tidak ada diruangan tersebut.
“kamu ngapain disini? Mau nguping rapat dosen? Iya? Ikut saya keluar sekarang”, Dekan tiba-tiba sudah berada dihadapannya tanpa ia sadari. Doni terkejut dan ikut saja apa kata dekan tersebut. Saat tiba diluar Doni kembali bergabung dengan yang lain. Dekan sudah kelihatan sangat berang, tak pernah semarah ini sebelumnya. Dilihatnya Faruq dengan mata yang penuh amarah.
“jadi kamu kepalanya ya? Sudah saya katakan dari awal jangan ungkit hal ini, karena hal ini tidak benar dan mencoreng nama baik fakultas”, ujar dekan.
“beri kami klarifikasi yang jelas pak, kami perlu bukti untuk masalah ini, kami tidak mau hak-hak kami dijajah, dan membiarkan yang tidak benar terus berjalan dikampus kita! Kalau memang apa yang kami pertanyakan selama ini tidak benar, buktikan pada kami Pak!”, seru Faruq.
“selama ini kami sudah coba jalur advokasi, tetapi tidak mendapat respon yang baik, dengan alasan itu kami ada disini Pak”, lanjut yang lain saling mendukung.
“Kamu....”, dekan menunjuk-nunjuk Faruq dengan geram. Wajar jika kemarahan dekan tertuju pada Faruq karena selama ini Faruq yang paling getol mengorek masalah ini.
“Kamu akan saya DO dari kampus ini! Keluar kamu dari kampus ini sekarang!”, wajah dekan memerah, tangannya memegangi dadanya, beliau tampak kesakitan, Faruq beranjak mencoba menolong tapi tangannya ditepis oleh Pak Erlangga, dekan fakultas dimana ia belajar. Pak Erlangga kemudian jatuh pinsan. Mereka bergegas membawa dekan ke rumah sakit.

***
Tidak sedikit yang kemudian menyalahkan Faruq karena kejadian ini, tapi Faruq berusaha memegang teguh apa yang menjadi tujuannya. Meski dugaan Monik ternyata benar-benar terjadi paling tidak ia merasa sedikit lega, karena ancaman itu ditujukan hanya untuk dirinya. Saat mereka berada di rumah Mufid, pak Erlangga masih berada dirumah sakit. Namun keadaannya sudah mulai membaik, dan menurut kabar yang santer terdengar aksi yang digelar oleh Faruq dan teman-temannya beberapa waktu lalu akan ditindak lanjuti, dan terutama Faruq yang dianggap memprovokasi terancam di drop out.
Doni menepuk bahu Faruq yang sedang duduk di pelataran rumah Mufid. Doni duduk disampingnya. Terdengar bunyi jangkrik saling bersahut-sahutan, sudah jam 21.00 malam, jalanan di perkampungan tempat tinggal Mufid sudah sepi. Mereka berdua saja dipelataran. Mufid, Runo dan Syafi ada di dalam rumah berbincang dengan Mak Ijah, Ibu Mufid.
“kamu kok seneng sekali menyendiri sih ruq, apa yang sebenernya kamu fikirin?”, tanya Doni.
“apa kamu sedang mikirin ancaman dekan kemaren itu?”, lanjutnya
“kalau memang itu yang kamu fikirkan, kamu tenang saja, aku dan temen-temen pasti bantu kamu untuk menyelesaikan masalah ini, saya udah konfirmasi ke DPM fakultas tentang permasalahan kampus kita, dan mereka sedang membawa masalah ini ke universitas, kita tunggu kabar dari mereka lagi, karena mereka minta kita untuk menunggu dulu”, lanjut Doni tanpa membiarkan Faruq menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
“saya tahu temen-temen pasti bantu saya, trima kasih Don, tapi saya suka menyendiri sudah dari dulu kok, bukan baru-baru ini saja, saya Cuma merenung saja, saya suka cari inspirasi, besok pagi kita pulang Don, kita istirahat aja, perjalanan besok pasti menghabiskan tenaga”, ajak Faruq.

***
Setelah kepulangan mereka mahasiswa lain yang tadinya tidak perduli rupanya juga penasaran akan kelanjutan kisah aktivis kampus itu. Kabar itu memang dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, banyak respon yang didapat, bermacam-macam.
“Makanya disuruh kuliah malah demo-demo, gitu deh akibatnya”, komentar yang mencibir perjuangan mereka. Ada juga beberapa yang turut mendoakan agar masalah segera terselesaikan dengan baik.
Faruq mendapat panggilan dari dekan, rupanya beliau sudah sembuh. Sekuat mungkin ia berusaha tenang, ia hanya berfikir apapun yang terjadi nanti semoga usahanya membuahkan hasil, kalaupun ia harus benar-benar di drop out itu adalah sebuah pengorbanan untuk sebuah perjuangan yang mereka lakukan.
Faruq duduk dengan tenang diruangan dekan, berhadapan dengan beliau dengan perasaan tak jelas.
“kamu tentunya sudah faham apa alasan saya memanggil kamu kesini”, ujar beliau sambil berdiri dari duduknya dan berjalan disekitar tempat Faruq duduk. Faruq mengangguk tetap pada posisinya.
“kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan itu sudah mencoreng nama baik Fakultas ini, bahkan Universitas”, lanjut beliau.
“saya melakukan itu semua karena alasan-alasan yang bisa saya pertanggung jawabkan”, sahut Faruq.
“saya sudah dengar alasan-alasan kamu waktu itu, kamu tidak perlu menjelaskan lagi”,
“saya minta maaf memancing emosi bapak sampai bapak jatuh sakit, bukan maksud saya pak ...”,
“saya tahu itu, tidak perlu kamu jelaskan”, Pak Erlangga memotong kata-kata Faruq dengan nada datar, tapi tak mengurangi wibawanya.
“saya memanggil kamu karena saya ingin mengucapkan terima kasih, kalian sudah menjalankan tugas kalian dengan benar”, Faruq terkejut, ia langsung menghadap kearah Pak Erlangga. Faruq tak ingin bertanya mengapa, karena ia amat yakin ini adalah pertolongan Allah, selalu ada pertolongan tak terduga darimana datangnya.
“Kemarin sewaktu saya dirumah sakit ada alumni dari sini menjenguk saya, dan dia menceritakan apa yang pernah ia lakukan semasa kuliah disini, menceritakan kong kali kongnya tentang alur beasiswa itu secara jujur, saya tidak serta merta percaya, saya minta rekan-rekan saya untuk menyelidiki ini, dan memang ada yang tidak beres, saya mulai membuka mata saya, selama ini saya mungkin kurang jeli melihat ketidak beresan ini, karena itu sekarang masalah ini sedang kami usut, dan saya mencabut kata-kata saya tentang ancaman drop out itu, kamu boleh bernafas lega sekarang”, ujar beliau. Faruq sama sekali tak mempunyai gambaran tentang siapa orang yang memberikan titik perubahan pada sudut pandang Pak Erlangga itu.
“dan mengenai siapa orang yang sudah menyelamatkan kamu itu, kamu tidak perlu tahu, ini menjadi rahasia saya dan orang itu, dia mendengar berita tentang kamu dan dia merasa perlu membela kamu, sehingga dia lakukan itu, kamu dapet salam dari dia, saya minta maaf untuk semua yang sudah terjadi antara kami dan kalian, pejuang kampus ini, sekarang kamu boleh keluar dari ruangan saya, terima kasih”, ujar Pak Erlangga. Faruq tersenyum puas, akhirnya usaha mereka menuai hasil. Hanya tinggal menunggu hasil, semuanya pasti terungkap.

***
Aku Rini, saksi dari perjuangan mereka, aku saat itu memang hanya seorang mahasiswa baru yang notabene belum begitu mengenal kampus, tapi abangku menceritakan banyak hal, dan aku juga antusias untuk lebih jauh mengenal kampusku, mengenalkanku tentang artinya menjadi seorang mahasiswa. Bagaimana seharusnya aku menjadi pemuda bangsa ini, aku sangat bangga pernah menjadi orang yang berada diantara mereka.
Setelah Pak dekan memanggil Faruq memang benar kasus itu diusut oleh pihak fakultas, meskipun alot karena tersusun amat rapi akhirnya masalah itu terungkap juga. Bang Fahmi dikeluarkan dari kampus karena terbukti menyalah gunakan amanahnya dengan menyelewengkan beasiswa itu kepada orang yang tidak berhak. Akhirnya sekarang semua menjadi stabil kembali, dan beasiswa sekarang selalu jatuh pada orang yang tepat.
Saat ini aku meneruskan perjuangan Bang Doni, menjalankan tugas sebagai Ketua DPM terpilih hingga setahun kedepan, meskipun aku seorang perempuan, dan dulu terkesan sangat polos, tapi aku banyak belajar untuk menjadi dewasa dan bertanggung jawab atas setiap ucapan dan perbuatanku. mereka semua sudah lulus dan memiliki kehidupan masing-masing, tapi masih tetap berjuang untuk negeri ini. Sejarahpun telah menuliskan nama mereka di kampus ini. Mereka adalah pelukis senja, menjadikannya berwarna saat matahari mulai tenggelam dan memberikan terang saat kegelapan mulai datang.

THE END